Rabu, 08 Jul 2020
radarkediri
Home > Kolom
icon featured
Kolom
SUKO SUSILO

--- KKN ---

02 Juni 2020, 18: 44: 45 WIB | editor : Adi Nugroho

Suko Susilo

Oleh : Suko Susilo (radarkediri)

Share this          

 ‘Mei 1998, mahasiswa berjuang agar orba tumbang dengan isu utama berantas KKN, yang kini justru berkembang biak mewakilimewakili sifat tamak.’

Dulu, di tahun 1982, berseragam jas biru almamater kami turun dari bus universitas berjalan gagah memasuki pendapa Kabupaten Lumajang. Perasaan melambung bangga. Seolah kelak pasti menjadi pengendali jalannya negara. Duduk berjajar rapi bak pejabat sedang rapat mengikuti upacara penerimaan oleh Bupati.

Pidato sambutan Bupati penuh suka cita. Ia terima dengan bangga lebih dari tiga ratus mahasiswa yang akan terjun ke berbagai desa di wilayahnya. Berbekal kiblat keilmuan sesuai program studi, kami diharap menjadi sarana percepatan pembangunan di Lumajang. Program ini dikenal sebagai Kuliah Kerja Nyata disingkat KKN.

Selama lebih dari dua bulan kami berada di lereng Semeru, pedalaman Lumajang. Mandi di kali dengan hampir setiap hari beli sabun. Karena, saat mandi, begitu sabun lepas dari genggaman langsung lenyap, hanyut terbawa arus kali. Mandinyapun menunggu petang datang agar terhindar dari sorot mata usil saat kami bugil.

Bergaul di tengah penduduk desa yang tingkat pendidikan reratanya masih rendah tak terasa menjadikan kami pongah. Tanpa sadar merasa pintar. Apalagi dalam setiap acara hari besar, masyarakat meminta kami selalu tampil di depan. Pidato tergagap-gagap dengan lutut gemetaran pun disambut gemuruh tepuk tangan.

Kepala desa dalam berbagai pidato terkesan selalu berlebihan saat memperkenalkan kami. Calon penerus kepemimpinan bangsa. Pemegang tongkat estafet perjalanan pembangunan bangsa. Calon intelektual yang akan membawa bangsa ini menuju zaman keemasan. Itu semua ungkapan yang selalu terdengar dari pidatonya.

Segala puja-puji meluncur bersamaan dengan berhamburannya ludah yang muncrat membasahi mic. Dikatakan juga bahwa kelak jika semakin banyak intelektual di panggung politik maka harapan semakin terbuka bagi majunya demokrasi Pancasila. Padahal, intelektual yang terjun ke kancah politik praktis cenderung akan mengalami benturan.

Tradisi politik dan  intelektual sangatlah berbeda bahkan kontras. Bertentangan satu dengan yang lain. Pada mulanya, idealisme dan intelektualitas yang dibawa dimaksudkan untuk memerbaiki keadaan. Kalau pada awalnya mampu berpikir jernih, tetapi begitu masuk ke panggung politik sukarlah menemukan kejernihan pikirannya. Makin lama makin larut menyatu dengan perilaku politisi yang semula ikut dihujatnya.

Apalagi model rekruitmen politik sebagaimana yang terjadi sekarang ini. Peran partai sangatlah sentral. Jual beli kursi sukarlah bagi seorang intelektual mempertahankan keilmuannya. Seorang yang semula jernih, bebas mengembara dengan berbagai konsep dan teori lambat laun menjadi kaku menyerah pada tuntutan lingkungan politiknya.

Akhirnya KKN yang pada awalnya singkatan dari kuliah kerja nyata menjadi lebih terkenal sebagai korupsi, kolusi, nepotisme. Parahnya, KKN jenis inilah yang sekarang menggurita di negeri ini. Jika zaman Orde Baru hanya Golkar yang korupsi, sekarang hampir semua partai politik tokohnya terlibat korupsi. Intelektual yang menjadi aktor politik pun terkesan diam.

Bahkan, yang lebih sering terjadi dalam dinamika politik Indonesia, kehadiran intelektual dimanfaatkan elite parpolnya untuk melegitimasi berbagai penyimpangan yang ada. Tampak nyata pengabdiannya pada kekuasaan. Bukan kepada kebenaran ilmiah sebagaimana yang harus dipegang teguhnya.

Intelektual masuk ke dunia politik selama ini cenderung tak mengubah apa-apa. Karena tidak semua intelektual yang terjun ke politik praktis benar-benar tulus ingin memerbaiki keadaan bangsanya. Terlebih di era reformasi ini. Makin sulit kita menemukan intelektual yang tak tergiur materi dan usaha memperluas kekuasaannya melalui praktik KKN yang dulu dihujatnya habis-habisan.

Pemimpin seperti lupa darah yang mengering di jalanan Jakarta pada Mei 1998. Mahasiswa berjuang agar orde baru tumbang. Isu utamanya adalah memberantas KKN. Ternyata kini keadaanya terbalik justru KKN berkembang biak, mewakili sifat tamak.

Anak, istri, suami, ipar, adik, kakak, menantu, bahkan teman difasilitasi untuk ikut jadi elite politik. Entah sebagai menteri, gubernur, bupati, wali kota, atau setidaknya menjadi wakil rakyat.

Alasan disiapkan untuk kemunculannya. Pengalaman, semangat, trah keturunan, dan prestasi semua dibuat hebat. Dimunculkan dekat foto tertampan hasil editan. Senyum mengembang mengesankan keluhuran budi dan perhatian pada nasib sesama. Tangan terkatup di depan dada berkesan siap mengabdi sebagai hamba.

Semoga saja anda percaya. (Penulis adalah Wakil Ketua Asosiasi Pascasarjana Agama Islam Swasta Indonesia)

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia