Sabtu, 06 Jun 2020
radarkediri
Home > Features
icon featured
Features

Madjid Panjalu, Dalang Cilik yang Mainkan Lakon “Matinya Buto Korona”

Alur Dibuat sang Ayah, Selebihnya Improvisasi

21 Mei 2020, 00: 12: 42 WIB | editor : Adi Nugroho

dalang cilik madjid

TERAMPIL: Madjid Panjalu saat memaikan wayang kulit dengan lakon “Matinya Buto Korona” di rumahnya.  (Rendi Mahendra - radarkediri)

Share this          

Usianya baru lima tahun. Tapi, Madjid Panjalu begitu mahir memainkan wayang kulit. Salah satu pentasnya adalah lakon 'Matinya Buto Korona'. Pementasan tersebut diunggah lewat YouTube channel pribadinya. 

RENDI MAHENDRA, KOTA, JP Radar Kediri

Madjid Panjalu merayakan Hari Buku Nasional pada Minggu lalu (17/5) dengan cara sederhana. Lewat streaming YouTube channel Dunia Madjid, bocah kelahiran Kediri, 11 September 2014 ini memainkan wayang kulit dengan lakon 'Matinya Buto Korona'.

“Pementasan wayang itu untuk mengenalkan literasi sejak dini. Kami pilih bertepatan dengan Hari Buku,” kata Sunarno, ayah Madjid, saat ditemui kemarin.

Pementasan wayang itu dilakukan di rumahnya di Jl Supit Urang, Kelurahan/Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri. Saat pentas di dalam rumah, Sunarno yang jadi mentor  menyiapkan debog (batang pisang), blencong, dan kelir. Juga wayang seperti Salya, Puntadewa, dan Buto Korona. 

Menurut Sunarno, yang menyiapkan seluruh pementasan Madjid, tokoh Buto Korona itu tak ada di pakem wayang sungguhan. Sunarno sengaja memesan pada perajin wayang untuk dibuatkan Buto. “Yang Buto ini saya pesan ke perajin. Karena dalam pakem wayang yang asli tidak ada,” terang pria 37 tahun ini.

Beberapa minggu sebelum pentas itu, Madjid sudah sering berlatih. Namun sebenarnya dia sempat mau gagal pentas. Pasalnya, anak pertama dua bersaudara itu baru saja jatuh dari sepeda. Untungnya, di hari H, luka dari jatuh tersebut sudah sembuh.

Sementara alur dari lakon 'Matinya Buto Korona' itu, sudah dibikin oleh Sunarno. Namun, bagaimana Madjid memainkan lakon tersebut? Sunarno memberi kebebasan kepadanya. Lakon tersebut bercerita saat Salya menggunakan ajian Candrabirawa. Ajian itu berwujud raksasa kerdil yang mampu membelah diri terus menerus dan membunuh lawan tanpa ampun.

Satu-satunya yang bisa menghentikan ajian itu adalah Puntadewa. Selanjutnya, dalam lakon itu, Puntadewa meminjam panah Arjuno. Sehingga ajian milik Salya lenyap. Tapi dalam cerita aslinya, dalam perang Kurukshetra, Selya mati karena panah Puntadewa .

“Kalau di dalam lakon yang dimainkan Madjid ini, Salya tak sampai mati. Hanya Buto Korona saja yang mati,” tambah Sunarno.

Saat memainkan lakon itu, Madjid  hanya patuh pada alurnya saja. Terlihat di YouTube, saat pementasan itu Madjid juga menceritakan kehidupannya sehari-hari. Menceritakan saat korona, dia tak bisa bebas bermain. Juga tidak bebas keluar untuk membeli es.

“Memang yang membuat alur itu saya, tapi cerita yang dipentaskan Madjid itu sudah dunianya. Dalam pentas itu, dia menceritakan apa yang sehari-hari dilakukan,” kata Sunarno.

Sore itu, sekitar 16.00, Madjid yang juga pemain pantomim ini berharap Covid-19 bisa segera berakhir. Seperti Puntadewa dengan panahnya yang melenyapkan raksasa kerdil ajian milik Salya. Sehingga kehidupan menjadi normal kembali.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia