Sabtu, 06 Jun 2020
radarkediri
Home > Hukum & Kriminal
icon featured
Hukum & Kriminal

Kasus Kades Supadi: Ganti Nama Karena Saran Guru Spiritual

19 Mei 2020, 16: 47: 46 WIB | editor : Adi Nugroho

supadi

MENYIMAK: Terdakwa Supadi memberikan keterangan dari Lapas Kediri dalam sidang teleconference kemarin. (Habibah Anisa - radarkediri)

Share this          

 KABUPATEN, JP Radar Kediri - Terdakwa kasus gelar palsu, Supadi, tetap ngotot bahwa huruf SE di belakang namanya itu bukan singkatan gelar akademis. Dua huruf itu adalah kependekan namanya, Subiari Erlangga.

Pesakitan yang juga Kepala Desa Tarokan, Kecamatan Tarokan ini juga mengakui nama itu merupakan saran dari guru spiritualnya. Bertujuan agar dia semakin sukses di kehidupan.

“Karena saat itu kondisi (saya) dalam keadaan sulit saya diberi saran oleh guru spiritual untuk mengganti nama,” dalih Supadi dalam sidang via teleconference di PN Kabupaten Kediri kemarin (18/5).

Agenda sidang kemarin berisi keterangan terdakwa. Lelaki yang saat sidang berada di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Kediri itu mengaku mengganti nama pada 2010. Dari hanya Supadi menjadi Supadi Subari Erlangga yang disingkat Supadi SE.

“Jika sesui upacara adat (maka) nama saya sudah disahkan,” kilahnya lagi.

Dalam sidang yang berlangsung di ruang Cakra itu Supadi memang mengaku telah melangsungkan upacara adat untuk meneguhkan nama barunya itu. Upacara tersebut mirip dengan upacara kelahiran bayi. Ada tumpengan dengan mengundang tokoh agama. Saat upacara itu kedua orang tua Supadi mengesahkan pergantian nama.

Keterangan Supadi itu  menggelitik jaksa penuntut umum (JPU). Salah seorang jaksa, M. Iskandar, menanyakan perihal nama barunya itu. “Pak Supadi sejak tahun 2013, ejaan saudara apa sudah Supadi SE?” tanyanya.

Menjawab pertanyaan tersebut, Supadi mengaku sudah mengganti nama di KTP sejak 2012. Bahkan, lelaki yang sempat berkeinginan macung sebagai bupati ini pernah mengganti nama hingga tiga  kali.

Pergantian pertama ketika kecil. Supadi mengaku saat itu sakit-sakitan. Kemudian pergantian kedua pada 2010. Terakhir, pergantian ketiga tahun kemarin, 2019.

Ketua Majelis Hakim Guntur Pambudi Wijaya juga berusaha memastikan kepanjangan SE di belakang nama Supadi itu. Ketika ditanya apakah SE kepanjangan nama bukan gelar, Supadi menjelaskan nama itu gabungan dari nama leluhur dan nama orang tuanya. Untuk meyakinkan majelis hakim, terdakwa bahkan menegaskan bila pergantian nama itu sudah diketahui oleh warga dusun dan perangkat desa.

Untuk menguatkan alibinya itu, Supadi juga menegaskan bahwa dia saat ini berkuliah di fakultas hukum di salah satu perguruan tinggi. Karena itu, bila menggunakan gelar akademis pasti SH bukan SE yang merupakan gelar sarjana ekonomi.

Sosok yang baru terpilih sebagai kades Tarokan untuk periode kedua tersebut diseret ke pengadilan karena laporan gelar palsu oleh warga desanya. Setelah dipastikan sebagai tersangka dan kemudian kasusnya disidangkan, Supadi dijerat pasal 93 junto pasal 28 ayat (7) UURI nomor 12 / 2012  tentang pendidikan tinggi. Supadi didakwa menandatangani berkas dengan memberikan titel akademis di belakang namanya.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia