Sabtu, 06 Jun 2020
radarkediri
Home > Features
icon featured
Features

Cerita Tim URC BPBD Kabupaten Kediri Mengawal Pemakaman Korona

Tak Boleh Usap Muka dan Kucek Mata

22 Mei 2020, 14: 40: 58 WIB | editor : Adi Nugroho

urc kediri windoko

HARUS STERIL: Komandan URC BPBD Kabupaten Kediri Windoko (bertopi) memberikan instruksi usai proses pemakaman salah satu pasien positif korona. (Didin Saputro - radarkediri)

Share this          

 Proses pemakaman pasien positif Covid-19 memang tak mudah. Butuh tenaga, jiwa sosial, dan keberanian yang tinggi untuk ikut terlibat di dalamnya. Namun, itu tak menjadi penghalang URC BPBD Kabupaten Kediri untuk tetap mengawalnya.

MOCH. DIDIN SAPUTRO, KABUPATEN, JP Radar Kediri

Matahari sangat terik siang itu ketika tujuh warga menggali lokasi pemakaman pasien positif korona di Desa Kedak, Kecamatan Semen. Tanpa adanya kerumunan. Di depan makam, ada penjagaan personel polisi dan TNI. Termasuk dua anggota Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kediri yang merupakan Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan (GTPP) Covid-19 Kabupaten Kediri.

Di lokasi penggalian, ada sosok pria yang tak asing lagi. Memberi pengarahan ukuran lubang penggalian dan kedalamannya. “Liang sudah siap,” ujar Windoko, nama pria tersebut.

Dia memberi komando kepada pihak rumah sakit (RS) bahwa proses penggalian lubang jenazah sudah siap. Maka, jenazah yang sebelumnya berada di RS Gambiran Kota Kediri itu pun meluncur ke lokasi pemakaman.

Sembari menunggu mobil ambulans pembawa jenazah datang, beberapa warga bersiap mengenakan alat pelindung diri (APD) lengkap yang telah disiapkan URC BPBD. Total ada 6 orang yang bertugas. Sementara Windoko sebagai komandan URC, memberi arahan kepada enam warga yang terlibat tersebut.

Mobil ambulans tiba. Tepat pukul 11.00, warga yang bertugas melakukan pemakaman bersiap mengambil peti jenazah dari ambulans. Windoko yang memberikan instruksi kepada mereka. “Lewat sini,” teriaknya. Sembari membantu mengangkat peti ke lokasi liang yang telah disiapkan.

Beberapa tahapan dilakukan, sesuai prosedur pemakaman jenazah Covid-19. Tak kenal lelah, Windoko terus memberikan komando hingga peti benar-benar tertata sempurna di liang lahat. Salah satu warga yang bertugas pun melantunkan azan. Terdengar dari kejauhan. Sesuai syariat pemakaman muslim. Sebelum tanah menimbun liang lahat tersebut.

Tak butuh waktu lama, proses pemakaman itu sangat singkat. Enam petugas pun melakukan sterilisasi dengn disinfektan. Termasuk Windoko, yang juga ikut memberikan instruksi melepas APD dan sterilisasi pasca pemakaman jenazah pasien positif Covid-19. “Jangan pegang apa-apa. Jangan usap muka. Jangan ada yang sentuh mata dulu,” ujar Windoko mengingatkan.

Memang, proses pemakaman ini sangat membutuhkan tenaga ekstra. Butuh kehati-hatian dan kewaspadaan karena risiko nyawa taruhannya. Hal itulah yang menjadi rutinitas Windoko dan timnya.

Menurut Windoko, awal pandemi korona menjadi saat-saat paling melelahkan dalam prosesi pemakaman jenazah Covid-19. Sebab, sangat jarang warga yang berani terlibat didalamnya. Sehingga petugas medis dan GTPP turun langsung untuk melaksanakan pemakaman ini. Dia menyebut, tugas URC dan GTPP-lah yang memberikan edukasi.

“Kita beri edukasi kepada masyarakat dan pemerintah desa terutama gugus tugas desa. Terutama saat pemakaman. Karena belum ada pelatihan terkait hal tersebut. Maka tugas URC adalah mendampingi mereka,” ujarnya.

Total, lebih dari 15 kali pemakaman yang dilakukannya. Baik jenazah orang dalam pemantauan (ODP), pasien dalam pengawasan (PDP), maupun jenazah pasien positif korona. Dua-duanya sama-sama dengan protokol pemakaman jenazah Covid-19. “Ada yang meninggal di rumah, ada yang di puskesmas, dan ada yang di rumah sakit,” ungkapnya.

Nah, yang meninggal di rumah itu yang butuh banyak edukasi. Yakni, meyakinkan keluarga si pasien meninggal dan juga meyakinkan gugus tugas desa. “Baik itu ODP maupun PDP, harus kita perlakukan dengan selayaknya,” paparnya.

Untuk itu, dia terus mendampingi masyarakat jika ada kasus meninggal dunia karena diduga terpapar korona. Jangan sampai warga panik dan tidak mau menangani pemakaman jenazah saudara atau tetangganya yang meninggal. Seperti sejumlah kasus yang terjadi di beberapa daerah. “Tetap dengan protokol Covid-19,” jelasnya.

Tak hanya proses pemakaman saja. Namun, pasca pemakaman juga melakukan edukasi kepada masyarakat. Untuk melakukan isolasi mandiri sembari menunggu hasil swab keluar.

Peran URC sangat sentral. Mereka terus berupaya meyakinkan masyarakat dan memberikan edukasi terkait pandemi korona yang semakin hari jumlahnya bertambah. Tak ada kata lelah.Jiwa sosial dan pengabdian yang menjadi pemantiknya demi menolong sesama.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia