Rabu, 27 Jan 2021
radarkediri
Home > Features
icon featured
Features

Bayu Prayogo, Peternak Lele yang Ciptakan Pakan Alternatif

Racik Pakan dari Kompos, Hemat Jutaan Rupiah

09 Juni 2020, 12: 19: 23 WIB | editor : Adi Nugroho

Lele

BERTAHAN: Bayu Prayogo menunjukkan ribuan ekor lele yang dipeliharanya. Dalam kondisi pandemi, dia berhemat dengan menciptakan pakan alternatif. (Rekian - radarkediri.id)

Share this          

Harga pakan yang mahal membuat banyak peternak lele kolaps dalam kondisi pandemi korona ini. Bayu Prayogo, peternak asal Desa Drenges, Kertosono pun membuat terobosan pakan dari kompos dan mol agar bisa menghemat biaya.

REKIAN, KERTOSONO, JP Radar Nganjuk-

Kolam lele milik Bayu Prayogo agak berbeda dengan milik peternak lele umumnya. Jika biasanya kolam lele bersih dari dedaunan, kolam milik pria berusia 38 tahun ini penuh dengan tanaman eceng gondok yang menutupi kolam.

Memanfaatkan lahan kosong di belakang rumahya di Desa Drenges, Kertosono, petak-petak kolam berukuran 1,5x3 meter itu sepintas seperti tidak terawat. “Saya memang sengaja meletakan eceng gondok di kolam untuk mengetahui kondisi air,” ujar Bayu.

Baginya, kualitas air di kolam lele miliknya bisa dia ketahui dari tanaman yang ada di kolam. Semakin gemuk eceng gondok berarti semakin baik kualitas air kolam. Jika eceng gondok kurus dan berbunga, kualitasnya sudah menurun tidak bagus untuk perkembangan ikan.

Bayu telah lama memperhatikan pertumbuhan ikan dan tanaman air di kolamnya. Lulusan salah satu SMA di Kertosono ini memang punya keahlian dalam hal tumbuhan dan ternak lele.

Dia memperolehnya dari berbagai sumber. Baik berdiskusi dengan peternak atau membaca literatur tentang peternakan lele. “Saya memang sudah kenal lele sejak kecil, orang tua dulu peternak lele,” lanjutnya.

Dari pengalaman itulah, dia kerap melihat banyak peternak yang merugi karena pengeluaran untuk pakan dan pemasukan tidak seimbang. Peternak lele banyak yang tidak kuat dan banting setir ke pekerjaan lain lantaran modal habis.

Padahal, pasar untuk ikan lele tidak pernah surut. Bahkan harga per kilogramnya kini Rp 17 ribu di peternak. Bayu menilai berternak lele tidak akan mati karena kehabisan pasar. Masalah besar peternak hanya pada pakan saja.

Dari masalah inilah, laki-laki asli Kertosono ini mencari alternatif untuk menyelesaikan masalah tersebut. “Saya harus ketemu cara bagaimana bisa mengurangi ketergantungan pakan dari pabrik,” bebernya.

Dari sana, Bayu banyak membaca refrensi buku peternakan dan pertanian. Selebihnya, dia juga bertanya pada para pakar. “Setiap kali saya dapat ilmu baru saya aplikasikan,” kenangnya.

Dari sekian banyak uji coba, dia berhasil memanfaatkan pakan organik yang dibuat sendiri dari kompos dan mikroorganisme lokal atau mol. Formulasi pakan ini dinamai kompos plus.

Apa saja bahan yang dibutuhkan untuk menciptakan kompos? Bapak satu anak ini cukup menimbun kotoran sapi, kambing dan ayam yang ada di desanya. “Kalau di desa, kotoran hewan ini masih gratis. Diberi cuma-cuma,” bebernya.

Selain kotoran hewan, dia tetap membutuhkan urea, phonska dan bakteri pengurai. Kotoran hewan dan pupuk kimia serta bakteri pengurai itu difermentasi di bekas sak bawang. “Waktu fermentasi minimal tujuh hari,” paparnya sembari menyebut fermentasi dianggap selesai setelah muncul aroma seperti tape.

Selain urea untuk mempercepat fermentasi, Bayu juga membuat sendiri bakteri pengurai. Biasanya dia membuat mol dari cacing, susu bubuk bayi yang sudah kedaluwarsa untuk protein. Setelah selesai difermentasi, kompos ini diletakan di tepi kolam menggunakan sak bawang.

Kompos itulah yang nantinya jadi pakan lele. Dari sana akan keluar belatung, cacing, bibit kecambah, dan hewan air. “Seminggu cukup satu karung saja,” tuturnya sembari menyebut pakan harus terus tersedia sampai panen. Yakni, sekitar tiga bulan.

Pakan alternatif yang diciptakan pria bertubuh kurus ini efektif untuk menghemat penggunaan pelet.           “Saya tetap pakai pelet, kalau kasih pelet malam saja,” imbuhnya.

Tanpa pakan buatannya, seribu ekor lele bisa menghabiskan tiga sak pelet sampai panen. Dengan menggunakan pakan kompos plus ini, dia hanya butuh satu sak pelet sampai panen. “Sangat hemat,” ujarnya senang.

Pria yang memiliki lima ribu ekor lele ini pun bisa menghemat 10 sak pelet. Dengan harga satu sak pelet Rp 350 ribu, dia bisa menghemat Rp 3,5 juta dengan memanfaatkan limbah yang tak digunakan masyarakat. “Pakan ini cocok untuk para peternak ikan lele di masa pandemi ini. Lebih hemat pakan,” urainya.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2021 PT Jawa Pos Group Multimedia