Rabu, 08 Jul 2020
radarkediri
Home > Politik
icon featured
Politik

Warga Kota Kediri Manfaatkan Ruang Observasi, Ini Jumlahnya Per Hari

30 Mei 2020, 14: 00: 10 WIB | editor : Adi Nugroho

Ruang Observasi Korona di Kediri

Ruang Observasi Korona di Kediri (Ilustrasi: Afrizal - radarkediri)

Share this          

KOTA, JP Radar Kediri – Ruang observasi yang disediakan pemkot benar-benar dimanfaatkan oleh warga kota. Setidaknya dalam Lebaran kali ini bahkan mengalami peningkatan. Bila di hari biasa hanya dua hingga lima orang  yang datang, selama seminggu Lebaran ini meningkat hingga 30 orang per hari. Mereka memilih mengisolasi diri di tempat tersebut beberapa saat setelah pulang dari luar kota.

Hal tersebut dibenarkan oleh Vivit, petugas kesehatan yang berjaga di ruang observasi yang ada di Gedung Nasional Indonesia (GNI). Petugas salah satu puskesmas di Kota Kediri ini mengatakan, jumlah tertinggi di tempat observasi itu mencapai 30 orang.

“Mulai naik terus pada malam Lebaran dan hari H,” terang Vivit.

Namun intensitas warga mendatangi ruang observasi mulai menurun saat ini. Jumlahnya kini mulai kembali ke sebelum Lebaran.

Menurut Vivit, mereka yang datang mengobservasi dirinya sendiri itu kebanyakan datang dari luar kota di daerah Jawa Timur. Berdasarkan hasil pendataan, mereka itu mayoritas bekerja. Dan harus bolak-balik keluar masuk Kediri.       

“Bukan mudik sih lebih tepatnya. Alamat rumah memang Kediri. Ke luar kota hanya berkunjung, untuk kerja. Beberapa rutin datang ke ruang observasi,” urainya.

Total, sejak dibuka ruang observasi di GNI akhir April lalu yang datang ke ruang observasi sudah mencapai 300 warga. Semunya melapor dan saat diperiksa dalam kondisi sehat tanpa keluhan.

Kondisi serupa juga terbaca di ruang observasi lainnya, seperti di GOR Jayabaya. Di tempat itu warga yang mendatangi mencapai 500 orang. Sama, seperti di kota, pemeriksaan terus dilakukan selama observasi. Terutama pemeriksaan kesehatan.

“Pada malam Lebaran paling tinggi. Jumlahnya sampai sekitar 70-an orang,” kata Eko Widodo, petugas di Ruang Observasi GOR yang juga staf Kecamatan Mojoroto.

Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan (GTPP) Covid-19 Kota Kediri dr Fauzan Adima menjelaskan, imbauan dan sosialisasi terus mereka lakukan hingga ke tingkat RT. Apabila ada warga yang datang dari luar kota dan belum melapor, ketua RT/RW akan mengantar mereka ke ruang observasi terdekat. Bila kebetulan ketua RT/RW sedang ada keperluan maka tetangga yang akan mengawasi. Mereka akan meminta pendatang tersebut segera melapor.

“Memang prosedurnya yang sudah diumumkan dan disepakati seperti itu. Untuk memotong mata rantai persebaran Covid-19 di Kota Kediri,” terang Fauzan.

Sementara itu, beberapa warga Kota Kediri memilih untuk tidak mudik terlebih dahulu. Salah satunya diwawancarai oleh Jawa Pos Radar Kediri melalui telepon. Menurut warga tersebut, rasa rindu sudah pasti ada. Namun rasa khawatir menjadi orang tanpa gejala (OTG) yang dapat menyebarkan virus ke sekitar lebih mendominasi. Mereka pun  terpaksa merayakan Lebaran kali ini di tanah rantau tempat mereka mencari rezeki.

“Sudah bisa lewat online silaturahmi dengan keluarga dan teman. Saya pilih tidak pulang meski tidak merasa sakit. Takutnya malah menjadi carrier karena memang di daerah tempat saya kerja ini zona merah juga,” terang Almas Avicena, lelaki 25 tahun asal Kelurahan Bandarlor, Kecamatan Mojoroto.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia