Jumat, 07 Aug 2020
radarkediri
Home > Catatan
icon featured
Catatan

- Rasisme -

22 Juni 2020, 17: 19: 10 WIB | editor : Adi Nugroho

Habibah A. Muktiara

Oleh: Habibah A. Muktiara (radarkediri)

Share this          

Berita Terkait

Di tengah masa pandemi virus korona banyak hal yang terjadi di luar sana. Tidak hanya tentang jumlah korban meninggal atau sembuh karena korona. Banyak kejadian lain yang tidak kalah menariknya hingga membuatnya menjadi bahan pembicaraan masyarakat.

Salah satunya adalah adanya gerakan black lives matter. Takaran black lives matter yang muncul, setelah adanya kejadian yang menyebabkan George Floyd meninggal. Seorang laki-laki Afro-america ini meninggal setelah seorang polisi Minneapolis berkulit putih Derek Chauvin menginjak dengan lutut di leher George Floyd.

Kejadian nahas terjadi pada 25 Mei 2020 itu mendapatkan kecaman keras karena dianggap tindakan rasis. Aksi memprotes rasialisme ini melebar ke negara-negara lain. Mulai Kanada hingga Belgia. Ribuan orang turun ke jalan. Menggelar aksi yang sama.

Hanya karena kejadian di luar negeri dan menjadi sebuah topik internasional, banyak yang mengikuti hal tersebut. Di negara ini #blacklivesmatter bertebaran di media sosial. Salah satunya di instagram. Ibaratnya Gajah di pelupuk mata tak tampak, semut di seberang lautan tampak. Tidak hanya di Amerika saja, di negara ini juga banyak kasus yang sama. Memposting back ground hitam, dengan #blacklivesmatter seolah hal yang percuma tanpa adanya aksi langsung di dunia nyata.

Tindakan rasial tidak hanya dilakukan orang Amerika tetapi juga di Indonesia. Perlakuan ini dilakukan oleh sesama orang Indonesia. Di mana memberikan pertanyaan-pertanyaan yang seharusnya tidak dipertanyakan.

"Di Papua sudah ada mobil ya? Di sana sudah pakai baju? Orang Papua kok bisa sampai di sini? Cantik ya untuk ukuran orang Papua?"

Mungkin hal tersebut terkesan sepele bagi yang menanyakan. Namun bagaimana dengan yang mendapatkan pertanyaan tersebut? Pernahkah sebelum melontarkan pertanyaan tersebut memposisikan sebagai orang yang akan menjawab pertanyaan tersebut.

Dengan adanya demonstrasi anti-rasisme yang terjadi menyusul kematian George Floyd perlu dijadikan momentum untuk menghilangkan perlakuan rasis. Di negeri Paman Sam ini white supremacist adalah julukan untuk yang menganggap bahwa kulit putih lebih unggul dari mereka yang berkulit hitam.

Sayangnya banyak orang di Indonesia juga menyerupai white supremacists terhadap orang kulit hitam di negara sendiri.

Mereka menilai kulit hitam berarti jelek, kotor, bodoh, tinggal di pohon dan hinaan-hinaan lainnya. Nah, pemikiran-pemikiran seperti ini yang harus dibasmi cukup sampai generasi ini saja.

Lantas, buat apa kita menghujat orang luar rasis namun tanpa sadar kita sendiri juga melakukan hal yang sama? Ibaratnya seperti buruk rupa cermin dibelah. Memang ada segi mengikuti untuk mengikuti arus, terutama untuk hal yang baik. Namun lebih baik tidak hanya sekadar ikut-ikut saja. (penulis adalah wartawan Jawa Pos Radar Kediri)

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia