Sabtu, 06 Jun 2020
radarkediri
Home > Features
icon featured
Features

Kesibukan PSC 119 Mengevakuasi Pasien Covid-19 di Masa Pandemi

Tunda Buka Puasa saat Penjemputan, Hal Biasa

22 Mei 2020, 10: 11: 00 WIB | editor : Adi Nugroho

PSC

KOORDINASI: Koordinator PSC 119 dr Arin Dwi Khotimah (duduk berjilbab) dan dr Ema (kanan) memberi penjelasan kepada personel PSC yang akan melakukan evakuasi pasien Covid-19. (PSC 119 for radarkediri.id)

Share this          

Tim Public Safety Center (PSC) 119 yang fokus menangani kasus emergency, kini juga bertugas mengevakuasi pasien korona. Sadar memiliki risiko besar terpapar, mereka harus rela mengorbankan kedekatan dengan keluarga demi keselamatan bersama.

SRI UTAMI, NGANJUK. JP Radar Nganjuk

Kantor PSC 119 di Jl Dr Soetomo, Kota  Nganjuk pada Minggu (10/5) siang tak lengang seperti kantor pemerintahan kebanyakan. Sekitar pukul 12.00, ada beberapa orang yang berkumpul di ruang rapat.

Sepintas mereka seperti sedang berbincang santai, tetapi setelah didekati ternyata mereka tengah membahas tentang presentasi teknis evakuasi yang  akan dipaparkan di Rumah Singgah Covid-19 gedung Pu Sindok. “Persiapan untuk pelatihan dengan relawan rumah singgah,” ujar Koordinator PSC 119 dr Arin Dwi Khotimah.

Perempuan berusia 40 tahun itu terlihat serius berbincang dengan personel PSC. Sesekali pembicaraan mereka diselingi dengan guyonan sekadar untuk memecah suasana. Sekaligus menghilangkan penat dalam aktivitas yang padat selama pandemi korona ini.

Sejak kasus korona berstatus sebagai darurat bencana nasional, PSC memang memiliki tugas tambahan yang memegang peranan sentral dalam penanganan Covid-19. Yakni, mengevakuasi pasien positif korona maupun pasien yang hasil rapid test-nya reaktif.

Di-launching pada 16 Juli 2019 lalu, tak pernah terbayang di benak anggota PSC jika mereka akan menangani penyakit akibat virus yang belum ditemukan obatnya ini. Sebelumnya, PSC memang hanya bertugas menangani sejumlah kasus darurat. Misalnya, mengevakuasi pasien dengan penyakit akut, kecelakaan, hingga ibu yang melahirkan. “Begitu ada telepon dari masyarakat ke PSC, kami akan meluncur. Tidak pernah terpikir akan ada kasus korona, lanjut Arin sambil tersenyum.

Semuanya berubah mulai April lalu. Total 20 anggota PSC yang terdiri dari empat PNS dan 16 tenaga kontrak itu ikut menangani kasus darurat yang terjadi di seluruh Indonesia. Memerangi korona. “Sejak saat itu anggota kami bagi dengan cara sif. Selama 24 jam ada yang stand by di kantor,” tutur perempuan yang tinggal di Gondang itu.

Dengan sistem itu, evakuasi pasien Covid-19 tetap bisa berlangsung. Demikian pun saat harus dilakukan pada malam atau dini hari. Termasuk jika dalam sehari harus mengevakuasi lebih dari satu pasien. “Kapan hari itu dalam satu hari sampai mengevakuasi empat pasien,” urai perempuan berjilbab sembari menyebut evakuasi dilakukan di Madiun, Ngluyu, Baron, dan Sukomoro.

Berbeda dengan evakuasi pasien emergency lainnya, evakuasi pasien Covid-19 memakai protokol kesehatan secara ketat. Dua personel PSC yang merupakan bidan dan seorang sopir ambulans harus menggunakan alat pelindung diri (APD) secara lengkap.

Sopir yang diterjunkan untuk mengevakuasi pasien juga bukan orang sembarangan. Melainkan, seorang perawat yang memiliki keahlian mengemudi kendaraan. Sehingga, mereka memahami dengan benar cara memperlakukan pasien Covid-19. “Anak-anak sudah memahami, kalau ada telepon kapanpun itu harus siap berangkat. Semua personel on call,” urai Arin tentang kemungkinan adanya banyak pasien yang harus dievakuasi.

Penanganan korona selama lebih dari sebulan meninggalkan kesan yang mendalam bagi para personel PSC. Termasuk penyesuaian yang harus mereka lakukan setelah sering berhubungan dengan pasien Covid-19. Arin yang pernah ikut melakukan evakuasi pasien pun memilih untuk membatasi kontak dengan keluarga. “Pulang dari kantor pilih untuk mengisolasi diri sendiri. Meminimalkan kontak karena terpapar,” tuturnya.

Perubahan perilaku itu, diakui Arin menimbulkan beban tersendiri. Meski demikian, dia mengaku tidak punya pilihan lain. “Lebih kasihan lagi kalau keluarga ikut terpapar,” beber dokter yang juga tidak lagi praktik pribadi setelah penanganan wabah korona itu.

Hal senada diungkapkan oleh Ari Kusuma Sahara. Anggota PSC asal Sukomoro itu tidak hanya harus mengisolasi diri sendiri. Perempuan yang berprofesi sebagai bidan itu bahkan merasakan dampak lainnya. “Kadang saya merasa seperti dikucilkan. Saat jalan dan berpapasan, ada yang dengan sendirinya minggir. Dari pada dikucilkan, mending mengucilkan (mengisolasi, Red) diri sendiri ,” kenangnya sedih.

Jika sudah demikian, Ari dan anggota PSC lainnya memilih untuk menghibur diri sendiri. Mereka berusaha mengubah hal yang menyedihkan menjadi hal menyenangkan dengan bercanda. “Kadang kami tertawa. Oh iya, kan kita baru saja menangani korona,” lanjutnya tertawa.

Bagi Ari dan puluhan anggota PSC lainnya, pekerjaan mereka bukan sekadar untuk mendapat gaji yang ternyata masih jauh di bawah upah minimum kabupaten (UMK). Melainkan diniatkan untuk beribadah.

Karenanya, meski harus kepanasan dan merasakan sesak napas saat pertama kali memakai baju berlapis, masker berlapis, dan kelengkapan APD lainnya, mereka tak mempermasalahkan hal tersebut. “Dulu benar-benar susah bernapas. Sekarang sudah terbiasa. Tetap pengap tapi terbiasa,” tuturnya.

Demikian pula ketika suatu kali mereka harus menunda buka puasa saat proses evakuasi. Ari dan personel PSC lainnya mengaku ikhlas. “Suatu kali berangkat evakuasi menjelang Maghrib. Belum sempat sampai rumah pasien sudah Maghrib. Kan tidak mungkin membuka APD,” bebernya.

Akhirnya Ari dan temannya baru bisa buka puasa setelah evakuasi selesai. Yakni, sekitar pukul 20.00. “Melihat pasien yang berhasil dievakuasi saya merasa senang bisa menolong orang. Diniati ibadah saja,” tandas perempuan berusia 28 tahun itu.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia