Kamis, 09 Jul 2020
radarkediri
Home > Features
icon featured
Features
Lansia yang 8 Bulan “Tinggal” di RSUD Nganjuk

Dibekali Sembako, Kini Dirawat di Panti Asuhan Ponorogo

28 Juni 2020, 18: 10: 59 WIB | editor : Adi Nugroho

PASRAH: Sukini, lansia lumpuh yang telantar dan tinggal 8 bulan di RSUD Nganjuk dimasukkan ke dalam ambulans untuk dibawa ke Panti Asuhan Lansia Dhuafa Trenggalek (24/6).

PASRAH: Sukini, lansia lumpuh yang telantar dan tinggal 8 bulan di RSUD Nganjuk dimasukkan ke dalam ambulans untuk dibawa ke Panti Asuhan Lansia Dhuafa Trenggalek (24/6). (sri utami- radarkediri.id)

Share this          

Dilema tentang perawatan Sukini, lansia yang telantar di Jombang dan delapan bulan  “tinggal” di RSUD Nganjuk, berakhir Rabu (24/6) lalu. Dia dievakuasi ke Panti Asuhan Lansia Dhuafa Ponorogo oleh dinas sosial pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak (dinsos PPPA) serta komunitas Nganjuk Peduli.

SRI UTAMI, NGANJUK, JP Radar Nganjuk 

“Aku arep digawa nyang endi (aku mau dibawa kemana, Red)?” tanya Sukini kepada Ketua Komunitas Nganjuk Peduli Supadi saat tubuhnya diangkat perawat RSUD Nganjuk, dan dimasukkan ke mobil ambulans Tim Reaksi Cepat (TRC) Dinsos PPPA Nganjuk Rabu (24/6) lalu. Jarum jam menunjukkan pukul 10.15. Sukini yang semula berada di ruang Asoka RSUD Nganjuk langsung dikeluarkan dari sana. 

Beberapa perawat mengangkat tubuh lansia itu ke brankar. Dia lantas dibawa ke lobi depan RSUD Nganjuk untuk dipindah ke dalam ambulans Dinsos PPA Nganjuk. Seperti biasanya, perempuan yang pagi itu memakai baju berwarna ungu itu hanya diam.

Dia memilih mengunci mulutnya sejak dari dalam kamar. Beberapa kali diajak berbicara oleh Sekretaris Dinsos PPPA Nganjuk Iit Herliyana dan Komunitas Nganjuk Peduli, Sukini bergeming. Dia baru memberi reaksi saat dimasukkan ke dalam ambulans.

Mendengar pertanyaan perem­puan yang selama beberapa bulan terakhir diam seribu bahasa itu, Abdi, sapaan akrab Ketua Nganjuk Peduli Supadi, yang duduk di sampingnya, langsung terkejut. Dia kaget mendengar suara Sukini yang “mahal” tersebut. 

Sembari tersenyum dan melirik ke arah Sukini, pria berusia 30 tahun itu mengaku akan membawa nenek berusia 70 tahun itu untuk jalan-jalan. “Ajenge mlampah-mlampah, Mbah. Dateng mal (Mau jalan-jalan, Mbah. Mau pergi ke mal,” gurau Abdi disambut senyum beberapa orang yang berada di dalam mobil.

Pagi itu, Abdi bersama staf Dinsos PPPA memang akan mengajak Sukini jalan-jalan. Perempuan yang sejak November 2019 lalu tinggal di RSUD Nganjuk itu dibawa ke Panti Asuhan Lansia Dhuafa Ponorogo. 

Jika biasanya pandangan Su­kini hanya terbatas pada tembok ruangan serta dokter dan pera­wat yang mengunju­nginya, Rabu lalu perempuan yang rambutnya sudah memu­tih itu melihat pemandangan berbeda. “Di sepanjang jalan lihat kanan-kiri terus. Mungkin heran,” tutur Abdi. 

Beberapa jam berada di dalam mobil, Sukini agaknya mulai tak sabar. Suara emasnya pun kembali keluar. “Kok suwi tenan. Apa jik adoh (Kok lama. Apa masih jauh, Red)?” tanyanya lagi saat mobil yang membawa lansia itu masih sampai di Trenggalek.

Untuk menenangkan Sukini, Abdi menyebut jika perjalanan mereka tinggal beberapa menit lagi. Selama sekitar tiga jam menempuh perjalanan dari Nganjuk ke Ponorogo, hanya dua kata itu yang terlontar dari mulut nenek tersebut. Selebih­nya, dia tetap diam. 

Tetapi, sikapnya berubah saat tiba di Panti Asuhan Lansia Dhuafa Ponorogo. Roti yang sejak dari Nganjuk hanya digeng­gamnya langsung dimakan. Perempuan yang lumpuh itu juga langsung berbincang dengan sesama lansia yang ada di sana. “Mungkin dia diam karena stres. Delapan bulan hanya tinggal di dalam ruangan. Begitu berada di tempat yang baru, dia mau berbicara,” tutur pria asal Dusun Tawangsari, Desa Kedungombo, Tanjunganom itu.

Kisah hidup Sukini memang tergolong tragis. Awal November lalu, dia ditemukan tergeletak lemas dan sakit di salah satu pasar di Jombang. Petugas Dinsos Jombang pun mengontak Dinsos PPPA Nganjuk. Sebab, perem­puan tua itu mengantongi KTP yang beralamat di Kelurahan Payaman, Kecamatan Nganjuk. 

Sukini yang dalam kondisi lemah lantas dibawa ke RSUD Nganjuk untuk perawatan. “Kami lakukan pelacakan (di Kelurahan Payaman, Red) tidak ada yang tahu. Tidak ada yang kenal keluarganya,” sambung Kepala Dinsos PPPA Nganjuk Nafhan Tohawi.

Setelah ditelusuri lebih jauh, ternyata alamat yang tertera di KTP tersebut merujuk pada Pasar Wage II. Lokasi yang sejak awal 2019 lalu mulai diratakan untuk dibangun Taman Nyawiji. “KTP yang dipegang Mbah Sukini masih KTP lama. KTP berwarna kuning,” lanjut Nafhan. 

Ketidakjelasan tempat tinggal Sukini ini yang lantas mem­buatnya harus tinggal lama di RSUD Nganjuk. Sebab, dinsos juga tidak bisa memulangkan lansia tersebut. Upaya dinsos untuk mengevakuasi perempuan berkulit putih itu ke panti asuhan menemui jalan buntu.

Semua panti asuhan di bawah Kementerian Sosial (Kemensos) di beberapa daerah menyatakan tidak bisa menerima Sukini. “Salah satu syarat di panti jompo itu orangnya harus mandiri. Bisa beraktivitas sendiri. Mbah Sukini ini istilahnya kembang amben (lumpuh, Red),” terang Nafhan.

Dilema perawatan perempuan bertubuh kurus ini rupanya sampai ke telinga Bupati Novi Rahman Hidhayat dan Ketua TP PKK Yuni Sophia. Sabtu (30/5) lalu pasutri itu menjenguknya. Saat itu pula, Yuni sebagai pembimbing Nganjuk Peduli meminta komunitas tersebut mencarikan panti asuhan untuk perawatan Sukini. “Saya langsung ke Ponorogo. Kebetulan Nganjuk Peduli sudah sering bekerja sama dengan Panti Asuhan Dhuafa Ponorogo. Mereka mau menerima,” tutur Abdi. 

Awal Juni lalu Abdi langsung berkoordinasi dengan dinsos PPPA terkait rencana evakuasi. Akhirnya, Rabu (24/6) lalu disepakati untuk mengevakuasi Sukini ke Kota Reog itu. Jika saat di RSUD Nganjuk para perawat dan dokter biasa iuran untuk pemenuhan kebutuhan Sukini, untuk pemberian uang saku giliran pegawai dinsos PPPA yang iuran dadakan. “Kami bekali uang dan sembako untuk panti asuhan di Ponorogo,” sahut Nafhan lagi.    

Untuk memastikan Sukini dirawat dengan baik di panti asuhan tersebut, baik dinsos dan komunitas Nganjuk Peduli rutin melakukan komunikasi. “Makannya senang. Badannya juga sehat. Kami berharap tidak ada lagi orang telantar seperti Mbah Sukini di Nganjuk,” tandas Abdi membe­narkan jika komunitas­nya bersinergi dengan dinsos PPPA. (*)

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia