Sabtu, 15 Aug 2020
radarkediri
Home > Catatan
icon featured
Catatan
ANDHIKA ATTAR

New Normal dan Kebosanan

15 Juni 2020, 13: 04: 12 WIB | editor : Adi Nugroho

Catatan

Andhika Attar (radarkediri)

Share this          

Pandemi Covid-19 memaksa kita menjalani kehidupan yang jauh dari kelaziman. Sudah hampir tiga bulan kita semua berada di masa pandemi. Yakni setelah Presiden Jokowi menyampaikan adanya kasus korona pertama di Indonesia awal Maret lalu.

Semenjak pengumuman tersebut, kita semua bertanya-tanya bagaimana kondisi sosial dan masyarakat akan berjalan ke depannya. Perlahan namun pasti, seperti yang kita semua tahu, berbagai pendekatan pencegahan mulai dilakukan pemerintah. Baik yang ada di pusat maupun daerah.

Sebut saja, penerapan social atau physical distancing, kampanye pemakaian masker, penggalakan konsep hidup bersih dan sehat. Hingga akhirnya sampai pada fase penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Memang, tidak semua daerah melakukannya. Namun, secara garis besar hampir sama.

Menjalani hidup jauh dari kebiasaan normal tentu membuat kita semua harus beradaptasi. Dari yang awalnya kita bisa nongkrong seenak jidat, tidak lagi dengan sekarang. Begitu juga dengan memakai masker. Kebanyakan orang memang tidak biasa menggunakannya.

Namun, cara ini diakui cukup efektif untuk melindungi diri sendiri dan orang lain dari penyebaran virus tersebut. Mau tidak mau, kita semua harus mengenakan masker. Terutama ketika beraktivitas di luar rumah dan berinteraksi dengan orang lain.

Sayangnya, tidak ada yang tahu kapan pandemi ini akan berakhir. Tidak ada satu orang pun yang dapat memastikannya secara pasti. Apakah pandemi ini akan berakhir satu minggu lagi? Apakah satu bulan lagi? Apakah, satu, ah, sudahlah. Tidak ada yang tahu.

Kita semua hanya bisa berharap agar pandemi ini dapat segera berakhir. Tanpa ada kejelasan dan kepastian. Seperti yang kita semua tahu dan alami, menunggu dalam ketidakpastian sangatlah melelahkan. Belum lagi dengan tim medis yang bertarung langsung dengan virus tersebut.

Menjalani kehidupan berbeda selama hampir tiga bulan dan tanpa tahu akan sampai kapan, tentu membuat rasa bosan muncul. Sebuah rasa yang sudah menjadi bawaan setiap manusia. Tidak ada yang tidak memiliki perasaan emosional tersebut.

Bedanya, kadar atau tingkatan setiap individu dalam berdamai dengan kebosanan tersebut. Hanya saja, perlu diingat, rasa bosan akan membuat seseorang bertindak di luar anjuran.

Saya berani bertaruh, banyak orang di luar sana yang telah bosan dengan kondisi sekarang ini. Banyak yang mulai mengabaikan protokol kesehatan seperti yang digalakkan sejak awal masa pandemi ini.

Bisa dilihat dari mulai banyak orang yang beraktivitas di luar rumah tanpa mengenakan masker. Bahkan, beberapa tempat hiburan malam yang sebelumnya taat menutup sementara usahanya, kini mulai menerima pengunjung lagi.

Kondisi seperti itu tentu sangat mengkhawatirkan, mengingat pandemi belum berakhir. Bahkan, dengan adanya rencana new normal, bukan berarti korona sudah lenyap. Atau setidaknya sudah mulai berkurang. Tidak juga seperti itu.

Di Kecamatan Pace, ada sekitar seribu orang yang menjalani rapid test. Yakni setelah salah satu dokter di sana dinyatakan positif Covid-19. Yang mana, seribu orang tersebut merupakan pasien dari dokter tersebut.

Hasil sementara dari rapid test tersebut, sekitar 20-an orang dinyatakan reaktif. Kalau saja, dilakukan rapid test massal, tak menutup kemungkinan bahwa jumlah orang yang dinyatakan reaktif akan bertambah pula. (Semoga saya salah dengan anggapan ini).

Masing-masing dari kita sendiri yang bisa menjawabnya. Apakah kita sudah siap menyambut new normal kelak? Apakah kita semua siap berdisiplin dengan protokol dan anjuran yang ada?

Mari kita jujur. Kedisiplinan sangatlah jauh dari budaya kita. Banyak contohnya. Tak perlu disebutkan satu per satu. Kita semua sudah tahu dan sejatinya juga menyadari hal itu.

Lalu, seberapa yakin dalam penerapan new normal tersebut masyarakat dapat menaati protokol yang dianjurkan? Mungkin ini pendapat yang sangat tidak populer. Sangat jauh dari istilah populis.

Saya pribadi sangsi bahwa masyarakat, kita semua, dapat menaati protokol tersebut. Contoh mudah saja, sudah sejak zaman baheula kita mengetahui bahwa menerobos traffic light adalah sesuatu yang dilarang. Terlepas dari larangan itu sendiri, nyawa kita juga dipertaruhkan saat melanggarnya.

Pertanyaannya, apakah lantas tidak ada pengendara yang melanggarnya? Tetap ada. Dengan mudah pula kita jumpai. Bahkan, kita sendiri mungkin pernah melakukannya. Memang, tak semua akan berakhir buruk. Tapi, hal itu menunjukkan bahwa kita memang belum bisa disiplin.

Dengan dasar tersebut, rasanya, kebijakan new normal memang perlu dipikirkan ulang. Setidaknya, perumusan dan indikator kesiapannya perlu diketatkan. Demi kebaikan semuanya. Di sini, kita semua ada pada sisi yang sama. Yakni menginginkan pandemi ini segera dapat diakhiri.

Kasihan para pelajar yang tidak bisa menyenam pendidikan secara langsung di sekolah. Kasihan para tenaga medis yang terus-terusan berjibaku dengan virus ini. Kasihan pelaku ekonomi yang tertatih-tatih bertahan dengan kondisi sekarang ini. Kasihan orang-orang yang telah sungguh-sungguh menerapkan protokol Covid-19 dengan setia.

Semoga pandangan miring saya tidak terbukti. Semoga kita semua dapat membuktikan bahwa kedisiplinan memang mulai tumbuh pada diri masing-masing. Semoga pandemi ini segera dapat diakhiri. (penulis adalah wartawan Jawa Pos Radar Nganjuk)

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia