Senin, 13 Jul 2020
radarkediri
Home > Features
icon featured
Features

Daun Kersen Bisa Jadi Kerupuk? Begini Cara Popi Novitasari

Jadikan Usaha setelah Juara Dua Business Plan

02 Juni 2020, 19: 43: 41 WIB | editor : Adi Nugroho

kerupuk kersen

UNIK: Popi sedang memperlihatkan proses pembuatan kerupuk dari daun kersen di rumahnya, kemarin. Selain enak, olahannya itu juga bergizi tinggi. (Habibah Anisa - radarkediri)

Share this          

Ucapan meremehkan dari kakak kelas justru membuat Popi bersemangat. Mewujudkan mimpinya menjadi seorang wirausaha tetapi juga tetap bisa kuliah. Mengubah daun yang biasanya dibuang menjadi uang.

HABIBAH A. MUKTIARA, KABUPATEN, JP Radar Kediri

Siang itu, dari salah salah satu rumah yang berada di Desa Sidomulyo, Kecamatan Puncu, terlihat aktivitas. Seorang gadis muda menggunakan jas laboratorium berwarna putih, mengenakan masker dan sarung tangan plastik sedang memotong daun.

Daun yang dipotongnya adalah daun kersen. Bukan sedang bermain-main, tapi Popi Novitasari sedang mengolah kerupuk. Ya, kerupuk dari daun kersen. Tak banyak yang tahu kalau daun yang biasanya berguguran dan dibuang itu ternyata bisa diubah menjadi camilan yang enak.

“Saya sudah mengolahnya sejak masih di sekolah,” terang Popi, gadis 18 tahun itu biasa dipanggil. Nama produk kreasinya itu adalah 'Krupsen'. Popi semakin serius menjadikan daun kersen itu sebagai brand produk untuk dijual.

Mengolahnya pun gampang-gampang susah. Popi butuh beberapa kali percobaan untuk menemukan formula yang pas. “Sudah sembilan kali percobaan, kendala di awal karena kurang tepat perbandingan bahan yang digunakan,” jelas anak ke empat dari empat bersaudara ini.

Sebab, saat membuat adonan, tekstur tidak terlalu cair dan tidak terlalu kental. Karena jika terlalu cair dan kental, kerupuk tidak akan jadi. Sebelum dijemur, adonan tersebut dikukus selama 30 menit.

Adonan yang telah dikukus, diangin-anginkan selama tiga jam kemudian dipotong. Agar proses pengeringan sempurna, memerlukan sinar matahari yang cukup agar kerupuk dapat mengering dan mengembang sempurna.

Karena tidak menggunakan bahan pengawet, dalam pembuatan kerupuk dilakukan preorder. Sehingga kerupuk yang dijual masih dalam keadaan baru.

Putri pasangan Rochani dan Rusmawati ini harus bisa menghilangkan bau apek daun dan bulu halus di daun. Lulusan Jurusan Agribisnis Pengolahan Hasil Pertanian SMKN 1 Plosoklaten ini akhirnya berhasil menemukan cara agar bisa mendapatkan olahan keripik yang lezat.

Seperti harus direndam air panas dulu dan tambahan bawang putih saat dilakukan pengolahan. Bahan-bahan lainnya adalah tepung, garam, gula, merica, satu butir telur, dan air matang. Semua bahan-bahan itu diproses, menggunakan peralatan yang sederhana.

“Sebelum diblander, untuk menghilangkan bulu pada daun terlebih dulu direndam menggunakan air panas,” imbuhnya. Tujuannya agar kandungan vitamin pada daun tidak hilang.

Daun kersen sendiri diketahui memiliki kandungan flavonoid, saponin, tanin, juga steroid. Kandungan ini dapat mengontrol kadar kolesterol, meredakan dan mengatasi asam urat. Juga sebagai antioksidan, antibakteri, dan antiinflamasi, serta mampu mencegah tekanan darah tinggi.

Sebelum dijadikan sebuah usaha, kerupuk ini sudah pernah mengikuti lomba business plan pada tahun 2019.

Dalam perlombaan yang berlangsung di Kecamatan Mojowarno, Kabupaten Jombang itu ia berhasil mendapatkan juara dua. “Karena banyak yang harus disiapkan, Untuk persiapan membutuhkan waktu selama satu bulan,” ungkap gadis kelahiran tahun 2001.

Selain mempersiapkan produk, ia juga harus presentasi untuk ditampilkan di hadapan dewan juri. Alasan kenapa ia menggunakan daun kersen sebagai bahan utama, hal tersebut dikarenakan rasa prihatin dengan banyaknya tanaman kersen yang tidak terawat.

Sebab, warga menganggap pohon kersen tidak ada manfaatnya, sehingga banyak pohon yang ditebang. Padahal tanaman ini memiliki banyak sekali manfaatnya, terutama bagian daun.

Ketika perlombaan, kerupuk daun kersen ini mendapatkan respon yang positif. Selain memiliki prospek untuk bisnis, kerupuk ini jarang ditemukan. “Bisnis ini akan saya kembangkan ketika kuliah nanti,” terangnya.

Keinginan itu muncul karena dipicu ucapan kakak kelasnya kalau dia akan kesulitan menjalankan bisnis jika tetap kuliah. Popi yang sudah diterima di Jurusan Teknologi Pangan Universitas Brawijaya Malang ini pun masih ingat kalau dirinya terlihat lemah. “Saya akan buktikan kalau bisa berjalan dua-duanya, usaha tetap jalan tapi juga tetap bisa kuliah,” pungkasnya.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia