Sabtu, 15 Aug 2020
radarkediri
Home > Catatan
icon featured
Catatan
IQBAL SYAHRONI

KPM 433: Kontroversi

16 Juni 2020, 08: 40: 38 WIB | editor : Adi Nugroho

Iqbal Syahroni

Oleh : Iqbal Syahroni (radarkediri)

Share this          

Sepak bola adalah olahraga jutaan umat yang hidup di bumi ini. Hampir seperempat penduduk, atau mungkin seperdelapan, semua tidak asing dengan olahraga yang menyepak kulit bundar ini. Atau mungkin malah seperenambelas? Penulis hanya bisa menerka.

Pria, wanita, anak-anak, orang tua, semuanya, setidaknya sekali, pasti pernah mendengar atau melihat tentang olahraga yang dimainkan 11 orang dalam satu tim ini. Mengapa sangat terkenal? Dan mengapa orang sekadar mengetahui tentang olahraga ini adalah hal yang mungkin tidak bisa dipungkiri.

Sebagai contoh, seorang anak pedalaman yang belum memiliki akses ke dunia luar tiba-tiba akan tahu. Entah dari orang tuanya atau dari tetangga desa yang mungkin sudah bertahun-tahun merantau. Setidaknya sekali saja. Mereka pasti melihat dan mungkin malah mengajarkan tentang apa sih sepak bola itu.

Seorang teman saya, contohnya. Dia datang dari kepulauan yang ada di sekitar Sumatera. Yang mungkin sebelum kuliah di Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat (KPM) saya tidak pernah mendengar nama pulau itu. Ternyata di sana olahraga yang mereka pelajari adalah sepak bola.

Beberapa tahun kemudian dia masih berada di kelas 7-8 SMP. Dua kali ada perekrutan atlet sepak bola belia di kampungnya. Yang menurut informasi yang ia dapat, akan direkrut ke tim sepak bola daerahnya. Dua kali ia gagal. Begitu ceritanya ketika menenggak kopi hitam sekitar lima tahun silam.

Ceritanya memang sedikit menyedihkan apabila diresapi. Mimpinya ingin bermain bola ternyata belum tercapai. Namun ia menceritakannya seolah bukan sebagai aib. Namun sebagai pelajaran. Cerita itu akan terus dia kenang sembari tertawa di masa tuanya bersama teman-teman karibnya.

Beda cerita tentang teman saya yang berdomisili di satu kabupaten di Jawa Barat. Dia diminta suporter klub bola dari kota (daerahnya ada dua klub bola, kota dan kabupaten) ikut mendukung. “Solidaritas” begitu katanya.

Ada lagi teman saya yang tak suka sepak bola. Tapi dia tahu dan kenal pemain yang mentereng pada zamannya. Ia memang tidak begitu mengikuti dunia sepak bola. Memilih berkiblat ke Amerika Serikat dengan basketnya. Dia lebih familiar dengan Michael Jordan, Shaq, Dirk Nowitzki, Steve Nash, atau Kobe Bryant.

Keterkenalan sepak bola bisa dilihat dari fakta ini. Ada sembilan orang berkumpul dalam satu ruangan. Dari sembilan orang itu tujuh di antaranya menggilai sepak bola, satu gila basket, dan satu suka olahraga lain. Olahraga elektronik atau yang kini disebut e-sport.

Meski begitu, semuanya tahu dan mengerti tentang sepak bola. Mulai aturan dan cara bermain. Namun tidak semua mengerti basket. Hanya sebatas jumlah pemain, serta bagaimana mendapatkan poinnya.

Bagaimana sepak bola lebih dikenal dan diketahui? Dari berita. Atau informasi yang beredar dan terkesan “dicekoki” dari media lokal. Meski dalam beberapa kasus ada dua-tiga juga menampilkan halaman olahraga lain.

Peran lingkungan sekitar tentu juga sangat mendukung dalam aksi “propaganda” meski melalui cara yang disengaja maupun tidak. Sekadar mengajak bermain sepak bola atau futsal setelah mengaji di sore hari. Atau menonton klub kesayangan. Informasi yang terus-menerus diamplifikasi maka olahraga ini sudah bukan menjadi tren. Tapi lebih ekstrim menjadi kultus. Bukan hal buruk, namun ada baiknya sesuatu yang dicintai tidak boleh berlebihan.

Dari sini sebenarnya bisa disortir. Masyarakat bisa menyortir informasi apa yang ingin ia baca, dengar, dan ingin ia pelajari. Teman saya yang suka basket contohnya. Ia sampai rela kliping koran olahraga yang bermuatan basket dan ditempel di tembok rumah. Atau sesekali berselancar di internet mengeluarkan biaya dan tenaga tambahan.

Sama seperti saat ini. Atau mungkin sebenarnya sudah terjadi puluhan tahun lalu tapi belum penulis rasakan langsung. Era yang ingin saya bicarakan adalah era yang terlalu mendewakan konten. Apa saja yang menjadi trending atau yang berbau kontroversial akan lebih menjual.

Seperti kasus seorang musisi yang terus berbicara tentang tidak adanya Covid-19. Atau seorang mentalis yang menelan ludahnya sendiri karena pernah mengklaim orang yang memberikan panggung terhadap sesuatu yang kontroversial dan buruk adalah orang-orang bodoh. Berita tersebut munculnya cepat dan berkembangbiak lebih banyak. Menarik? Mungkin bagi sebagian orang. Namun apakah bermanfaat? Lagi-lagi, mungkin, iya, bagi sebagian orang.

Karena orang bebas memilih apa yang mau ia dengar, dan ia lihat di era komunikasi serba cepat ini. Bahkan mungkin lebih cepat dari trio serangan Robben/Duff-Gudjohnsen-Drogba pada musim 2004-2005 di Liga Premier Inggris. Skema 4-3-3 tentu saat itu menjadi formasi andalan Jose Mourinho. Apalagi di garis pertahanan belakang ada dua bek tangguh Carvalho-John Terry, yang membuat serangan formasi 4-3-3 lebih cepat dan lebih kuat lagi. Bahkan hingga mampu menumbangkan “The Invicibles Arsenal”.

Memilih belajar hal baru yang bermanfaat, seperti olahraga atau skill baru? Atau memilih membaca atau melihat dan mendengar informasi tentang kontroversi tentang perseteruan orang tua-anak di media sosial. Pilihan ada di tangan setiap individu.(penulis adalah wartawan Jawa Pos Radar Kediri)

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia