Sabtu, 06 Jun 2020
radarkediri
Home > Kolom
icon featured
Kolom
Dr NIA SARI M Kes

Peran Ibu di Tengah Wabah

19 Mei 2020, 05: 41: 58 WIB | editor : Adi Nugroho

Dr. Nia Sari, M.Kes

Oleh : Dr. Nia Sari, M.Kes (Ilustrasi: Afrizal - radarkediri)

Share this          

 

 

 

Sudah lebih tiga bulan Indonesia menghadapi pandemi Covid-19. Kasus terkonfirmasi positif masih terus menanjak naik.  Beberapa ahli memprediksi di Indonesia pandemi ini akan berakhir pada pertengahan Juni 2020. Tapi ahli ekonomi mengatakan jika efek pandemi ini akan terasa sampai akhir tahun 2020. Berbarengan dengan itu terjadilah krisis ekonomi yang sekaligus juga terjadi  krisis pangan. Tentu jika demikian yang terjadi, tanpa mengabaikan yang dialami para bapak, peran ibu rumah tangga menjadi penting.

Imbauan “di rumah saja” terasa bagai pedang bermata dua. Bisa menjadi berkah sekaligus musibah. Berkah karena kemungkinan selamat dari hantaman wabah. Musibah karena di dalam rumah sulit cari nafkah. Inilah yang menuntut ibu rumah tangga untuk bekerja keras (double bourden). Membagi waktu untuk bekerja. Menjadi guru untuk anak-anak. Dan menyiasati ekonomi keluarga agar bisa bertahan di tengah wabah.

Di rumah, seorang ibu tiba-tiba harus menjadi guru. Semua anaknya menuntut ibu menguasai semua ilmu. Semua mata pelajaran untuk beberapa kelas yang dihuni anaknya harus dikuasai tuntas.  Menyelesaikan berbagai pekerjaan rumah di samping tuntutan membimbing anaknya bak guru di sekolah. 

Selain itu, ibu rumah tangga bertanggung jawab terhadap asupan gizi keluarga. Memastikan anggota keluarga selalu sehat dan tidak tertular Covid-19.   Mengajarkan anak-anaknya untuk terus menjaga perilaku hidup bersih dan sehat. Sering cuci tangan pakai sabun dan air mengalir, menjaga jarak, dan tidak keluar rumah. Pandemi ini memang berimplikasi pada semua sektor. Termasuk ketahanan pangan keluarga.

Beberapa ahli yakin saat ini Indonesia tidak mengalami krisis pangan. Tapi hal tersebut tidak menjamin gampang dicari buktinya.  Haruslah dipahami bahwa ketahanan pangan nasional dibangun oleh ketahanan pangan regional. Ketahanan pangan regional dibangun oleh ketahanan pangan keluarga yang terus-menerus dijaga.

Keluarga yang memiliki ketahanan pangan dicirikan sebagai keluarga yang mampu memenuhi kebutuhan pangannya secara terus-menerus selama satu tahun. Terpenuhi dari segi jumlah,  aman dari sisi konsumsi dan produksi panganya.

Ada empat aspek ketahanan pangan. Yaitu ketersediaan pangan, akses ter­hadap pangan, aspek konsumsi, dan ke­stabilan sistem pangan.  Dan sebagai pilar ketahanan pangan keluarga adalah ibu rumah tangga. Ibu harus memiliki kemampuan untuk mengatur kebutuhan dapur. Tentu dengan kerjasama serta tanggung jawab bapak sebagai kepala keluarga.

Dalam rangka menjaga ketahanan pangan keluarga, ada tiga hal yang penting yang sebaiknya diperhatikan ibu. Pertama, menganalisa keuangan keluarga. Dengan melakukan pemangkasan biaya yang tidak perlu. Dahulukan kebutuhan prioritas, sebagaimana makanan sehat namun murah, kuota internet untuk bekerja, vitamin dan asuransi, dibandingkan lainnya. Sedangkan pengeluaran pribadi, ada baiknya untuk ditunda terlebih dahulu.

Kedua, ibu harus kreatif melakukan pengelolaan lahan kosong (pekarangan) untuk digunakan sebagai tempat menanam tanaman yang memiliki manfaat kebutuhan pangan. Terkait hal ini Menteri Pertanian  Syahrul Yasin Limpo menyebutnya sebagai family farming. Hasil dari pekarangan rumah tidak hanya untuk kebutuhan pangan keluarga. Tetapi juga untuk mengurangi pengeluaran keluarga. Karena ketahanan pangan keluarga tidak hanya soal keluarga itu tercukupi kebutuhan pangannya. Tetapi juga bagaimana sebuah keluarga memproduksi kebutuhan pangannya dengan berbasis kearifan lokal tentunya.

Ketiga, adalah diversifikasi pangan. Ibu sebagai penanggung jawab konsumsi pangan keluarga diharapkan mulai melakukan diversifikasi pangan keluarga dengan menyajikan makanan non-beras sebagai makanan pokok keluarga. Pembiasaan konsumsi diversifikasi pangan sejak kecil yang dilakukan ibu rumah tangga akan menjadi tonggak diversifikasi pangan nasional. Hal ini tentunya dengan berbekal pangan dari potensi dan kearifan lokal.

Sejumlah peran ibu rumah tangga inilah yang menjadi pilar ketahanan pangan keluarga dan konstribusi menunjang ketahanan pangan nasional. Persoalan ketahanan pangan keluarga semestinya menjadi prioritas yang harus diselesaikan saat ini. Dan untuk itu diperlukan sebuah perencanaan yang matang dan konsisten agar ketahanan pangan tetap terjaga. Harapannya, semoga bangsa Indonesia segera terbebas dari pandemi Covid-19 ini. Amin ya Rabb. (penulis adalah komisioner KPU Kota Kediri)

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia