Sabtu, 06 Jun 2020
radarkediri
Home > Features
icon featured
Features

Guru SLB di Grogol Antar Tugas Anak Sejauh 10 Kilometer

22 Mei 2020, 06: 12: 23 WIB | editor : Adi Nugroho

guru slb kediri

TIDAK BISA DARING: Salah satu siswa SLB Dharma Wanita Grogol mengerjakan tugas dari sekolah mereka. (Lu'lu'ul Isnainiyah - radarkediri)

Share this          

Pandemi korona jadi tantangan tersendiri bagi guru SLB Dharma Wanita Grogol. Tidak semua siswanya bisa menerapkan belajar online. Mereka pun harus mengantarkan materi dan tugas ke rumah. Jaraknya tempuhnya cukup lumayan.

LU’LU’UL ISNAINIYAH, KABUPATEN, JP Radar Kediri

Saat pandemi Covid-19, sekolah diliburkan sejak Maret lalu. Termasuk di Sekolah Luar Biasa (SLB) Dharma Wanita Grogol. Sama seperti sekolah umum, SLB di Desa Cerme itu juga menerapkan kegiatan belajar mengajar (KBM) dalam jaringan (jaring) atau online.

          Sebenarnya, tampak lebih simpel dan mudah. Siswa bisa belajar dari rumahnya masing-masing. Tapi, persoalaannya, tidak semua wali murid memiliki gawai atau smart phone. Itulah yang menjadi tantangan bagi Ade Ayu Niken, salah satu guru di sana. “Kesulitannya, tidak semua siswa bisa belajar daring,” kata Niken saat ditemui di rumahnya di Desa Kalirong, Kecamatan Tarokan, Selasa lalu (19/5).

          Idealnya, di zaman informasi teknologi (IT) yang makin canggih, semua orang punya gawai. Namun, faktanya ada wali murid di kelas SMALB yang tidak memiliki barang tersebut. “Kalau di kota mungkin semua orang punya. Tapi di sekolah kami, masih ada (yang tidak punya),” ucapnya.

          Kata Niken, total ada 7 siswa di kelasnya. Dari jumlah tersebut, hanya dua orang yang orang tuanya punya gawai. Berarti, lima anak tidak bisa belajar lewat online.

          Sebenarnya, dari lima orang tua, ada yang memiliki gawai. Yang jadi masalah, sebagian dari mereka masih gagap teknologi (gaptek). Padahal, tugas sekolah diberikan melalui whatsapp (WA). “Itu yang menjadi halangan. Jadi hanya dua anak saja yang pakai online,” ungkap perempuan 41 tahun ini.

          Meski begitu, halangan tersebut bukan berarti membuat KBM berhenti. Niken pun menyiasati cara agar siswanya tetap di rumah saja. Dari sekolah, guru  membuat rangkuman tugas selama dua minggu. Setelah itu, Niken harus mengantarkan tugas tersebut ke rumah wali murid yang tidak memiliki WA.

“Saya bawakan tugasnya. Dikerjakan selama 2 minggu. Nanti kalau sudah (selesai), saya ambil lagi ke rumah mereka,” terangnya.

Diselimuti rasa waswas karena virus korona, tidak ada pilihan lain bagi Niken. Dua minggu sekali, dia bolak-balik dari rumahnya ke kediaman anak didiknya. Biasanya, saat pergi, dia mengendarai sepeda motor sendirian. “Sebenarnya agak cemas juga. Karena ada virus. Tapi harus saya lakukan demi anak-anak,” ungkap ibu tiga anak ini.

          Apalagi, tidak semua alamat sang murid dekat dari rumahnya. Yang paling jauh beralamat di Desa Tiron, Kecamatan Banyakan. Jaraknya dari Desa Kalirong sekitar 10 kilometer (km). “Saya memberikan tugas dua minggu sekali,” kata Niken.

          Selain jarak, Niken juga menghadapi hambatan akses jalan. Seperti diketahui, sejak pandemi berlangsung, beberapa warga menutup akses jalan ke desa mereka dengan portal. Kalau sudah begitu, Niken akan mencari akses jalan lain. Beberapa kali dia kecele karena harus putar balik karena akses utama ditutup.

          Namun, tetap saja ada sisi positif dari aktivitas tersebut. Dengan menghampiri beberapa siswanya, Niken mengaku, dapat mengetahui kondisi dan perkembangan mereka. Dia bisa bertemu langsung dan melakukan interaksi. “Saat melakukan kunjungan itu, saya bisa tanya-tanya ke orang tuanya terkait perkembangan anak,” ujar Niken.

          Misalnya pertanyaan yang umum adalah,”Bapak-Ibu, apakah ada kendala?”. “Anaknya mogok belajar tidak?”. Dari wawancara tersebut, Niken dapat memantau kendala yang dihadapi muridnya. Apakah mengalami kesulitan dengan tugas yang diberikan atau tidak.

Itu berbeda dengan wali murid yang memiliki WA. Sekolah akan memberikan tugas setiap harinya. Dengan catatan, murid mengirimkan semua kegiatan di rumah dalam bentuk dokumentasi foto dan video. “Setiap hari saya memberi tugas ke mereka yang punya WA. Saya juga tanya ke orang tua mereka apakah ada kendala. Kalau ada, saya minta konsultasikan ke saya,” katanya.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia