Sabtu, 15 Aug 2020
radarkediri
Home > Kolom
icon featured
Kolom
Ndara Bei

-- Sakarepmu --

16 Mei 2020, 13: 29: 34 WIB | editor : Adi Nugroho

Ndara Bei

Ndara Bei (Ilustrasi: Afrizal - radarkediri)

Share this          

Seminggu lagi Idul Fitri 1441 Hijriyah sudah menjemput. Setidaknya bila hitungannya pas dengan penanggalan di kalender yang sudah terpasang di dinding rumah Ndara Bei. Angka dengan warna menyala, merah, masih belum cukup menjadi penanda. Ada lingkaran spidol yang juga berwarna merah di angka tersebut. Tebal.

Ndara Bei memandang angka merah itu dari kursi malasnya. Berselonjor kaki di teras belakang. Memandangi deretan tanaman sri rejeki beraneka macam. Cantik, segar, sebagian daunnya juga merona merah. Buah ketelatenan si Limbuk, istri abdi setianya, Mbilung.

Di tangan pensiunan ambtenaar ini masih tergenggam lembaran koran pagi. Di sebelahnya, di meja samping kursi malas, tersaji secangkir kopi yang telah kosong. Sahur tadi, cangkir itu terisi kopi nasgitel buatan si Limbuk. Panas, legi, tur kentel. Khas kesukaan Ndara Bei. Meskipun gulanya sudah berganti dari gula pasir buatan pabrik gula menjadi gula rendah kalori untuk menekan ancaman diabetes si ndara.

Sepasang bulatan di balik kacamata plus Ndara Bei bergerak-gerak. Memandangi beberapa berita tentang kebijakan Ingkang Sinuhun Agung, sang penguasa. Yang kembali membolehkan mudik. Meskipun dengan beberapa persyaratan ketat.

Benak Ndara Bei langsung melayang pada obrolan dengan sejawat sesama pensiunan tadi pagi usai subuh. Obrolan yang sempat terjadi kala mereka sama-sama mlaku-mlaku isuk mengitari jalanan desa.

“Kayake sida riyaya tenan iki...,” ucap teman pensiunan Ndara Bei. Suaranya agak tersengal karena mulutnya tertutup selapis kain masker bermotif tenun.

“Maksudmu kuwi apa? Jenenge riyaya ya mesti sida,” timpal Ndara Bei, sembari berjalan bersebelahan tapi berjarak. Mempraktikkan physical distancing anjuran WHO, lembaga kesehatan dunia yang kini jadi rujukan semua negara dalam melawan pagebluk korona.

“Nang dalan-dalan wis rame neh. Ora sepi kaya awal-awal pemerintah ngumumno pandemi korona iki,” si teman melanjutkan. Tak jelas apakah dia tersenyum atau tidak saat mengucap itu karena mulutnya tetap tertutup kain.

“Anjuran negara supaya wong pada nang omah wis ora pati digugu. Nang pasar-pasar uga rame. Padet wong pada blanja,” sambung si teman.

“Lha kepriye kuwi wong-wong. Apa ora pada wedi terinfeksi. Lha jumlahe sing kena kan tambah akeh,” timpal Ndara Bei.

“Wis mbuh kuwi. Wong-wong pada ra betah dikongkon stay at home. Manggon nang omah. Pada kangen keluyuran.”

“Sugeng enjing Ndara.”

Suara khas yang dihapalnya itu membuat Ndara Bei tersentak dari lamunannya. Koran terlepas dari tangannya dan jatuh ke lantai. Wajah Mbilung muncul di depannya. Di tangannya terpegang bungkusan dari daun pisang. Dengan sunduk dari lidi kelapa di ujung atas.

“Dari mana Lung?” tanya sang bendara.

“Pasar Ndara,” jawab Mbilung sembari duduk selonjor di dekat sang bendara. Badannya dia rebahkan ke lantai. Terasa dingin di punggungnya. Bungkusan dari daun pisang itu dia letakkan di lantai juga.

“Apa itu?” Ndara Bei masih menyelidiki perilaku abdi setianya itu.

“Cenil Ndara. Untuk buyung dan upik. Apa Ndara mau?” goda Mbilung.

“Apa kamu ndak takut ke pasar dalam kondisi seperti sekarang ini?” tanya Ndara Bei dengan mata melotot bulat. “Pasar itu bisa jadi tempat penularan virus lho Lung,” tambah si Ndara. Ada nada ancaman di perkataan terakhir sang bendara.

“Ah, biasa saja Ndara. Lagian, saya sama Limbuk kan pakai masker Ndara. Masuk pasar juga cuci tangan. Keluarnya juga cuci tangan. Sampai rumah pun masih cuci tangan,” Mbilung memang pandai menjawab.

“Lagian, kalau ke pasar saja ndak boleh, trus para pedagang yang di sana itu barangnya siapa yang beli? Lha untuk nguripi anak bojone juga apa ta Ndara?” kali ini Mbilung mencoba menyerang balik pertanyaan si bendara.

“Ah, mboh wis Lung, sakarepmu wis. Pokoke bar teka pasar jangan dekat-dekat aku. Sana, kamu mandi keramas dulu. Ndang kunu, mumpung belum tak sawat sendal kamu....,” kali ini kemarahan si bendara jelas terlihat di nada suaranya. Membuat Mbilung pun segera ambil langkah seribu. Pergi ke pondoknya, kemudian bergegas masuk kamar mandi. Suara cebar-cebur air pun terdengar sayup.

Sementara, Ndara Bei menjumput handphone-nya yang berdering. Ada pesan masuk di grup WA yang dia ikuti. Ada foto, yang menggambarkan seorang petugas medis dengan wajah terlindung sangat ketat memegang lembaran kertas di depan dadanya. Tulisan di kerta itu berbunyi : INDONESIA??? TERSERAH!!! Suka-suka kalian saja. Atau istilah si bendara, wis sakarepmu wis! (mahfud)

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia