Kamis, 13 Aug 2020
radarkediri
Home > Hukum & Kriminal
icon featured
Hukum & Kriminal

Berdalih Ekspor ke Hongkong, Warga Kediri Tipu Pedagang Pasar Grosir

25 Juni 2020, 15: 07: 19 WIB | editor : Adi Nugroho

penipuan kediri

TERSANGKA: Ida diinterogasi polisi setelah dilaporkan para pedagang yang merasa jadi korban penipuannya

Share this          

KOTA, JP Radar Kediri – Seandainya saja para pedagang ini tidak curiga karena transfer uang tak kunjung masuk, mungkin jalan cerita penipuan akan berbeda. Untungnya, para pedagang di Pasar Grosir Ngronggo waspada. Mereka pun terhindar dari kerugian besar karena pelaku cepat ditangkap polisi.

Pelaku penipuan itu, Ida Kusumawati, 36, warga Kelurahan Pojok, Kecamatan Mojoroto  disergap polisi ketika hendak meninggalkan pasar dengan barang-barang yang pura-pura dibeli. Yakni berupa 12 karung cabai merah besar seberat 673 kilogram, 6 karung cabai rawit seberat 251 kilogram, dan 5 karung kentang seberat 365 kilogram.

“Total kerugian mencapai Rp12.785.000, dari tiga pedagang,” terang Kasihumas Polsek Kediri Kota Aiptu Johan Harijanto.

Penangkapan Ida terjadi setelah salah satu korbannya, Zuhri Wafa, 31, merasa curiga jadi korban penipuan. Dia pun melapor ke polisi.

Kisah penipuan ini berawal ketika Ida datang ke Pasar Grosir Buah dan Sayur Ngronggo. Kepada para pedagang dia mengaku akan membeli sayuran yang hendak dia ekspor ke Hongkong. Di beberapa lapak dia melakukan tawar-menawar.

Singkat cerita, ada tiga pedagang yang sepakat. Selain Zuhri, juga ada dua pedagang lain bernama Warizain dan Ahmad Munip. Dari Zuhri pelaku berpura-pura akan membeli 12 karung cabai merah besar dengan harga Rp 7,75 juta. Kemudian dari Warizain  membeli cabai rawit 6 karung seharga Rp 2,776 juta. Serta dari Ahmad Munip membeli  5 karung kentang seharga Rp 2,259 juta.

Ida kemudian meminta barang-barang tersebut dikirim ke tempat kos di Jalan Brigjen Katamso. Ida berdalih pembayaran melalui transfer ke rekening pedagang.

“Pelaku mengirimkan bukti struk transfer palsu melalui whatsapp dan meminta barang-barang tersebut segera dikirim,” terang Johan.

Ternyata, uang  transfer tak kunjung masuk. Ketiga pedagang pun segera melapor ke polisi.

Sementara itu, para pedagang mengatakan jumlah pedagang yang ditipu mencapai 20 orang. Mereka terdiri dari pedagang bermacam-macam komoditas. “Mulai kentang, buncis, cabai, dan bawang merah,” aku  Tias, pedagang yang juga mengaku jadi salah satu korban penipuan.

Tias menceritakan, Ida datang ke lapaknya Selasa (23/6), sekitar pukul 15.00. Meskipun mengaku akan membayar via transfer, Tias tak curiga. “Saya kan sudah biasa melayani pembelian (dalam jumlah) banyak, apalagi lewat transfer. Jadi tidak curiga sama sekali,” imbuhnya.

Pedagang ini mengaku mendapat pesan melalui WhatsApp berupa foto bukti transfer. Tapi dia merasa janggal karena uang belum masuk ke rekeningnya. Tak ada notifikasi yang masuk.

Ketika ditanyakan Ida berdalih transfer menggunakan uang asing sehingga memerlukan waktu. Pelaku penipuan justru balik menyuruh pedagang bertanya ke bank bersangkutan.

Rupanya, kejadian serupa juga terjadi di pedagang lain yang bertransaksi dengan Ida. Padahal barang belanjaan Ida sebanyak tiga mobil pikap. Satu mobil bahkan sudah berangkat ke tempat kos pelaku.

“Karena belum ada uang yang masuk, mobil yang membawa muatan bawang tidak saya perbolehkan berangkat,” ungkap Tias.

Ida juga tak bisa beranjak dari pasar karena ditahan pedagang. Mobil yang semula sudah berangkat dan menunggu di depan pasar dipaksa kembali.

Beni, pedagang cabai mengaku pelaku membeli pada dirinya senilai sekitar Rp 8 juta. “Orang ini (pelaku, Red) profesional. Korbannya ada yang dari Nganjuk dan Surabaya,” imbuh pedagang yang sempat dimintai keterangan oleh polisi ini.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia