Kamis, 13 Aug 2020
radarkediri
Home > Hukum & Kriminal
icon featured
Hukum & Kriminal

Yang Sukarela Tak Dihukum

Efektivitas Rehab Penyalahguna Narkoba

25 Juni 2020, 21: 54: 23 WIB | editor : Adi Nugroho

Rehabilitasi Pengguna Narkoba

Rehabilitasi Pengguna Narkoba (ilustrasi : Afrizal Saiful Mahbub)

Share this          

Peringatan Hari Anti Narkotika Internasional (HANI) 26 Juni ini menggemakan hidup sehat, produktif, tanpa narkoba. Sejauh mana efektivitas rehabilitasi penyalahgunanya?   

Peredaran obat keras maupun narkotika di Kota Kediri masih tinggi. Banyak pengedar maupun penyalahgunanya diamankan polisi. Di antara mereka menjalani rehabilitasi. Sampai pertengahan 2020 ini, data Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Kediri mencatat, setidaknya ada tujuh pasien kasus narkoba rawat jalan.

Kepala BNN Kota Kediri AKBP Bunawar mengatakan, rata-rata mereka masih pengguna awal. “Ketujuh penyalahguna melakukan rawat jalan karena setelah diasesmen ketergantungannya termasuk kurang,” ujarnya.

Menariknya, ketujuh orang tersebut datang ke BNN atas dasar kemauan sendiri. Menurut Bunawar, setiap pengguna narkoba akan diasesemen terlebih dahulu. Itu sebelum proses penyembuhan. Termasuk yang dirujuk dari hasil penangkapan kepolisian. Nantinya tetap diasesmen dahulu sebelum proses rehabilitasi. “Asesmen terpadu yang dirujuk penyidik. Memang prosesnya seperti itu untuk mengetahui ketergantungan dan keterlibatannya,” paparnya.

Selama ini, lanjut Bunawar, penyalahguna yang dirujuk kepolisian tidak ada yang sukarela. Ini berbeda dengan yang tidak melalui proses hukum. Biasanya sukarela ingin direhab. Makanya, bagi penyalahguna yang menjalani proses hukum, Bunawar menyatakan, rehabnya tetap jalan namun proses hukum tetap berlanjut. “Untuk rehabilitasinya di lembaga pemasyarakatan. Ada jadwal-jadwal tertentu untuk proses pendampingan,” terangnya.

Selama 2019, BNN Kota Kediri mencatat ada 17 orang yang direhabilitasi. Rinciannya, 15 laki-laki dan 2 perempuan. Rentang usianya didominasi 25 sampai 39 tahun. Adapun jenis zat yang disalahgunakan terdata 5 kasus pil dobel L dan 12 kasus sabu-sabu (SS).

Di Kabupaten Kediri, penyalahguna narkoba didominasi rentang usia 25 - 40 tahun. Peringkat kedua rentang 15 - 25 tahun. Dan terakhir 41 hingga 65 tahun. “Yang direhab BNN Kabupaten Kediri didominasi usia produktif. Di antara 25 sampai 40 tahun,” ungkap Kepala BNN Kabupaten Kediri AKBP Lilik Dewi Indarwati kemarin.

Mereka yang direhabilitasi rata-rata masih pengguna awal. Karena prosesnya rehab dengan rawat jalan. Sementara yang sudah kecanduan, perawatannya harus menginap. Untuk itu, BNN bekerja sama dengan rumah sakit (RS) dan beberapa pondok pesantren (ponpes) di kabupaten. Di antaranya Ponpes Al-Ghozali di Desa Duwet, Kecamatan Wates. “Tahun ini yang sudah kita rehabilitasi 30 orang. Beberapa sudah sembuh,” terang Dewi.

Total pengguna yang direhab pada 2019 sebanyak 45 orang. Di antara mereka, 24 di antaranya datang sukarela. Sementara 21 lainnya dari hasil penjangkauan pada masyarakat dan screening ke sekolah. “Bagi pengguna yang ingin direhab di BNN Kabupaten Kediri tak perlu takut. Tidak akan dihukum, justru mendapat fasilitas seperti konseling dan lain-lain,” tutur Dewi.

Fasilitas rehabilitasi, menurutnya, tak dipungut biaya. Selain itu, privasi pengguna dirahasiakan. Dewi mengungkapkan, zat narkoba yang disalahgunakan kebanyakan adalah pil dobel L. Kuantitasnya mencapai 60 persen. Sementara SS 25 persen dan ganja 5 persen. “Sisanya mengonsumsi lebih dari 1 zat atau multiple zat,” imbuhnya.

Selama ini upaya pencegahan BNN dengan memberi edukasi maupun sosialisasi pada masyarakat melalui media massa. Terlebih program pencegahan pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba (P4GN).

Sasarannya adalah instansi pemerintahan, swasta, hingga lingkungan pendidikan dan masyarakat. Menurut Dewi, pada 2019 BNN Kabupaten Kediri sudah sosialisasi ke 203 instansi.

Pada tahun ini, BNN kabupaten lebih banyak sosialisasi lewat media daring. Hal tersebut karena mengikuti protokol pencegahan penularan Covid-19. “Jadi kita lebih banyak memanfaatkan media daring karena pandemi ini ya,” pungkas Dewi.

Terpisah, Ketua Institusi Penerima Wajib Lapor (IPWL) Eklesia Kota Kediri Jesicha Yenny Susanty menyebut, pihaknya tidak hanya mencegah. Namun juga dibarengi dengan rehabilitasi. “Karena untuk menyelesaikan masalah ini harus keduanya. Kalau hanya satu sisi yang diselesaikan, tidak akan berhasil,” ungkapnya.

Menurut Jesicha, penyalahguna narkoba yang sudah direhabilitasi kemudian keluar masih rentan akan hal-hal seperti ini lagi. Masyarakat harus paham tentang bahaya narkoba dan kesadaran masyarakat terhadap upaya pemulihannya.

“Dalam kurun waktu 2020 ini ada tiga yang diterima, baik itu dari Jawa Timur maupun daerah lainnya,” ungkapnya.(sam/ren/ndr)

Grafis:

Penyalahguna Narkotika yang Direhabilitasi BNN Kabupaten Kediri 

Rentang Usia       2019                    2020 (sampai Mei)

15-25 tahun          25 orang               19 orang              

25-40 tahun          12 orang               4 orang

41-65 tahun          8 orang                7 orang

Total                   45 orang              30 orang

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia