Kamis, 09 Jul 2020
radarkediri
Home > Kolom
icon featured
Kolom
NDARA BEI

Sugih apa Mlarat?

06 Juni 2020, 14: 42: 00 WIB | editor : Adi Nugroho

Ndara Bei

Ndara Bei (Ilustrasi: Afrizal - radarkediri)

Share this          

Apa-apa yang terkait korona masih jadi bahasan menarik saat ini di Desa Duwur. Entah itu soal pemortalan, soal new normal, lebih-lebih soal bantuan dari pemerintah. Semuanya serba menarik hati. Meskipun kadang disertai rasa panas di hati karena mrusut dari daftar penerima bantuan sosial tersebut.

Itupula yang dirasakan oleh Mbilung sepulang dari rumah kerabatnya di kota tetangga. Kota itu jaraknya tak jauh dari Kediri. Hanya 30-an kilometer. Kalau ditempuh dengan motor butut Mbilung, yang suaranya nggereng bila dibuat mbonceng sang istri dengan dua anaknya itu, mungkin bisa satu jam lebih. Kota yang lebih dikenal dengan nama Kota Marmer.

“Mengapa sampai kesal seperti itu Lung?” tanya Ndara Bei kala keduanya bercengkerama santai di teras belakang rumah pensiunan ambtenaar ini.

“Bagaimana ndak kesel Ndara, lha wong kerabat saya itu sugihe kaya ngunu kok yo masih dapat bantuan be el te yang enam ratus ribu itu,” keluh Mbilung sembari memijati betis si bendara-nya.

“Sugihe kaya apa kok awakmu sampek pegel ngunu?” Ndara Bei berusaha menyelidiki. Saat mengucapkan itu tangan Ndara Bei meletakkan koran yang baru dibacanya. Tangannya ganti meraih secangkir kopi nasgithel, panas legi tur kenthel, kesukaannya.

Sejurus kemudian Mbilung sudah menunjukkan keahliannya. Bercerita tentang kondisi kerabatnya itu seperti penyiar radio melakukan siaran pandangan mata. Sangat detil, membuat yang mendengar mampu membayangkan apa yang tersaji di tempat yang diceritakan Mbilung itu.

Alkisah, dari cerita Mbilung itu, kerabatnya ini memang hanya anak seorang petani. Rumahnya juga masih jadi satu dengan orang tuanya. Tapi, rumahnya sudah bagus. Kokoh. Lantai keramik dan latar-nya sudah ber-paping-Mbilung biasa menyebut batu paving yang biasa dipasang di halaman dengan kata itu.

Rumah itu juga berlantai dua. Dengan dekorasi yang lumayan bagus. Ada banyak pot bunga dengan tempatnya yang beraneka rupa.

Namanya petani, kerja orang tua kerabatnya ini biasa menanam sayur mayur di halaman belakang. Tapi mereka masih punya sawah yang lokasinya di desa berlainan. Tanaman paling utama adalah mbako alias tembakau. Yang hasilnya jauh melebihi hasil panenan padi seperti saat ini.

“Tapi itu belum habis Ndara. Paklik saya ini juga punya ingon-ingon di belakang rumah. Sapi sing gede-gede.” Nada kalimat Mbilung penuh penekanan ketika mengucapkan kata bermakna besar itu. Sedangkan pengulangan maknanya sapi paman Mbilung jumlahnya lebih dari satu.

Masih belum cukup, Mbilung menjlenterehkan seperti apa kekayaan sang kerabatnya itu. “Di teras rumah ada mobil yang dikerukupi kudung. Ketika saya inceng warnanya  merah. Ada huruf  H di bagian belakangnya Ndara. Catnya masih mengkilat.”

Dan, nada getun kian terdengar dari cara bercerita Mbilung ketika menjabarkan seperti apa kekayaan kerabatnya itu. Tentang deretan motor yang dimiliki. Yang dijejer di emper mburi yang mirip dengan carport. Emper itu persis bersanding dengan kandang sapi. Tapi lantainya sudah berkeramik.

“Saya hitung jumlah motornya ada enam Ndara, enam!”

Kali ini mata Mbilung terbelalak hingga bola matanya seperti ingin menonjol keluar. Ndara Bei sampai tersedak karena saat Mbilung sampai pada cerita ini saat itu dia hendak menyeruput kopi nasgithel-nya. Matanya juga ikutan melotot. Entah heran dengan cerita Mbilung atau justru kesal pada Mbilung karena nada suaranya yang meninggi ketika sampai pada bagian itu.

“Enam Lung?” tanya Ndara Bei heran. Yang disambut anggukan dengan tatapan kosong pada sang ndara.

“Lha itu namanya sugih legeh ta Lung. Trus nyangapa sik entuk be el te? Desane ra bener iku,” kali ini Ndara Bei ikut terpengaruh.

“Lha, ya niku ta Ndara yang kula herani,” ucap Mbilung, sembari melepaskan tangannya dari dua kaki sang juragan.

“Lha wong kula mawon mboten angsal. Amarga jarene Togog kula taksih gadah njenengan sing saget nyukupi kebutuhan. Lha iki wong bandane kaya ngunu kok ya sik kelakon oleh.”

Kali ini suara getir yang terdengar dari mulut Mbilung. Dia kemudian merebahkan punggungnya ke lantai teras. Terasa dingin menyentuh kulit. Dingin yang tak mampu merembet ke hatinya yang tetap panas.

“Ya wis, kowe kudu nyukuri apa sing kok terima Lung. Kabeh ngunu kersane Gusti Allah. Anggep ae dulurmu kuwi sugih tapi isih kerasa mlarat. Yen kowe kuwi sugih nanging  tanpa bandha,” ucap Ndara Bei berusaha menghibur. Meskipun di hatinya terbersit rasa heran. Kok yo ada cerita sing kaya ngunu.

“Lha nggih Ndara. Kula nggih berusaha nerima. Napa maleh dulur kula niku kayake kurang bahagia kaliyan bandane. Lha wong ndamel mobile kaya wedi. Udan-udan dilakoni numpak motor. Paling eman banget nggih Ndara,” kata terakhir Mbilung sebelum akhirnya matanya terpejam. Tertidur. Yang ditandai dengan suara dengkurnya yang keras. Sementara Ndara Bei kembali menikmati bacaan paginya. (mahfud)

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia