Kamis, 09 Jul 2020
radarkediri
Home > Features
icon featured
Features

Bahagia kala Lihat Bocah Bawa Hasil Tanam

Tularkan Optimisme di Masa Pandemi

28 Juni 2020, 14: 30: 59 WIB | editor : Adi Nugroho

PENEBAR SEMANGAT : Arif Purwandi dan Munawaroh melakukan perawatan tanaman hidroponiknya di rumahnya, di Kelurahan Tosaren, Kecamatan Pesantren kemarin pagi.

PENEBAR SEMANGAT : Arif Purwandi dan Munawaroh melakukan perawatan tanaman hidroponiknya di rumahnya, di Kelurahan Tosaren, Kecamatan Pesantren kemarin pagi. (IQBAL SYAHRONI/JPRK)

Share this          

Pasutri ini tak punya pengalaman bercocok tanam maupun beternak lele. Hanya ketekunan dan semangat untuk belajar yang membuat mereka mampu melakukan. Kini, ilmu itu mereka tularkan ke orang lain.

Jalanan yang membelah wilayah Kelurahan Tosaren, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri, terlihat lengang di pagi itu. Hanya dua tiga kendaraan terlihat melintas. Suasana ramai baru terlihat di salah satu jalan yang masuk wilayah RT 17/RW 06. Beberapa bocah terlihat bersepeda. Diwarnai dengan canda tawa.

Bocah-bocah itu melintas di depan salah satu rumah yang halamannya terlihat asri. Penuh dengan tanaman. Yang di antara tanaman-tanaman itu ada wanita berkerudung cokelat muda. Wanita itu duduk di kursi roda. Tangannya terlihat sibuk mengatur isi bak-bak plastik yang ada di depannya.

Perempuan itu bernama Munawaroh. Yang ia lakukan saat itu adalah mengambil benih sayuran. Kemudian dipindahkan ke media tanam hidroponik. “Sudah mulai panen Mas. Ini sedang nanami benih lagi,” ujar perempuan 48 tahun itu.

Di halaman rumahnya terlihat penuh dengan sayuran yang ditanam dengan cara hidroponik. Terlihat sudah berpengalaman dengan waktu berkutat mencapai tahunan. Padahal dia baru beberapa bulan menggeluti dunia hidroponik itu. Tepatnya empat bulan ini. Bersama sang suami yang juga penyandang disabilitas, Arif Purwandi.

“Sama sekali (tidak punya pengalaman). Mulai dari nol Mas. (Belajar) bersama bapak (suaminya, Arif, Red),” terang Munawaroh disusul tawa lepas saat ditanya soal kemampuannya bercocok tanam hidroponik.

Pasutri ini menggeluti dunia hidroponik sejak awal pandemi korona masuk ke Indonesia. Saat itu, ketika dianjurkan pemerintah berdiam diri di rumah, mereka tak ingin menyerah. Lahan tidak produktif di depan rumahnya  mulai ditanami beberapa macam tumbuhan. Tidak langsung menggunakan media hidroponik. Namun di polybag dengan media tanah terlebih dahulu.

Tiga bulan pertama tidak berjalan mulus. Kendala banyak mengunjunginya. “Tanaman mati semua,” kenang Munawaroh.

Kemudian datang sepupunya. Kemudian membuatkan media untuk bertanam hidroponik. Ternyata, perlahan mulai berhasil.

Meskipun demikian, keberhasilan itu juga tak berjalan mulus. Justru ketika waktu panen pasutri ini kesulitan. Maklum, keduanya adalah penyandang disabilitas.  “Memang sengaja kami buat tingkat tiga ke atas saja. (Bila terlalu tinggi) susah nanti mengambilnya saat panen,” terang Munawaroh.

Kondisi fisik Munawaroh diperoleh sejak kecil. Dia cedera pinggul kala jatuh. Yang membuatnya tak bisa berjalan normal. Dia harus menggunakan kursi roda untuk bergerak.

Sementara sang suami juga ada permasalahan di bagian pinggang dan badan. Membuatnya harus menggunakan kruk atau tongkat penyangga bila berjalan.

“Disyukuri (kondisi ini) asal bisa dilakukan sendiri kami lakukan secara mandiri,” imbuhnya.

Beberapa saat kemudian sang suami Munawaroh keluar dari dalam rumah. Dia baru saja memberi makan lele di kamar mandi yang ada di belakang rumah. Kamar mandi itu sudah tak terpakai lagi. Karena itu dia manfaatkan beternak lele. Aktivitas ini juga dia lakukan sejak masa pandemi korona.

“Semua belajar dari internet serta dari saudara dan teman yang mampir, Alhamdulillah jadi bisa,” terang keduanya tersenyum.

Seperti belajar hidroponik, beternak lele juga tak dilalui dengan mulus. Selama dua bulan keduanya harus putar otak. Air di bak kerap keruh dan bau anyir. Mereka harus sering menguras. Mulai manual hingga menggunakan pompa air berfilter. “Ini Alhamdulillah sudah seminggu memakai filter dan pompa air. Tidak bau dan keruh  lagi,” ujar Arif.

Kini, aktivitas pasutri ini bisa dimanfaatkan para tetangga. Mereka banyak yang membeli sayuran ketika panen. Bahkan, pasutri ini juga menyediakan sayuran yang bisa diambil gratis oleh warga. “Aneka sayuran dari panen sendiri kami gantung. Entah dibeli atau kami bagi rasanya senang saja,” ucapnya.

Kebahagiaan paling besar adalah melihat anak-anak yang biasa mengaji di musala dekat rumahnya ikutan belajar bercocok tanam.  “Minggu lalu datang ke rumah. Berteriak kegirangan. Buk... buk, lihat tanamanku sudah tumbuh besar,” ucap Munawaroh menirukan perkataan bocah tersebut. Ada nada kebanggaan di perkataannya itu. (syi/fud)

Pagi Urus Tanaman, Sore Ajari Ngaji

Kesibukan pasutri Arif – Munawaroh tidak hanya berkutat mengurusi hidroponik dan ternak lele saja. Itu hanya mereka lakukan di pagi dan siang. Malamnya, mereka juga masih menyempatkan mengontrol.

Nah, sore hari keduanya juga sibuk. Memberi pengajaran baca Alquran pada bocah-bocah di lingkungannya. Tempatnya di Masjid Al Kayat yang ada di dekat rumah.

Pria 49 tahun ini mengatakan, ketika ada pandemi semua aktivitas yang melibatkan banyak orang diminta berhenti oleh pemerintah. Sang istri yang biasa mengajar ngaji menggantinya dengan  sistem online. Beda dengan dirinya yang tak biasa memberi pelajaran menggambar via online. Membuatnya hanya beraktivitas keseharian saja.

Kini, kebijakan Pemkot Kediri mulai longgar. Membolehkan aktivitas mengaji. Meskipun belum total. Munawaroh melakukan pengajaran dengan sistem bergantian. Sistem shift.

“Satu shift paling empat sampai delapan anak per jam per hari. Nanti gantian,” terangnya.

Munawaroh mengatakan, aktivitas mengaji daring tak bisa bertahan lama. Penyebabnya adalah sinyal dan efisiensi. Sinyal sering jelek. Karena itu mereka akhirnya hanya memberi tugas dan direkam. Setelah itu dikirim via WhatsApp.

Rumah pasangan ini sejak dulu tak pernah sepi. Sebelum beraktivitas hidroponik, pelataran rumah mereka beri rak buku lengkap dengan isinya. Siapa saja yang ingin membaca diperbolehkan.

Di lokasi itu yang kini ditambah dengan area  hidroponik dan ternak lele. Akhirnya membuat banyak tetangganya yang datang. Tak sekadar membaca buku tapi juga membeli sayuran hasil panen. Atau juga sekadar melihat-lihat tanaman hidroponik. “Kalau anak-anak biasanya main dan lihat-lihat lele sembari memberi makan,” kata Arif tertawa.

Keduanya terus berusaha di tengah pandemi Covid-19 ini agar terus produktif. Terus menghasilkan. Tak terlalu banyak memang. Tapi itu mampu membahagiakan hati mereka. Bahagia melihat ilmu yang mereka punya bisa dimanfaatkan oleh orang lain.(syi/fud)

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia