Sabtu, 04 Jul 2020
radarkediri
Home > Catatan
icon featured
Catatan
ANWAR BAHAR BASALAMAH

Demi Asap Dapur Tetap Ngepul

31 Mei 2020, 19: 12: 14 WIB | editor : Adi Nugroho

ANWAR BAHAR BASALAMAH

Oleh : Anwar Bahar Basalamah (radarkediri)

Share this          

Saya mengamati media sosial (medsos) dua minggu terakhir ini. Soal kondisi jalanan yang ‘normal’ kembali di tengah pandemi Covid-19 yang sebenarnya belum surut. Ada netizen yang menuliskan status seperti ini, “Demi asap dapur tetap mengepul.”

Saya senang dengan istilah tersebut. Entah kenapa, rasanya seperti melihat seorang kepala rumah tangga yang tengah memperjuangkan hidup dan mati keluarganya. Pilihannya hanya dua: Bekerja agar tetap bisa makan atau berdiam di rumah tapi mati kelaparan.

Pandemi virus korona memang membuat banyak orang dalam masa kebimbangan. Khususnya, mereka yang bekerja tanpa gaji bulanan. Pemerintah meminta warganya berada di rumah untuk memutus penyebaran virus yang bermula dari Kota Wuhan, Tiongkok itu.

Bagi seorang serabutan, pilihan tersebut terasa menyesakkan. Bagaimana mungkin terus berdiam di rumah selama berminggu-minggu. Jelas, ketika di rumah saja, mereka tidak punya penghasilan apa-apa. Sementara kebutuhan hidup terus berjalan seperti biasa.

Ada anak dan istri yang harus dinafkahi. Untuk melangsungkan hidup esok hari, mereka membutuhkan makan. Makanya, istilah “asap dapur tetap mengepul” adalah dasar kebutuhan manusia yang siapa pun tidak mampu menghadangnya.

Ya, asap dapur berhubungan dengan pangan. Dapur adalah tempat mengolah makanan sebelum dihidangkan di tengah keluarga. Sedangkap asap merupakan efek yang ditimbulkan dari pengolahan makanan. Biasanya berasal dari kompor atau tungku yang menyala.

Kegiatan di dapur berhubungan erat dengan hajat hidup keluarga. Karena itulah, bagi sebagian orang, mereka lebih memilih tidak memiliki ruang tamu daripada dapur di rumahnya. Sebuah pilihan yang sebenarnya sangat logis.

Makanya, setiap keluarga memperjuangkan agar dapurnya tetap berfungsi. Meski letaknya di belakang dalam denah rumah, tetapi substansi sebuah dapur mengalahkan bagian-bagin lain. Seperti kamar, ruang keluarga, dan halaman rumah.

Bahkan, saya pernah mendapati sebuah keluarga yang menjadikan ruang tempat tidurnya menyatu dengan dapur. Saking kecil rumah yang ditempati. Sementara, mereka juga butuh makan, selain tidur ketika rumah sudah dimiliki.

Dengan istilah itu, mereka bekerja hanya untuk bertahan hidup. Tidak lebih. Bukan untuk menabung atau merenovasi rumah, alih-alih bersenang-senang. Tujuan hidup yang sederhana di saat ruang gerak begitu sempit.

Toh, di tengah pandemi seperti sekarang, penghasilan tidak selancar sebelumnya. Beberapa pedagang makanan keliling mengeluhkan omzetnya yang turun. Semua perencanaan belanja di awal tahun menjadi amburadul. Rencana membelikan hadiah untuk sang anak pun terpaksa ditunda dulu.

Semua dalam ketidakpastian. Bagi tukang becak dan pedagang kecil, bekerja di luar adalah pilihan yang paling realistis untuk menyambung hidup. Ketika asap dapur sulit mengepul lagi, kondisi paling mengkhawatirkan kemungkinan bakal terjadi.

Yang paling simpel, warga menggantungkan hidupnya dari uluran tangan orang lain. Sembako dan kebutuhan dasar lain tidak tercukupi lagi dengan bekerja siang dan malam.

Mereka yang lemah iman, akan mengambil jalan pintas. Mencuri, menjambret, atau merampok. Apakah tujuannya demi asap dapur yang mengepul? Bisa jadi benar. Bisa juga salah. Tapi, pandemi yang terus-menerus terjadi membuat sebagian orang kehilangan akal sehat.

Karenanya, saya tidak ingin berbantah ketika ada warga yang tengah berjuang demi hidupnya. Yang mengharuskan di luar rumah. Bukan berarti mereka tidak mematuhi imbauan pemerintah atau tidak menghargai perjuangan tenaga kesehatan. Kondisi hidup memaksa mereka yang mau tidak mau harus meninggalkan rumah.

Para pekerja itu bukannya kebal virus. Mereka juga berisiko tinggi tertular atau menularkan korona. Jika tidak disiplin sedikit saja, mereka juga menjadi bagian dari orang-orang yang masuk dalam pengawasan. Sudah banyak kasus yang mencatatnya.

Yang jadi persoalan, sampai kapan kita berjuang hanya demi asap dapur? Entahlah. Semakin lama pandemi ini, semakin lama pula orang-orang tersebut memperpanjang perjuangannya.

Masalahnya, mereka yang sekarang mondar-mandir di luar, tidak semua berjuang untuk keberlangsungan hidupnya. Banyak di antaranya hanya mengusir kebosanan. Sangat dimaklumi karena berada di dalam rumah berlama-lama akan memunculkan efek bosan yang sangat akut.

Kita sebenarnya ingin kompak mengatakan bahwa semua orang bosan dengan ketidaknormalan sekarang. Semua ingin bebas dan bersenang-senang kembali. Tapi, barangkali Tuhan punya cara lain supaya kita bisa menikmati kebosanan dan kesepian. Karena bosan dan sepi adalah rasa yang juga kita miliki. Hanya, kita sering membuangnya cepat-cepat. (penulis adalah wartawan Jawa Pos Radar Kediri)

           

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia