Sabtu, 06 Jun 2020
radarkediri
Home > Ekonomi
icon featured
Ekonomi

Dicek TPID, Harga Gula di Kediri Masih di Atas HET

21 Mei 2020, 23: 21: 54 WIB | editor : Adi Nugroho

tpid kediri

SIDAK: Anggota TPID Kota Kediri saat mengamati barang-barang yang dijual di salah satu pasar modern saat pemantauan harga kemarin. (Iqbal Syahroni - radarkediri)

Share this          

KOTA, JP Radar Kediri – Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) menemukan beberapa harga yang lebih mahal dari harga eceran tertinggi (HET). Salah satunya adalah harga gula yang dijual pedagang di pasar tradisional. Anggota tim pun menegur para pedagang tersebut.

“Kami tanyai dan kami tegur agar tidak (menjual) melebihi HET,” kata Kepala Bulog Kediri Mara Kamin Siregar, di sela-sela kegiatan pemantauan pasar kemarin.

Tim memang menggelar inspeksi mendadak (sidak) kemarin. Menyasar beberapa lokasi, baik pasar tradisional maupun pasar modern. Pasar tradisional yang jadi sasaran sidak kemarin adalah Pasar Setonobetek. Sedangkan pasar modern yang didatangi adalah Ramayana, Samudra, dan terakhir ke Hypermart.

Menurut Siregar, beberapa pedagang yang menjual di atas HET mengaku mengambil di mitra distributor dengan harga yang sudah tinggi. Sedangkan HET saat ini adalah Rp 12,5 ribu per kilogram.

Untuk menekan harga, agar bisa kembali di bawah HET, Siregar mengatakan Bulog dan dinas perdagangan dan perindustrian (disperdagin) menggelar operasi pasar. Operasi pasar tersebut berlangsung di kecamatan dan kelurahan.

“Sudah dilakukan dari awal puasa kemarin. Kami lakukan door to door  untuk lakukan physical distancing,” paparnya.

Deputi Kepala Bank Indonesia Wilayah Kediri Bagian Moneter Rizal Moelyana menambahkan, kondisi pasar saat ini sudah diprediksi. Ada beberapa komoditas yang naik. Namun bukan karena tidak ada pasokan di pasar. “Naik karena terlambat masuk ke pasar. Seperti bawang merah, yang diketahui, musim panennya tidak semuanya namun parsial,” terang pria yang kemarin berkemeja biru ini.

Sementara itu, Kepala UPT Perlindungan Konsumen Erifina Lucky menjelaskan, dari empat tempat yang didatangi tidak ditemukan barang yang kedaluwarsa. Namun memang ditemukan ada harga yang merangkak naik. “Daging sapi, bawang merah, dan beberapa komoditas seperti cabai juga, ya, mulai naik,” terang Lucky.

Soal ketersediaan barang, juga mencukupi. Daging sapi misalnya, beberapa pedagang yang ditemui mengaku jumlah stoknya bisa dua ekor sapi per hari. Dengan kenaikan harga dari Rp 110 ribu menjadi Rp 125 ribu.

Terakhir, dia mengingatkan pada warga Kota Kediri agar tetap mengindahkan protokol kesehatan setiap berbelanja. “Mohon tetap melakukan protokol kesehatan di pasar rakyat ataupun modern. Sering cuci tangan dan jangan keluar rumah apabila tidak dirasa penting. Bisa dilayani oleh pemkot ataupun UPT dan disperdagin untuk pembelian di pasar,” pungkasnya.

Sementara itu, menjelang akhir Ramadan, warga terlihat mulai memadati beberapa pasar tradisional. Seperti di Pasar Induk Pare.

“Mulai hari ini pasar terlihat ada peningkatan pengunjung,” ujar Kepala Pasar Induk Pare Soni Nurbianto.

Soni menjelaskan, puncak keramaian diperkirakan terjadi sampai Jumat (22/5). Saat hari raya pasar akan sepi karena pedagang tidak ada yang berjualan. Karena itulah pembeli memadati pasar sejak H-3.

Sementara itu kepatuhan pedagang dan  pembeli mematuhi protokol kesehatan masih rendah. Di antara mereka ada yang tidak menggunakan masker. Menanggapi hal tersebut, Soni mengaku tak henti-hentinya memperingatkan para pedagang dan pembeli. Pihaknya juga terus berkeliling setiap hari. “Setiap hari saya keliling, saya suruh pakai masker. Tapi alasan mereka banyak, ya gimana lagi,” keluhnya.

Di antara alasan yang  tidak menggunakan masker adalah karena kepanasan dan tidak leluasa saat berbicara.

Khoirul Anam, 47, seorang kuli panggul cabai, mengaku membawa masker. Tapi tidak dia gunakan ketika bekerja. “Saya bawa ini (masker) tapi panas gak bisa napas juga,” dalihnya.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia