Sabtu, 04 Jul 2020
radarkediri
Home > Catatan
icon featured
Catatan
PUSPITORINI DIAN

-- Nyangkruk --

11 Mei 2020, 01: 18: 50 WIB | editor : Adi Nugroho

Puspitorini Dian Hartanti

Oleh : Puspitorini Dian Hartanti (radarkediri)

Share this          

Duduk bersantai, ngobrol ngalor ngidul, dan tak lupa secangkir kopi. Itulah cangkrukan. Baiklah...tambahkan lagi malam minggu, duduk di kafe, warung kopi pinggir jalan dengan sepiring tahu goreng kress atau pisang goreng yang panas.

Itulah gambaran lazim sebelum si korona datang. Nyaris di tiap kafe hingga warung kopi yang ada di pusat Kota Kediri penuh pengunjung. Bahkan, angkringan-angkringan yang tersebar di beberapa lokasi pun tak pernah sepi.

Ya..cangkrukan alias ngopi seakan menjadi budaya yang susah ditinggalkan warga +62. Termasuk warga Kediri. Ketika akhirnya wabah datang, dan tempat cangkruk berubah jadi tempat take away alias makan wajib dibawa pulang, yang terjadi adalah sepi. Para pengelola kafe pun memilih menutup tempat jualannya. Yang lain memilih berjualan kopi secara online. Pilihan terbaik dibanding harus merumahkan karyawan.

Jika si pengelola harus berpikir kreatif mencari tambahan pemasukan, bagaimana dengan para penggemar cangkrukan? Sehari, dua hari, seminggu mungkin masih betah di rumah. Bikin kopi sendiri, bikin camilan sendiri, dan bikin kegiatan sendiri yang kadang ndak jelas.

Setelah itu? Mulailah resah. Bingung melanda. Kangen ngobrol dengan orang lain secara fisik. Tak sekadar lewat zoom, whatsapp, atau google meet. Semua tetap terasa beda.

Sampai akhirnya, kesempatan itu tiba. Saat pasien positif korona semakin banyak dan tersebar. Saat tak lagi dengan label sakit yang dicurigai membawa virus korona. Warga pun melakukan banyak antisipasi. Menutup jalur perumahan, gang, dan menetapkan jam malam. Akhirnya, diterapkan jaga bergiliran dan suka rela dari warga.

Makanya, sekarang jangan kaget, jika akhir-akhir ini, saat malam hari, sangat mudah ditemui orang berkumpul di pintu masuk rumah dan gang-gang. Tak hanya lima orang, tapi puluhan. Ngobrol, main kartu, nyemprot disinfektan, dan tentu saja ngopi sambil nyemil. Tak hanya orang tua, anak muda hingga anak kecil pun menjadikan tempat penjagaan menjadi ajang mengobrol santai alias nyangkruk.

Tak apa. Tak masalah. Apalagi, saat akhir-akhir ini tensi kejahatan mulai naik. Siapa penjahat yang bakal berani menyatroni rumah kalau harus melewati penjagaan dengan sebegitu banyak orang. Bahkan, warga sendiri lewat pun sungkan. Belum lagi buat warga lain yang harus melewati banyak pertanyaan sebelum masuk ke perumahan.

Cuma, yang membuat miris, masih ada saja yang tidak menggunakan protokol kesehatan menekan penularan Covid-19. Minimal adalah menggunakan masker atau setidaknya menjaga jarak. Meski, sebagai orang yang termasuk anggota pecinta nyangkruk, ngobrol dengan menjaga jarak adalah hal yang menyiksa. Nggak asyik. Belum lagi ndak kedengaran apa yang diobrolin.

Sebenarnya ndak perlu ribet. Cukup pakai masker kain yang sekarang sudah mudah ditemukan. Banyak orang baik yang berbagi masker gratis. Tak ada alasan untuk tidak memiliki. Jika tak nyaman, sesekali tak apalah masker dipindah ke dahi, dagu atau ke leher...hehehe.

Tapi memang itulah konsekuensi saat wabah datang. Semua harus mengalami serba keterbatasan. Berkorban mengurangi kesenangan nyangkruk dengan kebebasan maksimal. Daripada benar-benar ndak boleh cangkrukan? Tidak lucu kan, kalau maksud baik jadi bumerang di belakang hari. Ingatlah, Covid-19 memang tidak boleh ditakuti, tetapi harus diwaspadai. Menggunakan masker, rajin cuci tangan pakai sabun dan tetap jaga jarak harus tetap menjadi cara yang perlu diingat di setiap aktivitas kita sehari-hari. Termasuk Cangkrukan.

Bagaimanapun, semoga wabah ini segera berlalu. Kehidupan kembali normal, kafe-kafe dan warkop kembali buka. Menjadi tempat sosialisasi, adu kreatif, brain strooming dan kegiatan positif lainnya. Dan tentu saja yang tidak boleh lupa adalah tempat memopulerkan kopi asli nusantara. Monggo ngopi..#di rumah saja. (penulis adalah wartawan Jawa Pos Radar Kediri)

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia