Kamis, 09 Jul 2020
radarkediri
Home > Features
icon featured
Features

Wasimin, Tukang Becak di Guyangan yang Rumahnya Terbakar

Pakaian dari Sumbangan Tetangga

27 Juni 2020, 13: 37: 59 WIB | editor : Adi Nugroho

LUDES: Kapolsek Bagor AKP Tommi Hermanto (kanan) mengecek kondisi rumah Wasimin (baju biru) yang habis terbakar di Kelurahan Guyangan, Bagor, kemarin.

LUDES: Kapolsek Bagor AKP Tommi Hermanto (kanan) mengecek kondisi rumah Wasimin (baju biru) yang habis terbakar di Kelurahan Guyangan, Bagor, kemarin. (Andhika attar - radarkediri)

Share this          

Kebakaran hebat yang menimpa rumah Wasimin, 63, pada Rabu (24/6) tengah malam membuat harta bendanya ludes. Tak hanya harus mengungsi di rumah saudara, baju yang dipakai pun sumbangan dari tetangga.

ANDHIKA ATTAR, BAGOR, JP Radar Nganjuk.

Wasimin sedang duduk berjongkok di halaman rumahnya di Kelurahan Guyangan, Bagor, kemarin. Matanya terpaku pada sebuah pipa besi di hadapannya. Ia sedang menggergaji pipa yang tak lain dari bekas rumahnya yang habis terbakar pada Rabu (24/6) tengah malam lalu.

Ya. pria yang sehari-hari bekerja sebagai tukang becak itu baru saja terkena musibah. Rumahnya terbakar lantaran korsleting listrik. Diduga, berasal dari beberapa kabel di salah satu kamar di rumahnya. 

Akibat kebakaran tersebut, seluruh harta benda miliknya turut menjadi abu. “Habis semua. Tidak ada yang bersisa. Hanya tembok ini saja,” ujar pria berumur 63 tahun tersebut pasrah.

Kala kejadian berlangsung, kebetulan hanya dia yang ada di rumah. Sumarni, 52, istrinya sedang berada di Surabaya. Di sana, ia membantu adiknya berdagang. Begitu pula dengan Ragil Ilham, 15, anak terakhir pasutri tersebut juga sedang tidak berada di rumah.

Merasa kesepian di rumah, Wasimin memutuskan untuk ke rumah tetangganya. Di sana, ia bermain catur sejak sekitar pukul 23.00. Namun, selang 30 menit kemudian ada warga yang memberitahu dirinya bahwa rumahnya terbakar. Panik, ia dan warga langsung berusaha memadamkan si jago merah. Namun, api sudah telanjur membesar. “Saya sempat berusaha menyelamat­kan sepeda motor, tapi sudah tidak bisa,” akunya.

Bahkan, ia hampir saja tertim­pa reruntuhan atap yang terba­kar jika saja tidak ditarik tetang­ganya ke luar rumah. Kobaran api baru dapat dipadamkan setelah petugas Damkar Nganjuk turun tangan.

Alat elektronik, kendaraan, perabotan rumah tangga, lemari, dan isi rumah lainnya ludes. Rumahnya kini pun hanya menyisakan dinding di empat sisi tanpa atap.

Wasimin mengaku sudah tidak bisa lagi menyelamatkan harta benda miliknya. Bahkan, surat-surat berharga dan dokumen miliknya dan keluarga juga habis dilalap api. Mulai dari rapor, ijazah, sertifikat tanah, dan dokumen kependudukan lainnya. “Anak ragil saya ini kan habis naik ke kelas tiga (IX, Red) SMP. Baru saja dapat rapor. Akhirnya juga ikut terbakar,” ungkap pria berkulit legam tersebut.

Berikut dengan seragam dan perlengkapan sekolah milik Ragil lainnya. Sudah tidak ada yang tersisa lagi. Bahkan, sekadar baju ganti untuk Wasimin dan keluarga juga tidak ada. Berun­tung, warga setempat memiliki rasa kekeluargaan yang tinggi.

Beberapa tetangganya langsung berbondong-bondong mem­bantu Wasimin pada Kamis (25/6) pagi. Mulai membersihkan sisa reruntuhan dan kebakaran, hingga memberikan bantuan pakaian layak pakai. “Ini pakaian yang saya gunakan juga dari tetangga,” tutur pria berkumis tipis tersebut.

Ia mengaku sama sekali tidak meminta sumbangan atau bantuan tersebut. Namun, hal tersebut murni dari inisiatif tetangga yang ingin menolong­nya. Tanpa ada koordinasi dan birokrasi apa pun, warga di sana terlihat guyub rukun.

“Tiba-tiba saja keesokan hari setelah kebakaran itu langsung dibantu tetangga sekitar,” sambung Wasimin. 

Bahkan, bantuan yang diberikan masyarakat setempat hingga ke persoalan kecil namun berarti besar. Salah satunya adalah alat makan sehari-hari.

Sementara, untuk urusan tidur Wasimin sekeluarga kini menumpang di rumah keluarga besarnya. Kebetulan, rumahnya bersebelahan. Beruntung, pada saat kejadian kebakaran tersebut, kobaran api tidak sampai merembet ke rumah lainnya. “Masih saudara kandung. Akhirnya sekarang tidurnya di sini,” timpalnya sembari menunjuk rumah yang berdekatan itu.

Meski sudah mendapat tempat berteduh sementara, tak urung Wasimin bingung juga. Sebab, saat ini dirinya tidak memiliki pekerjaan pasti. Aktivitasnya menarik becak pun telah lama berhenti. 

Ia hanya bekerja apabila ada orang yang membutuhkan tenaganya saja. “Sekarang masih serabutan. Makanya istri saya bantu-bantu adik yang di Surabaya,” ceritanya.

Dengan kondisinya tersebut, dia berharap agar ada pihak yang bisa membantu meri­ngankan bebannya. Terutama untuk biaya perbaikan rumah. Sebab, pria yang tercatat sebagai penerima program keluarga harapan (PKH) itu tidak mempunyai tabungan untuk bisa memperbaiki rumahnya. 

Sementara itu, bantuan untuk Wasimin tidak hanya datang dari para tetangga. Kemarin, dia menerima bantuan uang dan sembako dari Polsek Bagor. “Bukan apa-apa, tapi sembako dapat meringankan bebannya,” ujar Kapolsek Bagor AKP Tommi Hermanto yang kemarin menyerahkan dua paket sembko.

Polisi dengan tiga balok emas itu juga mengecek langsung kondisi rumah pascakebakaran. Ia membenarkan bahwa penyebab kebakaran adalah korsleting listrik. “Kami mengim­bau kepada masyarakat, harus memperhatikan sistem pema­sangan kabel listrik. Jangan sampai asal pasang, bahaya!” pesannya. (ut)

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia