Kamis, 09 Jul 2020
radarkediri
Home > Politik
icon featured
Politik

Musim Hujan Belum Berakhir, Ini Prediksi BMKG

13 Mei 2020, 21: 45: 57 WIB | editor : Adi Nugroho

hujan kediri

GELAP: Mendung hitam menggelayut di langit di Desa Sambiresik, Kecamatan Gampengrejo sore kemarin. Suasana seperti ini sering terjadi di Kabupaten Kediri satu pekan terakhir. (Didin Saputro - radarkediri)

Share this          

KABUPATEN, JP Radar Kediri - Musim kemarau belum sepenuhnya datang. Musim hujan pun, tentu saja, belum benar-benar tuntas. Meski sempat mereda bulan lalu, hujan lebat dengan intensitas curah yang tinggi kembali terjadi di kawasan Kediri.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geologi (BMKG) memprediksi hujan masih terjadi hingga akhir Mei. Intensitas hujan baru akan berkurang pada Juni mendatang.

Kepala Stasiun Geofisika Kelas III Sawahan, Nganjuk, Muh. Chudori menyampaikan bahwa musim hujan diperkirakan masih akan terjadi di wilayah Jawa Timur. Khususnya di minggu pertama hingga ketiga.

 “Saat ini masih musim transisi atau perubahan dari musim penghujan ke kemarau,” terang Chudori.

Menurutnya, pancaroba ini akan berlangsung hingga bulan depan. Artinya awal kemarau adalah ketika memasuki Juni. Chudori menyatakan bahwa pada bulan itu diperkirakan hujan sudah mulai berkurang.

“Nantinya untuk puncak kemarau adalah Agustus,” jelasnya.

Terkait kondisi saat ini dia mengimbau agar masyarakat tetap waspada. Karena cuaca masih tak menentu dalam beberapa hari ke depan. Meskipun hujan tak datang setiap waktu tapi ancaman bencana banjir dan angin kencang masih terbuka. Bahkan, beberapa waktu lalu, di sejumlah daerah angin kencang juga membuat pohon di jalan protokol tumbang. Baik di Kabupaten maupun Kota Kediri.

Sementara itu, Plt Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kediri Slamet Turmudi mengatakan, hujan lebat memang masih terjadi sepanjang Mei ini. Pihaknya memastikan bahwa musim penghujan belum berakhir. Bahkan hingga akhir bulan nanti, hujan lebat di Kabupaten Kediri pun, kata Slamet juga masih mengancam. Sehingga pihaknya mengimbau masyarakat untuk tetap waspada ditengah situasi pancaroba seperti ini.

“Kami, BPBD, selalu waspada terhadap kemungkinan terjadinya bencana. Termasuk bencana banjir,” ungkapnya.

Kemarin bencana banjir juga terjadi di Desa Ngablak, Kecamatan Banyakan. Dia menyebut bahwa daerah itu sangat rawan terjadi banjir. Kejadian kemarin itu bukan kali pertama. Pada Maret lalu kawasan ini juga diterjang banjir. Termasuk pada 2018 lalu juga pernah terjadi bencana serupa.

Hal ini akibat tanggul di pertemuan dua sungai yang jebol. Menurut Slamet daerah itu cukup rawan karena ketika arus sungai dari Bendomongal sangat deras. Bila itu terjadi maka air akan langsung menerjang tanggul yang ada di Sungai Bendokrosok. Hal itulah yang membuat tanggul tak bisa menahan derasnya arus sungai yang berasal dari wilayah lereng Gunung Wilis itu.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia