Jumat, 07 Aug 2020
radarkediri
Home > Features
icon featured
Features

Wiwied Asri, Guru Seni Rupa Puncu Jadikan Mural sebagai Pesan Positif

Dipicu Coretan Tak Pantas di Kamar Mandi9

01 Juni 2020, 23: 54: 34 WIB | editor : Adi Nugroho

Wiwied mural

PESAN BERGAMBAR: Wiwied saat melukis mural pada dinding di salah satu gang Desa Gadungan, Kecamatan Puncu. (Didin Saputro - radarkediri)

Share this          

Pandemi korona tak menyurutkan guru seni rupa ini untuk tetap berkreasi. Memanfaatkan dinding di lingkungan rumahnya. Sebagai pesan waspada korona sekaligus media pembelajaran siswa.

MOCH. DIDIN SAPUTRO, Kabupaten, JP Radar Kediri. 

Matahari sangat terik ketika Wiwied menggoreskan kuasnya ke dinding salah satu gang di Dusun Gadungan Barat, Desa Gadungan, Kecamatan Puncu siang itu. Ditemani dua putrinya, dengan telaten ia menyelesaikan gambar berupa mural yang sedang dibuatnya di dinding tersebut.

Dua gambar yang sudah selesai adalah pesan pada masyarakat di tengah pandemi ini. Ada juga gambaran semangat pada tenaga medis yang tengah berjuang dalam memutus rantai penyebaran Covid-19. “Kalau mural di kampung ini, saya prihatin dengan banyaknya orang terutama di Kediri yang masih sembrono. Tak pakai masker padahal sudah ada imbauan,” ungkap pemilik nama lengkap Wiwied Asri Sutanto ini.

Upaya yang dilakukannya itu juga sebagai bentuk demo untuk bisa mengingatkan orang dengan menggunakan gambar di dinding gang kampung. Terlebih pada media ini setiap hari dilihat orang. 

Darah seni memang mengalir pada diri Wiwied. Ayah dan adik-adiknya pun memiliki bakat menggambar. Untuk mural sendiri, Wiwied mulai menekuninya sepuluh tahun terakhir. 

Ia mengakui bahwa mural memang memiliki kelebihan memberikan pesan yang lebih luas. Terutama bagi masyarakat di pedesaan. “Mural bisa dilihat banyak orang dan ada pesan yang disampaikan. Selain menikmati keindahan karya seni juga pesan untuk ajakan ke arah lebih baik,” tambahnya.

Terlebih, lokasinya berada di lingkungan atau kampung yang setiap hari dilalui masyarakat. Untuk tempat, Wiwied mengaku menjadi pertimbangan untuk tema yang dibuat. Di desa misalnya, karya yang ia buat bisa menggunakan bahasa Jawa. Itu agar pesan yang disampaikan bisa lebih mengena.

Terkait korona, pesan-pesan yang disampaikan selain penggunaan masker, dan semangat untuk tenaga medis bahwa kata terserah bukan berarti menyerah, Wiwied juga mengaplikasikan program pemerintah provinsi yakni mewujudkan kampung tangguh semeru. “Jadi ini juga sebagai alat untuk sosialisasi,” tambah guru SMAN 1 Puncu ini.

Untuk bahan yang ia gunakan, murni dari sisa-sisa cat miliknya yang sudah tak terpakai. Ia kumpulkan dari beberapa pesanan instansi yang pernah menggunakan jasanya untuk melukis. 

“Setidaknya pesan ini bisa mengetuk hati seseorang, entah diterima atau tidak. Saya ingin kita gotong royong dan saling peduli dengan orang lain di tengah pandemi ini,” terang putra pertama dari 5 bersaudara ini.

Sementara selama ini, work from home selama pandemi juga dilaluinya. Yakni mengarahkan siswanya berlatih menggambar. Melalui daring ia memberikan penjelasan proses melukis, termasuk menggambar mural. “Nanti tugas akhir ya buat mural. Jadi selain untuk ingatkan orang,  juga untuk media pembelajaran ke anak kelas 11,” ungkapnya.

Kegiatan mural seperti ini, kata Wiwied, berawal dari keprihatinannya di sekolah. Awalnya banyak siswa yang sering corat-coret kamar mandi dengan kata-kata tidak pantas. “Kemudian saya beri pemahaman ke siswa untuk mengarahkan ke mural. Saat kenaikan kelas selalu membuat mural tentang berbagai macam karakter dan persatuan keberagaman,” urainya.

Mural dilakukan di tembok sekolah. “Harapan saya anak-anak bisa coret-coret tembok yang beradap,” pungkasnya.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia