Sabtu, 06 Jun 2020
radarkediri
Home > Kolom
icon featured
Kolom
NUR HAFID

Bonus Ramadan

21 Mei 2020, 23: 14: 11 WIB | editor : Adi Nugroho

Nur Hafid

Oleh : Nur Hafid (radarkediri)

Share this          

Pandemi Covid-19 membuat kita beribadah di rumah masing-masing dalam Ramadan ini. Namun itu tak menghalangi perburuan kita terhadap ‘bonus Ramadan’. Berupa malam lailatul qadar. Beribadah sunah di rumah, mungkin, akan meningkatkan kekhusukan. Karena terhindar dari sifat riya (pamer) ibadah. Karena riya mengurangi keikhlasan ibadah kita kepada Gusti Allah. Seperti yang kita ucapkan dalam salat, innasholati wa nusuki wa mahyaya wa amati lillah. Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanya karena Allah semata.

Ikut berburu atau tidak, kita sendiri yang tahu. Kita dapat menjumpainya lalu menangkapnya atau malah melepaskannya, kita juga tidak tahu. Karena ‘bonus Ramadan’ ini berbeda dengan bonus duniawi. Lailatul qadar tidak dapat didemo karena Allah Maha Adil dan Bijaksana. Berbeda dengan manusia.  

Demo menuntut malam yang lebih baik dari seribu bulan (surat Al Qodr, lailatul qadri hairun min alfi syahr) hanya dapat dilakukan dengan cara beribadah semaksimal mungkin. Bukan hanya nyegati di malam-malam tertentu saja. Karena kapan lailatul qadar turun hanya Allah yang tahu.

Ibarat marketing, pemberian hadiah untuk memacu penjualan produk. Jika ingin memperolehnya harus membeli produk sebanyak-banyaknya. Supaya peluang semakin besar. Walaupun ada yang beli satu produk dapat hadiah.

Demikian pula untuk mendapat bonus agung, kita tak bisa berpedoman pada  satu dua malam. Harus beribadah di seluruh malam Ramadan.

Di dunia wayang kita kenal perang Baratayudha. Kapan waktu perang meletus tidak ada yang tahu persis. Baik pihak Pandawa maupun Kurawa. Tapi kedua pihak meyakini perang akan meletus. Sehingga keduanya terus waspada dan tak mau lengah. Pada saatnya nanti kedua pihak sudah siap perang tanding.

Allah mewajibkan orang yang beriman (bukan lainnya) untuk bersusah payah meningkatkan derajat lewat puasa sebulan. Menjadi hamba yang takwa. Semoga kita melaksanakan ibadah puasa selama ini betul-betul bertujuan menjadi takwa. Dengan kata lain peningkatan derajat ibadah kita siang malam bukan dilakukan karena tergiur oleh bonus khusus lailatul qodr. Yaitu malam ketika ganjaran ibadah kita sama dengan ibadah seribu bulan.

Memang tidak semua orang bisa beribadah dengan model kekhusukan total. Barangkali sebagian besar umat (jangan lupa termasuk saya juga) baru bisa beribadah pada tingkatan dasar. Sekadar memenuhi perintah dan dengan syarat minimal. Namum jangan khawatir karena Allah Maha Pemurah. Semoga berkat kemurahanNya ibadah kita yang masih sedemikian kecilnya dapat diterima. Kebahagiaan umat terbesar adalah jika ibadahnya diterima. Inilah kemurahan Allah dan tentunya keindahan ajaran Islam.

Puasa sebulan penuh hampir kita selesaikan dengan tanpa ‘mokel’. Tetapi rasanya kita belum terbebas dari noda kotoran berupa dosa. Kita telah merasakan lapar  dan dahaga selama hampir satu bulan. Tetapi lapar dan dahaga itu belum menyentuh kulit hati nurani. Kita masih acuh terhadap mereka yang lapar. Tangis bayi, rintihan saudara kita yang belum beruntung, dan keluh para dhuafa’ belum mampu menggugah kemurahan hati kita.

Setelah puasa Ramadan selesai, akan ada pesta Hari Raya Fitri (begitu orang menyebutnya). ‘Fitri’ itu dari kata dasar fitrah. Kamus al – Muhit li Fairizubadi mengartikan dengan al-Hilqoh al-lati Khuliqo’alaiha al Maulud fi Rahimi Ummihi, penciptaan yang berproses dari organ reproduksi (kandungan) ibu. Artinya dilahirkan kembali berupa jabang bayi, yang bersih, telanjang, tak ternoda, dan tidak tahu apa-apa.

Karena, begitu kita mengakhiri  puasa Ramadan, kita telah menyelesaikan tingkah laku melaparkan perut dan mendahagakan tenggorokan hanya karena Allah. Yang menyebabkan Allah berkenan memberikan pahala berupa pembersihan diri dari dosa-dosa yang telah kita lakukan selama setahun. Seperti dalam hadist khudsi assoumu li, wa ana ajri bihi, artinya puasa adalah untukku (Allah) dan aku (Allah) sendiri yang akan memberikan pahala puasa.

Sebagian orang menyebut hari raya itu dengan Lebaran. Lebar artinya bebas atau selesai. Selesai dari menguji kejujuran diri. Selesai dari berlatih menahan diri sebulan penuh. Ternyata kejujuran itu mudah. Karena kita bisa melakukannya dengan selamat. Ternyata menahan diri itu bisa kita lakukan sehingga kita mengakhirinya dengan suka cita seperti anak yang terpenuhi keinginannya. Dari situ dapat disimpulkan, perbuatan jujur dan menahan diri tidak membawa sengsara. Sepatutnya harus kita lanjutkan dalam kehidupan ke depan.

Sesuai janji Allah, orang yang melakukan puasa sebulan penuh akan mendapatkan pengampunan dan akan dijauhkan dari api neraka. Namun demikian harus kita pahami bahwa walaupun kita telah selesai puasa belum cukup menjamin seratus persen akan mendapatkannya. Seperti Riwayat Nabi Muhammad SAW, ”Pada suatu hari ada seorang hamba menghadap Allah hanya dengan bermodalkan kelengkapan ibadah dan ketaatannya kepada-Nya. Namun sewaktu hidup di dunia telah melakukan makian  dan menyakiti sesama, menghujat, dan memukul sesama. Pahala ibadah dan ketaatannya habis untuk nomboki kesalahan yang dilakukan kepada sesama. Itupun belum lunas. Maka dosa orang yang dimaki dan disakitinya  akan dibebankan kepadanya. Dan akhirnya dia dilempar ke neraka”.

Nabi Muhammad bersabda ”barang siapa mempunyai kesalahan kepada saudaranya (sesamanya) maka bergegaslah segera meminta halal (maaf) kepadanya hari itu juga”. Dan ini akan terjadi apabila kita telah menyambung lagi tali kekerabatan. Namun untuk tahun ini silaturrahmi juga lain. Silaturrahmi dilakukan dengan ucapan melalui medsos, telepon atau Whatsapp. Karena situasinya tidak memungkinkan. Karena di sisi lain kita juga diperintahkan untuk menjaga kesehatan. Ucapan permintaan maaf dengan menggunakan medsos atau yang lainnya tetap bisa asalkan dilakukan bukan basa basi saja. Tapi dengan tulus. (penulis adalah dosen Uniska dan Ketua Yayasan Al Mujahidin, Maesan, Mojo Kediri)

 

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia