Kamis, 09 Jul 2020
radarkediri
Home > Kolom
icon featured
Kolom

Verbalisasi Aurat

29 Juni 2020, 14: 10: 59 WIB | editor : Adi Nugroho

Oleh : Suko Susilo

Oleh : Suko Susilo (Ilustrasi : Afrizal Saiful Mahbub)

Share this          

“Mari kita kendalikan diri untuk tidak mengedarkan gambar porno, karena anak ‘di bawah umur’ dengan leluasa bisa tahu apa yang berlangsung di lingkaran ‘dunia dewasa’ berkat HP.”

Oleh : Suko Susilo

Saya kerap mendapat kiriman berbagai gambar dalam sejumlah grup WhatsApp (WA) yang saya ikuti. Gambar yang sekadar kelakar, yang memancing pemahaman ‘ngeres’ dan kesenangan sesaat, sampai yang memaksa saya untuk memahami secara politis, seringkali mampir di handphone (HP) saya. Semua saya lihat, tentu dengan pemahaman sesuai kepentingan saya.

Gambar porno dan merangsang syahwat termasuk yang sering muncul. Tentu saya tak bermaksud mengabarkan bahwa saya anti pada berbagai gambar tersebut. Tetapi, jujur setelah saya lihat sepintas langsung saya delete sekalipun yakin bahwa hal semacam itu akan terus berulang.

Kemajuan teknologi informasi menjadikan kita sangat sulit mengontrol. Apalagi memberantas secara keseluruhan peredaran berbagai gambar porno. Karena, berbagai gambar jenis itu masih tersebar di sekitar kita. Baik secara terbuka maupun sembunyi-sembunyi. Sehingga, menangkal berbagai gambar berkategori porno itu hampir muskil.

Saya tidak tertarik untuk menganjurkan pemerintah melarang atau justru membolehkan terjadinya verbalisasi aurat lewat berbagai gambar. Sekalipun kita semua tahu bahwa aurat sesungguhnya harus dirahasiakan dan mengandung nilai kesucian. Sebab, semakin dilarang akan cenderung semakin menimbulkan rasa penasaran untuk diketahui atau dinikmati.

Beberapa tahun lalu, saya bersama sejumlah teman pergi ke Jogjakarta. Di perjalanan, tepatnya di Jalan Slamet Riyadi Solo, kami mendapati bule perempuan bercelana pendek berjalan di trotoar. Dr Anis (dosen IAIN Kediri) melihat bule pirang tersebut sembari nyeletuk bahwa ada ‘narkolema’ di kiri jalan.

Sebenarnya mata saya cukup terlatih melihat pemandangan sejenis itu. Tapi sambil bergaya celingukan saya tanyakan apa maksud istilah ‘narkolema’ itu. Beberapa saat ia belum menjawab pertanyaan saya. Mungkin dianggapnya saya pura-pura tidak tahu. Sesaat kemudian ia baru menjawab bahwa ‘narkolema’ itu akronim dari narkoba lewat mata.

Dijelaskannya, bahwa matapun bisa memfasilitasi liarnya fantasi layaknya narkoba jika melihat orang tampil mengumbar aurat. Begitu juga jika melihat gambar porno. Segala pemandangan yang memicu syahwat, bisa menghasilkan fantasi yang menggoda. Fantasi yang kadangkala menjerumuskan atau setidaknya dapat mengganggu konsentrasi ibadah.

Untung saja saat itu bukan Ramadan. Seandainya peristiwa itu terjadi di Ramadhan tentu sedikit banyak akan memengaruhi nilai ibadah puasa saya. Puasa menjadi tidak bernilai optimal karena imajinasi beredar ke mana-mana.

Beredarnya berbagai gambar porno di HP alhamdulillah tak terjadi seperti sebelum puasa. Bahkan sampai hari ini tak ada gambar jenis itu menyelinap ke HP saya. Semoga keadaan ini bisa dipertahankan.

Memang tak perlu ada larangan. Tapi karena tingkat kematangan orang dalam memahami berbagai gambar yang muncul beredar dari HP ke HP itu berbeda maka kehati-hatian kita sangat diperlukan.  Hati-hati melihat, menikmati, apalagi men-share ke berbagai jaringan yang kita miliki.

Saat ini, masing-masing individu telah menjadi warga masyarakat global. Segala batas kultural, teritorial, sosial, bahkan batas usia, semua sudah meleleh. Begitu juga batas jenis kelamin. Sekarang, hampir semua pria tahu detail ‘urusan perempuan’, begitu juga sebaliknya. Sekalipun untuk soal yang semula paling rahasia, kini diobral melalui media yang setiap saat dapat dilihat.

Akan menjadi baik jika mulai sekarang kita ikut memperketat peredaran verbalisasi aurat. Jangan sembarangan men-share gambar apapun yang berbau porno.  Kecuali agar tak menghadirkan narkolema, tentu kita semua ingin menyelamatkan generasi mendatang agar  tak matang sebelum waktunya datang. Karena, di era teknologi informasi ini, anak-anak ‘di bawah umur’ dengan leluasa bisa tahu, bahkan mengalami apa yang berlangsung di lingkaran ‘dunia dewasa’ berkat sarana HP. (Penulis adalah pemerhati sosial)

 

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia