Kamis, 09 Jul 2020
radarkediri
Home > Ekonomi
icon featured
Ekonomi

Stok Terbatas, Harga Bawang Merah Meroket

Petani Brambang di Lereng Wilis Ikut Gembira

27 Juni 2020, 12: 05: 59 WIB | editor : Adi Nugroho

HARGA TINGGI: Santoso, 23, petani bawang merah di Desa Bajulan, Loceret menunjukkan bawang merah yang ditanam di areal hutan Desa Bajulan, Loceret.

HARGA TINGGI: Santoso, 23, petani bawang merah di Desa Bajulan, Loceret menunjukkan bawang merah yang ditanam di areal hutan Desa Bajulan, Loceret. (rekian- radarkediri.id)

Share this          

LOCERET, JP Radar Nganjuk-Panen yang belum merata hingga akhir Juni ini membuat stok bawang merah di Kota Angin belum maksimal. Akibatnya, harga kembali meroket hingga menyentuh Rp 35 ribu per kilogram di tingkat petani. Harga tersebut membuat penanam brambang bergembira.

Seperti dikatakan Santoso, 23. Pria asal Desa Bajulan, Loceret itu mengaku senang karena harga bawang merah Juni ini sedang bagus. Kebetulan, pria yang nekat menanam bawang merah di lereng gunung ini sedang panen. “Kualitasnya baik. Harganya tinggi,” ujar Santoso sambil tersenyum.

Lebih lanjut Santoso menga­takan, menanam bawang merah di dataran tinggi memiliki tan­tangan tersendiri. Penanaman bawang merah yang dilakukan di hutan membuat biaya tanam menjadi lebih mahal dibanding di dataran rendah. 

Karenanya, begitu harga bawang merah yang sebelumnya Rp 18 ribu hingga Rp 25 ribu per kilogram di tingkat petani naik hingga Rp 35 ribu per kilogram, dia mengaku senang. “Bisa untuk tambah modal tanam September nanti,” lanjutnya semringah. 

Terpisah, Sumali, 40, petani lain asal Desa Bajulan, Loceret berharap ke depan akan semakin banyak petani di desanya yang berani menanam bawang merah. “Selama ini tanaman brambang di Bajulan baru sekitar 20 hektare,” ungkap pria yang menginisasi penanaman bawang merah di hutan itu.

Selain biaya tanam yang tinggi, menurut Sumali bawang merah yang diproduksi di lereng gunung Wilis itu belum bisa dijadikan bibit. “Untuk bibitnya tetap diambil dari Bagor,” beber Sumali yang mengaku tetap semangat menanam bawang merah.

Sementara itu, Kabid Horti­kultura Agus Sulistiyo yang dikonfirmasi tentang harga bawang merah yang mahal menyebut hal itu karena areal panenan belum luas. “Sampai bulan Juni ini suplai ke pasar belum maksimal,” katanya.

Diakui Agus, produktivitas bawang merah tahun ini tak sebaik tahun lalu.

“Sampai saat ini produksi bawang hanya bisa mencapai tujuh sampai delapan ton per hektare,” bebernya memprediksi harga tinggi bawang merah masih terjadi hingga akhir Juni ini.

Adapun mulai Juli nanti, menurut Agus harga bawang merah bisa mulai stabil. Yaitu, di kisaran Rp 20 ribu sampai Rp 25 ribu per kilogram. “Yang bisa membuat harga bawang turun kalau produknya (panenan, Red) over,” terangnya.

Untuk diketahui, meski panenan belum banyak hingga akhir Juni ini, menurut Agus produksi bawang merah sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan daerah. Bahkan juga dibawa ke luar daerah.

Terkait adanya tanaman bawang merah di Desa Bajulan, Loceret, menurut Agus tanaman di sana bisa jadi target perluasan areal tanam. “Selama ini belum tersentuh, ke depan lahan di areal hutan ini bisa jadi target tambahan luas lahan untuk bawang merah,” jelasnya. (rq/ut) 

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia