Kamis, 09 Jul 2020
radarkediri
Home > Catatan
icon featured
Catatan

Masih Adakah Sekolah Favorit?

28 Juni 2020, 14: 25: 59 WIB | editor : Adi Nugroho

Masih Adakah Sekolah Favorit?

(ilustrasi : Afrizal Saiful Mahbub)

Share this          

“Pemerataan mutu pendidikan lebih dibutuhkan ketimbang cekcok masalah jarak rumah dengan sekolah tujuan.”

Oleh : Moch. Didin Saputro

Seleksi penerimaan peserta didik baru (PPDB) jalur zonasi sepertinya belum bisa diterima semua kalangan. Sebagian masyarakat masih memperdebatkan efektivitas jalur masuk sekolah negeri yang mempertimbangkan jarak rumah dengan instansi pendidikan tersebut. Persaingan agar bisa masuk sekolah favoritlah jadi salah satu penyebabnya.

Memang, siapa sih yang tak ingin putra-putrinya masuk sekolah favorit. Sekolah yang dahulu dinilai lebih unggul dalam hal akademik dibanding sekolah lain. Yang jelas sekolah itu dirasa bisa membuat siswa menjadi lebih ‘pintar’ dengan sederet prestasi. Baik untuk jenjang SMP negeri maupun SMA negeri.

Pada PPDB SMA tahun ini, untuk jalur zonasi mengambil kuota separo dari total pagu pada sekolah tujuan. Sementara jalur prestasi mengambil 30 persen. Sisanya yang 15 persen adalah jalur afirmasi dan 5 persen jatah untuk jalur perpindahan orang tua/wali.

Nah, pada jalur zonasi ini, apakah SMA yang selama ini menjadi favorit di Kabupaten Kediri masih menjadi incaran? Ternyata dua dua SMA negeri di Pare tetap menyandang gelar itu. Padahal dengan adanya zonasi sempat ada kerisauan bahwa status sekolah favorit itu bakal hilang.

Buktinya dari hasil pemeringkatan PPDB kemarin. Jika SMA lain di Kabupaten Kediri rata-rata pada jalur prestasi yakni gabungan nilai rapor dan rerata nilai ujian nasional tahun 2019, dua sekolah ini masih menjadi yang tertinggi.

SMAN 2 Pare misalnya, pendaftar yang berada di peringkat pertama nilainya adalah 91,29 dengan nilai terendah 84,5. Untuk SMAN 1 Pare yakni 86,2 dengan nilai terendah 83,23. Sementara SMA lain, rata-rata adalah dengan nilai tertinggi 85 ke bawah dengan nilai terendah dibawah angka 80,00. Kecuali SMAN 1 Grogol dengan nilai tertinggi 86,26 dan terendah 76,5. Pemeringkatan ini bukan berdasarkan jarak. Namun dari jalur prestasi yang diambil 30 persen dari total daya tampung masing-masing sekolah.

Tak hanya dilihat dari nilai. Untuk pemeringkatan dalam hal jarak pun juga menjadi patokan bahwa kedua sekolah yang ada di Jalan PK Bangsa itu tetap jadi idaman. Unruk SMAN 2 Pare paling jauh adalah 2 kilometer dan SMAN 1 Pare pakling jauh 1,5 kilometer. Sementara SMA lain di Kabupaten Kediri rata-rata lebih dari itu.

Menariknya, di sini yang diuntungkan adalah siswa dari desa yang dekat dengan dua sekolah tersebut. Sementara desa yang jaraknya lebih jauh tentu akan sulit masuk ke dua sekolah favorit ini. Itu kalau dilihat dari jarak. Tapi yang jelas jika ingin masuk sekolah favorit harus mempersiapkan diri sejak di bangku sekolah menengah pertama (SMP). Agar saat mendaftar bisa memanfaatkan jalur prestasi yang pagunya juga lumayan banyak.

Memang, dari problematika selama ini. Masyarakat hendaknya tak melulu mempermasalahkan zonasinya. Dari sini bisa dilihat, tidak sepenuhnya lulusan SMP yang nilainya tinggi itu tidak bisa sekolah di SMAN favorit. Mereka masih diberi kesempatan 30 persen bersaing di sekolah yang diinginkan dengan jalur prestasi.

Untuk siswa yang memiliki nilai pas-pasan dan rumahnya jauh dari SMA negeri lah yang bakal kesulitan. Di sinilah yang perlu diperhatikan. Yang pasti sekolah mereka harus berjuang meningkatkan kualitasnya. Tentu untuk mencetak lulusan dengan nilai yang dapat bersaing. Peran pemerintah daerah salah satu yang dibutuhkan. Pemerintah perlu menggenjot pemerataan kualitas pendidikan di daerahnya. Pasti bisa. (penulis adalah wartawan Jawa Pos Radar Kediri).

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia