Senin, 13 Jul 2020
radarkediri
Home > Hukum & Kriminal
icon featured
Hukum & Kriminal

Napi Asimilasi Asal Jombang Berulah, Kepung - Kandat Jadi Sasaran

Perampokan Canggu Badas, Ini Kelanjutannya

02 Juni 2020, 03: 34: 02 WIB | editor : Adi Nugroho

Curi kandat

Pelaku pencurian dan kasus narkoba.

Share this          

KABUPATEN, JP Radar Kediri - Bila masyarakat merasa cemas dengan program asimilasi narapidana yang berlangsung di awal pandemi korona lalu, sepertinya ada benarnya. Sebab, beberapa kasus kejahatan yang terjadi ternyata dilakukan oleh residivis hasi program tersebut. 

Terbaru, adalah penangkapan terhadap Muhammad Arif, 22.  Warga Dusun Ngemplak, Desa Pagerwojo, Kecamatan Perak, Kabupaten Jombang ini tertangkap setelah melakukan kejahatan lagi. Tak tanggung-tanggung, sebelum tertangkap penjahat kambuhan ini telah melakukan tiga kali kejahatan. Dan itu hanya dalam waktu sehari!

Dari tiga tempat kejadian perkara (TKP) Arif hanya ingat dua tempat saja. Yaitu saat dia beraksi di wilayah Kepung dan Kandat. Sementara satu TKP lagi si residivis itu tak ingat tempatnya. Di TKP yang belum diketahui itu Arif menggasak uang tunai Rp 177 ribu.

Pencurian

Pencuri Tertangkap (Ilustrasi: Afrizal - radarkediri)

“Di mana dan siapa korbannya pelaku tidak ingat,” terang Kapolsek Kepung Iptu Roni Robi.

Menurut Roni, berdasarkan pemeriksaan Arif adalan napi yang mendapat program asimilasi dari LP Nganjuk pada Maret lalu. Dia juga sudah pernah menjalani hukuman di LP Jombang dan Blitar. 

Barang bukti yang diperoleh dari tangan Arif memang tak terlalu besar. Uang tunainya berjumlah Rp 250 ribu. Juga dua dompet serta SIM C atas nama Entin Suprapti. Namun, ancaman yang bakal dijeratkan kepada pelaku termasuk tinggi. Yaitu pasal 362 KHUP tentang pencurian dengan hukuman penjara maksimal lima tahun.

“Mengingat tersangka merupakan residivis maka mengesampingkan Perma Nomor 2 tahun 2012 tentang tindak pidana ringan (tipiring),” dalih Iptu Roni.

Dua dari tiga TKP Arif lokasinya relatif berjauhan. Pencurian pertama dilakukannya di Dusun Campurejo, Desa Brumbung, Kecamatan Kepung pada Sabtu (30/5), sekitar pukul 11.30 WIB. Lokasinya di toko kelontong milik Entin. 

Saat kejadian toko Entin dalam keadaan terbuka. Sedangkan si pemilik berada di ruang tamu. Saat itu pelaku yang datang dengan Honda Supra X hitam bernopol S 6810 OAJ langsung masuk ke toko setelah memarkir motor. Mengambil dompet dan uang tunai yang ada di etalase toko.

Sebenarnya Dito, 15, anak Entin sempat tahu aksi pelaku. Dia kemudian melaporkan ke ibunya. Namun, belum sempat didatangi Arif sudah lari ke motornya. Kemudian memacu melarikan diri. Teriakan maling dari Entin sudah tak mampu menolongnya. 

Sukses di Kepung, Arif melanjutkan aksi jahatnya. Kali ini yang dia sasar adalah toko kelontong milik Budi Santoso, 43, di Desa Pule, Kecamatan Kandat. Sama seperti yang pertama saat itu toko dalam keadaan sepi. Arif juga langsung masuk ke toko serta mengambil dompet yang tergeletak di etalase.

Beruntung, aksinya tak semulus di Kepung. Budi sempat mengetahui kedatangan Arif ke tokonya. Dia pun langsung berteriak maling. 

Warga yang mendengar langsung mengejar Arif yang berusaha kabur. Dia sempat membuang dompet itu kemudian berusaha melarikan diri dengan motornya. Namun bisa tertangkap di wilayah Desa Ringinsari, Kecamatan Kandat.

“Berkat kesigapan korban dan dibantu dengan warga akhirnya pelaku berhasil diamankan di wilayah Desa Ringinsari dan diserahkan ke Polsek Kandat,” terang Kapolsek Kandat AKP M.S. Yusuf.

Selanjutnya Arif diserahkan ke Polsek Kepung. Sebab, barang bukti yang ada dari kasus di Kepung.  

Sementara itu, dari kasus perampokan di Desa Canggu, Kecamatan Badas, polisi memang belum melakukan penangkapan tersangka. Namun, berdasarkan informasi dari Kades canggu Saptono Noko, warganya sempat menahan seseorang yang dicurigai. Orang tersebut pun telah diserahkan ke polisi.

Menurut Saptono, saat peristiwa itu, pemuda tersebut berada di sekitar TKP. Padahal pemuda tersebut bukan warga dusun. “Warga memang sempat mengamankan orang . Tapi langsung diserahkan ke Polisi. Tapi paginya sudah dilepaskan karena tidak ada bukti atau apa, saya tidak tahu,” ungkap Saptono.

Kasat Reskrim Polres Kediri AKP Gilang Akbar, saat dikonfirmasi terkait peristiwa tersebut, membanarkan sempat mengamankan orang yang dicurigai. Namun saat dilakukan pemeriksaan tak ada bukti yang  menguatkan bahwa orang tersebut terlibat.

“Ya, kami memang sempat mengamankan orang yang dicurigai oleh warga.  Tapi setelah dilakukan pemeriksaan tidak ada bukti. Jadi kita lepaskan,” terang AKP Gilang.

Menurut AKP Gilang, orang yang dicurigai itu mempunyai istri yang rumahnya di dekat TKP. Orang itu mengaku hendak menjenguk istrinya. Kebetulan di waktu bersamaan terjadi perampokan di rumah Winarsih. “Itu salah paham warga,” ungkap AKP Gilang.

Saptono mengakui orang yang diamankan dicurigai itu mempunyai istri di dusun tersebut. Tapi belum menetap di rumah istrinya. “Setahu saya itu memang baru menikah. Tapi belum pindah rumah, jadi statusnya belum asli orang sana,” kata Saptono.

Sementara menurut AKP Gilang, terkait kasus perampokan sadis yang membuat Winarsih trauma berhari-hari, masih terus dilakukan pengembangan. “Sekarang ini kasusnya masih terus didalami. Kami juga sudah menerjunkan tim buser,” ungkap AKP Gilang.

Berdasarkan fakta-fakta yang dikumpulkan, ada dugaan kuat pelaku sudah mengenal kondisi  dan situasi rumah korban. Selain itu, mereka juga mengenal lingkungan sekitar yang tak jauh TKP. Dugaan itu berdasar dari beberapa fakta. Yaitu pemilihan waktu beraksi. Mereka melakukan aksinya ketika aktivitas pengamanan di pos kamling yang ada di dekat TKP belum mulai. Juga, saat itu di rumah hanya ditinggali satu orang penghuni saja. Sedangkan penghuni lainnya tengah beraktivitas.

“Kalau dari pengamatan kamu pelaku sudah mengenal lingkungan sekitar. Dilihat dari pelaku melakukan aksinya di bahwa jam sembilan malam. Atau sebelum pos kampling diaktifkan,” ungkap Kapolsek Pare Iptu I Nyoman Sugita. 

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia