Kamis, 09 Jul 2020
radarkediri
Home > Features
icon featured
Features

Mengenal Susilo, Penemu Fosil Sejumlah Hewan Purba di Nganjuk

Dijuluki Mantri Balung oleh Teman Sekantor

29 Juni 2020, 12: 45: 39 WIB | editor : Adi Nugroho

Mantri

PENGHARGAAN: Susilo (kanan) menunjukkan piagam yang didapat dari Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran atas jasanya mengumpulkan fosil binatang purba. (Rekian - radarkediri.id)

Share this          

Upaya Susilo mengumpulkan serpihan fosil di hutan Tritik, Rejoso selama delapan tahun berbuah penghargaan. Dia dianggap berjasa dalam penyelamatan bukti sejarah tua. Jumat (26/6) lalu, pria asal Kelurahan Ganungkidul, Kota Nganjuk itu mendapat penghargaan dari Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran.

REKIAN, KOTA, JP Radar Nganjuk

Awal perkenalan Susilo terhadap fosil sama sekali tak direncanakan. Pria 51 tahun itu dulunya merupakan penggemar batu akik. Hingga kini pun jejak-jejak kecintaannya terhadap batu tua itu masih bisa terlihat di rumahnya yang asri di Kelurahan Ganungkidul, Kota Nganjuk.

Halaman rumahnya tidak hanya diisi berbagai jenis bunga. Melainkan, berbagai jenis batu alam dibiarkan berserakan di sana. “Dulunya memang penggemar akik,” ujar pria yang bekerja di Perhutani Nganjuk ini mengawali cerita.

Adalah pekerjaannya sebagai mantri Perhutani Nganjuk yang mengenalkannya pada fosil. Sus, demikian dia biasa disapa, mulai bertugas patroli di kawasan hutan Desa Tritik, Rejoso sejak 2012 lalu. Sambil berkeliling mengawasi hutan, bapak dua anak ini punya kebiasaan mencari batu alam di dalam hutan.

Kebiasaan blusukan itulah yang mempertemukannya dengan fosil tulang hewan purba. “Saya kira itu batu, saat digosok muncul seratnya,” kenangnya. Setelah beberapa kali menggosok, dia tahu jika fosil tulang itu tidak bisa dijadikan akik. “Dari sana saya tahu kalau itu fosil,” lanjutnya.

Karena gagal jadi akik, dia lantas mencari lagi benda lainnya di sekitar temuan awal. Dari situ ia lantas menemukan fosil gigi yang sudah menghitam serta benda lain seperti tanduk. “Saya kira gigi yang warnanya sudah hitam itu adalah kuku,” terangnya.

Rasa penasarannya semakin menjadi-jadi ketika benda-benda lain yang serupa bermunculan di hutan Tritik. “Sebelum kenal Pak Amin (Amin Fuadi dari Disparporabud Nganjuk, Red), fosil gading saya bongkar banyak yang rusak dan patah,” tuturnya sembari menyebut dirinya banyak menemukan tulang, tanduk, gigi hingga gading gajah.

Kala itu, Sus masih belum percaya jika benda-benda yang dia temukan itu adalah fosil hewan purba. Dia lantas mencari tahu sendiri tentang benda temuannya itu. Tidak hanya dari internet, lelaki asal Magetan ini datang sendiri ke Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran (BPSMPS) di Sragen, Jawa Tengah.

Seperti halnya studi banding, dia melihat berbagai koleksi fosil yang ada di sana. Dari kunjungannya itu, lulusan salah satu SMA di Magetan itu baru percaya jika benda yang ditemukan adalah fosil hewan purba. Sebab, bentuk benda yang ditemukan di hutan Tritik dengan di Sangiran sama.

Benda yang dimaksud adalah gading gajak sepanjang 260 sentimeter dan diameter 17 sentimeter. Meski benda itu rusak karena dipukul menggunakan palu, Sus tetap membawa pulang serpihan tulang tersebut. “Saya masukkan karung, saat di kantor teman-teman biasa mengolok saya dengan sapaan mantri balung (tulang, Red),” bebernya sambil tertawa.

Tak cukup sekali, hampir setiap patroli pria asli Magetan ini kerap membawa pulang satu karung serpihan tulang. Jumlah itu semakin banyak dan menumpuk di rumahnya.

Karena kebiasaannya itu, Sus kerap diomeli sang istri yang menganggap benda itu tidak ada gunanya. “Katanya tidak bisa dijadikan sup,” kenang pria yang kini menjabat Kaur TU PKPH Tamanan ini.

Bukannya mundur karena sering diomeli istrinya, Sus justru semakin cinta dengan fosil. Pada 2015 lalu dia nekat ikut pameran yang diadakan salah satu bank BUMN di Nganjuk.

Saat itu tidak ada yang percaya jika fosil temuan Susilo itu asli. Tidak sedikit yang meragukan jika ada gajah purba di Nganjuk. Respons negatif itu sempat membuatnya putus asa dan enggan mengumpulkan fosil lagi.

Pasalnya, Susilo sengaja ikut pameran untuk membuat warga Nganjuk percaya jika Kota Angin juga memiliki sejarah purba. Tidak hanya Ngawi, Sragen, dan kota-kota lainnya.

Meski sempat putus asa, belakangan dia kembali bersemangat setelah

Kasi Sejarah, Seni Tradisi, Museum dan Kepurbakalaan Disparporabud Nganjuk Amin Fuadi mengajaknya melakukan penelusuran ulang di hutan Tritik. “Setelah kami pastikan benda-benda itu dari hutan Tritik, akhirnya kami lakukan pendekatan ke Pak Sus yang akhirnya bersedia benda temuannya dibawa ke museum Anjuk Ladang,” sambung Amin.

Bagi Amin, Susilo layak diberi penghargaan karena sumbangsihnya untuk penemuan fosil cukup beragam. “Ada 14 jenis fosil hewan purba yang dia temukan,” lanjutnya. Untuk jenis gajah purba ada dua yakni stegodon dan elephase. Elephase adalah gajah purba dengan ukuran lebih kecil. Diperkirakan berusia 500 ribu sampai 800 ribu tahun yang lalu.

Tak hanya itu, Susilo juga menemukan fosil kerang laut, fosil kudanil, rusa purba, kura-kura, banteng, kerbau, harimau dan burung. Semuanya diserahkan ke Museum Anjuk Ladang. “Kita semua berharap temuan ini semakin memperkuat sejarah tua di Nganjuk,” urai Amin.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia