Kamis, 09 Jul 2020
radarkediri
Home > Politik
icon featured
Politik

Info Korona Kediri: Banyak yang Langgar Batas

Kabupaten Kediri Tambah Tiga Kasus Positif

29 Juni 2020, 13: 10: 59 WIB | editor : Adi Nugroho

Korona di Kediri

Korona di Kediri (Grafis : Syahrul Mubarok)

Share this          

KOTA, JP Radar Kediri – Upaya pemkot menutup beberapa ruang terbuka hijau (RTH) belum sepenuhnya efektif mengurangi kerumunan. Banyak warga kota yang masih nekat memanfaatkan lokasi-lokasi itu untuk beraktivitas seperti berolahraga pagi. Mereka melakukan itu di Jembatan Lama dan di Taman Brantas.

Mereka juga nekat memasuki area yang telah diberi batas dan tanda larangan masuk. Seperti di Taman Brantas, beberapa orang masuk dari tempat yang tali pembatasnya telah rusak. Yaitu di sisi selatan. Sementara sepeda yang dia bawa dia angkat. Setelah masuk dia kemudian bermain di BMX arena.

Pesepeda itu bukan satu-satunya yang nekat melanggar larangan masuk Taman Brantas. Masih ada lagi orang yang memilih duduk-duduk di kursi taman.

Kabid Trantibum Satpol PP Kota Kediri Nur Khamid menjelaskan bahwa pihaknya sudah datang ke Taman Brantas ketika patroli. Anggota yang bertugas memang mendapati beberapa warga berada di taman.

“Kami menyuruh mereka pulang karena keadaan taman seharusnya ditutup sementara untuk umum,” terangnya.

Nur Khamid menyayangkan adanya warga yang masih melakukan pelanggaran. Karena memang di sepanjang Taman Brantas sudah ditutup. Ditandai dengan pemasangan garis batas berwarna kuning agar tidak ada warga yang masuk.

Selain di Taman Brantas, Nur Khamid juga menjelaskan larangan serupa juga berlaku di Jembatan Lama Brantas. Meskipun masih ada juga warga kota yang bermain-main. Bila tepergok patroli satpol PP mereka akan diminta bubar.

“Belum ada perintah untuk membuka taman dan juga jembatan. Jadi sementara ini warga juga harus menaati,” tegas Nur Khamid.

Masih nekatnya warga masuk ke area yang ditutup kemungkinan juga karena beberapa penghalang yang rusak. Seperti penghalang di sisi barat yang patah salah satu penyangganya. Akhirnya pembatas itu dibiarkan tergeletak. Dan membuat celah bagi masyarakat untuk masuk.

 “Untuk yang rusak ini akan kami tindaklanjuti ke OPD terkait, ke dishub dan disbudparpora,” terang Nur Khamid.

Sementara itu, juru bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan (GTPP) COvid-19 Kota Kediri dr Fauzan Adima memang membenarkan bahwa memang masih belum ingin membuka taman di Kota Kediri. “Hingga hari ini (kemarin, Red) masih harus ditutup,” terangnya.

Penutupan ini, lanjut Fauzan, masih bersifat sementara. Ia menjelaskan bahwa penutupan tersebut dilakukan supaya tidak terjadi penularan dari orang tanpa gejala (OTG) yang belum berdeteksi atau munculnya klaster baru.

Fauzan menegaskan bahwa nantinya akan terus dievaluasi. Baik dari penegak perda, dalam kasus ini Satpol PP Kota Kediri. Bersama dengan masyarakat sekitar. Selama masyarakat masih tidak disiplin maka akan tetap ditutup sampai Kota Kediri dinyatakan zona hijau.

Untuk diketahui, saat ini tidak ada penambahan di Kota Kediri. Masih ada 25 orang terkonfirmasi positif yang dipantau dan dirawat. Sedangkan 33 orang yang sudah dinyatakan sembuh serta satu warga meninggal dunia.

Sementara itu, penambahan kasus terkonfirmasi positif Covid-19 masih terjadi di Kabupaten Kediri. Kemarin terdapat tiga tambahan lagi pasien. Dari keterangan Jubir Gugus Tugas Percepatan Penanganan (GTPP) Covid-19 dr Ahmad Chotib mereka yang positif ini berasal dari klaster yang berbeda.

"Rinciannya dari klaster Papua, klaster Sidoarjo, dan satu lagi klaster baru," ujar Chotib.

Untuk klaster Papua, merupakan warga Desa Pelem, Kecamatan Pare. Yang bersangkutan diduga tertular saat berada di Papua. Yang jelas, kata Chotib, pasien asal klaster ini baru pulang dari Papua beberapa waktu lalu.

"Saat ini sedang (menjalani) isolasi mandiri," jelasnya.

Sementara untuk klaster Sidoarjo merupakan pasien yang tertular dari kasus sebelumnya. Hanya, warga asal Desa Kandat, Kecamatan Kandat ini telah meninggal dunia sebelum hasil swab keluar. "Sebelumnya dirawat di RSUD Gambiran, Kota Kediri," tandas Chotib.

Untuk klaster baru, lagi-lagi dari Kecamatan Pare. Kali ini merupakan pasien asal DesaTertek. Karena kasus baru, saat ini dinkes tengah melakukan tracing untuk mengetahui dari mana yang bersangkutan tertular.

Sayangnya, pasien ini telah meninggal dunia sebelum hasil swab keluar. Yang bersangkutan mengalami gejala dan sebelumnya dirawat di RS HVA Toeloengredjo.

Dari tambahan kasus tadi malam saat ini terdapat 197 kasus positif Covid-19 di Kabupaten Kediri. Dengan rincian 144 orang dirawat, 41 orang sembuh, dan 12 orang meninggal.

Dengan masih meningkatnya jumlah kasus positif Covid-19 di Kabupaten Kediri, Chotib mengharapkan masyarakat benar-benar disiplin dalam menerapkan protokol kesehatan. Yaitu cuci tangan pakai sabun dengan air mengalir, jaga jarak, dan wajib memakai masker saat beraktivitas.

"Hanya dengan komitmen dan kerjasama seluruh pihak, kita dapat memutus mata rantai penularan Covid-19," pungkasnya. (syi/din/fud)

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia