Sabtu, 06 Jun 2020
radarkediri
Home > Kolom
icon featured
Kolom
BADRUS

Alquran dan Kesemrawutan Budaya

19 Mei 2020, 16: 42: 57 WIB | editor : Adi Nugroho

Badrus

Oleh : Badrus (radarkediri)

Share this          

Budaya manusia telah berjalan begitu jauh. Telah menyumbangkan teknologi tinggi bagi dunia. Memudahkan manusia dalam segala urusan. Serta membuat kebebasan manusia dalam berpikir dan menikmati dunia ini (hedonism).

Di sisi lain budaya manusia telah melenceng dari poros utamanya. Karena itu Alquran perlu terus-menerus dipelajari.  Sebagai rujukan untuk mengembalikan budaya manusia ke titik kebenaran universal.

Kroeber dan Parsons (1958) mendefinisikan budaya manusia yaitu entitas yang berisi pola, nilai, ide, dan sistem simbol yang bermakna lainya dalam pembentukan tingkah laku manusia. Definisi Kroeber ini padat dan mencakup berbagai hal terkait dengan sistem dan semua tingkah laku manusia. Definisi Kroeber ini disederhanakan oleh Koentjaraingrat. Bahwa budaya terdiri dari tiga hal. Ide, perilaku, dan hasil karya manusia.

Tiga unsur itu memetakan tinggi rendahnya budaya bangsa. Semakin banyak ide suatu bangsa semakin tinggi pula budaya bangsa. Semakin etis, kreatif, dan inovatif perilaku masyarakat semakin tinggi pula budaya bangsa. Dan semakin berkembang karya dan produk bangsa maka semakin tinggi pula budaya bangsa.

Contoh, ketika negara menggerakkan sistem berkarya pada masyarakat dan negara sangat menghargai dan menjaga sejumlah karya yang dihasilkan, masyarakat pun akan bergerak pada karya-karya mandiri yang prestisius. Sebaliknya, ketika negara menggulirkan isu-isu berkarya pada masyarakat tetapi sistem berkarya tidak dibentuk secara rapi dan tidak dihargai atau tidak ada sistem yang menjamin keberlangsungan,  masyarakat cenderung frustasi. Tidak mau lagi berkarya. Ini membahayakan kelangsungan budaya  ide bangsa.

Bangsa juga perlu menjaga budaya perilaku. Satu budaya yang terbentuk dari aktivitas masyarakat yang disepakati bersama. Kesepakatan bersama itu tidak berarti berlaku universal. Di sana ada penyimpangan hukum dan fitrah manusia. Sementara sistem yang dibentuk tidak berjalan dengan baik.

Pada akhirnya kesepakatan bersama itu tetap berjalan. Malah menjadi budaya baru. Kasus penyimpangan perilaku di negeri ini yang terasa risih di hati, seperti cara politisi dalam mewujudakan posisi karirnya. Mulai dari tingkat desa (kades), kabupaten (bupati), provinsi (gubernur), dan wakil rakyat daerah sampai pusat. Mayoritas, kalu tidak boleh dibilang semua, menggunakan cara money politics.

Cara yang ditempuh politisi tersebut jelas menyimpang. Namun sekali lagi bangsa (baca masyarakat dan komponen negara) belum mampu mengembalikan penegakan hukum yang murni. Padahal imbas dari penyimpangan budaya perilaku ini sangat merusak di semua lini.

Untuk mengembalikan penyimpangan budaya ini diperlukan ikhtiyar keteladanan, kemauan politik yang benar (political will),  dan ketegasan dari semua lini. Ikhtiyar ini akan tercapai manakala menggunakan rujukan ilahiah sebagai standar kebenaran universal. Yakni Alquran al karim.

Alquran diturunkan ketika budaya jahiliyah kuat saat itu. Berhala buatan sendiri dipuja-puja dan disembah. Menganggapnya sebagai tuhan yang melindungi, memberi nasib baik, dan menyelamatkan hidup. Wanita dianggap bermartabat rendah. Bahkan tidak berguna. Ketika keluarga melahirkan anak perempuan mereka malu dan hina. Lebih baik dibunuh (QS Az Zuhruf:17).

Aneka bentuk pernikahan jadi tradisi. Nikah istibdha, poliandri yang bertujuan memperbaiki keturunan, nikah ar-rahtu yang kita kenal sebagai kumpul kebo, dan nikah dzawatu rayah, pernikahan tanpa ikatan kecuali bayar di tempat usai perzinahan.

Budaya suap juga berjalan. Khususnya penyapan pada hakim. Karena itu Allah menurunkan wahyu kedua, Al-Mudatsir ayat 6. “Janganlah kamu memberi dengan maksud memperoleh yang lebih banyak.” Ayat lain menegaskan ”dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang batil dan janganlah kamu membawa urusan harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan harta sebagian harta benda orang lain itu dengan jalan dosa, padahal kamu mengetahui” (QS Al Baqarah: 188).

Ayat tentang pencegahan suap itu sangat ditegaskan Allah di awal wahyu. Menandakan bahwa suap adalah tindakan yang berakibat merusak tatanan kehidupan. Keadilan, etos kerja, dan hak-hak kemanusiaan akan rusak akibat suap yang membudaya.

Kini budaya suap di negeri ini sudah cukup serius membahayakan. Pemerintah dan segenap masyarakat harus memaksa diri memerangi suap. Agar kehidupan menjadi dinamis. Begitu pula arena berlomba dalam kebaikan akan hidup lagi

Akhirnya, catatan penting yang dapat diambil adalah dari kesemrawutan budaya jahiliah itu, Alquran diturunkan menjadi petunjuk bagi manusia (hudal lin nasi). Agar kehidupan menjadi terarah sesuai dengan fitrahnya. Di samping itu Alquran sebagai pedoman hidup (way of life) juga memberikan garis pembeda (furqan) secara tegas. Mana yang baik dan mana yang buruk. Karena itu Alquran menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan: toleransi, kebenaran, kejujuran, ketulusan, dan kasih sayang. Ini semua dalam rangka mewujudkan kehidupan manusia yang aman, damai, dan sejahtera. Semoga. (Penulis adalah dosen Pascasarjana  IAI Tribakti Lirboyo Kediri)

 

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia