Kamis, 09 Jul 2020
radarkediri
Home > Kolom
icon featured
Kolom
REKIAN

Menempuh Hidup Baru Bersama Korona

08 Juni 2020, 14: 10: 24 WIB | editor : Adi Nugroho

Catatan

Catatan Rekian (radarkediri.id)

Share this          

Bekerja di rumah sebentar lagi diakhiri. Orang-orang mulai bersiap-siap menjalani kehidupan seperti biasa. Tidak ada lagi pemblokiran jalan. Arus lalu lintas kendaraan dari luar daerah dan pangkalan terminal dan stasiun akan kembali ramai. Pun begitu dengan tempat ibadah, sekolah, perusahaan dan perkantoraan semuanya akan dibuka dan tidak ada lagi larangan aktivitas di sana.

Untuk awal-awal, semua kegiatan tetap akan dibatasi. Selama beraktivitas, semuanya wajib mematuhi protokol kesehatan. Yang paling sering dikampanyekan adalah cuci tangan pakai sabun di air mengalir, pakai penutup wajah dan menjaga jarak minimal satu meter. Cara-cara itu dilakukan untuk meminimalisir penyebaran virus korona.

Memang agak rumit. Ini bukan kebiasaan kita, yang selalu salaman setiap kali bertemu dengan teman apalagi yang sudah lama tidak bertemu. Meski berat, tapi harus dilakukan. Pada akhirnya, kita akan bergandeng dengan wabah yang belum ada vaksinnya. Para petinggi negeri ini menyebutnya dengan hidup berdampingan dengan korona.

Pernyataan berdampingan itu sebenarnya agak serem. Kita tahu, data orang terkonfirmasi positif yang meninggal sangatlah banyak. Data Jawa Pos pada Jumat (5/6), menyebutkan ada 1.770 orang terkonfirmasi positif korona meninggal dunia di seluruh Indonesia. Dari total 29.521 kasus terkonfirmasi positif ada sebanyak 9.443 orang dinyatakan sembuh. Bahkan, sangat mungkin angka tersebut terus bertambah.

Dari jumlah tersebut, Kabupaten Nganjuk menyumbang 32 kasus untuk pasien terkonfirmasi positif dan yang meninggal dunia satu orang. Sedangkan mereka yang sembuh sudah ada 22 orang pada Sabtu (22/6). Dengan bekal protokol kesehatan dan data kesembuhan yang tinggi itulah kita semua diminta untuk kembali menjalankan hidup seperti sediakala.

Karena belum ada vaksinnya, kita semua akan menguji imun. Meski ada yang bilang imun orang Indonesia itu bagus-bagus kita tidak boleh lengah virus ini bisa juga menempel pada mereka yang sehat. Terlalu berisiko bila yang sehat menulari orang berpenyakit seperti diabetes, paru-paru, jantung, sesak napas atau pneumonia. Semoga saja yang sehat tidak menulari mereka yang sakit.

Kita semua berharap pemahaman tentang penyakit dan pencegahan virus bisa diketahui sampai tingkat RT dan RW. Yang menakutkan saat ini adalah pelabelan atau stigma kepada mereka yang terpapar. Orang yang baru diperiksa karena ada dugaan kontak dengan pasien terkonfirmasi sudah disebut positif korona.

Melihat tenaga medis berpakaian lengkap menggunakan alat pelindung diri (APD) yang menggali makam dan melakukan tracing dan rapid test sudah diklaim positif korona. Bahkan, pasien dalam pengawasan (PDP) yang swab-nya belum keluar sudah dibilang terkonfirmasi positif. Padahal, semua pasien yang hasilnya positif harus ada hasil swab-nya.

Bahkan ada pasien yang dikucilkan karena melakukan isolasi mandiri karena statusnya PDP. Stigma miring diberikan kepada warga yang terpapar lebih mengerikan dari virus korona itu sendiri. Rasa sakit akibat dikucilkan dan di-bully menjadi ancaman bagi kehidupan di masyarakat.

Semua orang harus bergandeng tangan untuk melawan tindakan bullying akibat virus korona. Tidak boleh ada stigma, satu keluarga yang PDP atau terkonfirmasi positif jadi sumber penyakit (virus) di lingkungannya. Bila kebiasaan pemberian stigma semakin marak terjadi maka fungsi Gugus Tugas Pencegahan dan Penanggulangan Covid-19 bertambah lagi, yakni mendampingi keluarga terpapar virus korona.

Pendampingan itu perlu dilakukan untuk memberi perlindungan pada keluarga pasien yang terpapar. Baik kepada mereka yang ststusnya OTG, ODP, PDP maupun terkonfirmasi positif. Sekali lagi, bila ada pasien ODP atau PDP yang ingin isolasi mandiri di rumah karena alasan ingin dekat keluarga atau tidak punya biaya perawatan di rumah sakit maka warga harus bisa memakluminya. Selama ini, ada banyak yang melakukan isolasi mandiri termasuk mereka yang terkena positif. Salah satunya adalah Wali Kota Bogor Arya Bima, yang kemudian dinyatakan sembuh dari infeksi virus korona.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia