Rabu, 08 Jul 2020
radarkediri
Home > Ekonomi
icon featured
Ekonomi

Hadapi Krisis Korona, UMKM Gencar Promo hingga Keliling Kampung

22 April 2020, 12: 53: 06 WIB | editor : Adi Nugroho

umkm kediri

NALAR ENTREPRENEUR: R. Yogiantoro (kiri) menyerahkan trofi Kadin Award kepada Istibingatin, pemenang kategori mamin khas berkearifan lokal, di kantor Kadin Kabupaten Kediri kemarin. (Tauhid Wijaya – radarkediri)

Share this          

KABUPATEN, JP Radar Kediri - Meski diakui berat, situasi krisis akibat pandemi Covid-19 tak membuat para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kabupaten Kediri menyerah. Mereka terus memutar otak agar usahanya tetap bisa bertahan. Mulai dari menggencarkan promosi, melakukan marketing jemput bola, hingga mengalihkan sementara jenis usahanya.

Hal itu disampaikan mereka di sela-sela penyerahan trofi dan hadiah pemenang Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Award Kabupaten Kediri, kemarin. Galih Punta, owner keripik daun singkong Crius, misalnya. Karena pasar utamanya ada di online, dia mengaku menggencarkan promosi di jalur ini. “Kasih bonus-bonus pembelian. Misalnya bonus hand sanitizer atau bonus masker. Juga gratis ongkir (ongkos kirim, Red),” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Kediri di kantor Kadin.

Diakuinya, krisis korona kali ini cukup memukul usahanya. Penjualan offline di sejumlah pusat oleh-oleh drop. Sebab, mobilitas masyarakat juga turun drastis. Makanya, dia mencoba mengoptimalkan penjualan di jalur online. Sekalipun kondisinya juga tidak mudah. “Jakarta barang sudah tidak bisa masuk,” kata pemuda 19 tahun asal Asmorobangun, Puncu itu memberi contoh.

Karena itu pula, Punta tidak berani menargetkan penjualannya naik pada Ramadan dan Lebaran nanti. Padahal, biasanya, kenaikan volume penjualannya bisa sampai 50 persen. “Tidak turun saja sudah bagus,” tuturnya yang saat ini masih tetap mempekerjakan lima karyawan untuk produksi. Mereka tidak ada yang dirumahkan.

Hal berbeda disampaikan Gatot Siswanto, owner tahu sekaligus pusat oleh-oleh GTT. Bersiasat terhadap krisis korona kali ini, ia berupaya untuk melakukan marketing door to door lagi. “Kembali lagi ke apa yang dulu pernah kita lakukan. Jualan keliling kampung pakai mobil. Jemput bola,” terang lelaki yang juga pengurus Kadin ini. Tidak hanya membawa produk tahunya. Melainkan juga produk-produk UMKM lainnya.

Berbeda dengan Punta yang mengandalkan penjualan di jalur online, Gatot justru mengaku omzetnya lebih banyak didapat dari penjualan di toko offline. “Online hanya sekitar 20-30 persen,” akunya. Karena itulah marketing jemput bola lebih dia andalkan sebagai siasat kali ini. Sebab, omzet di toko sudah turun drastis akibat mobilitas masyarakat yang memang harus dibatasi.

Ini dilakukan, setidaknya, agar karyawannya juga bisa tetap bertahan. “Sekarang saya sudah berlakukan 15 hari masuk bergantian,” terangnya memberikan gambaran kesulitan yang dihadapi pengusaha UMKM sepertinya. Ini untuk menyelamatkan keuangan usaha sekaligus menghindari pemutusan hubungan kerja (PHK) karyawan. “Ya, memang harus sama-sama mau memahami keadaan,” lanjutnya.

Berbeda lagi dengan yang dilakukan Istibingatin, pemilik usaha kletikan nanas Bumi Ayem. Meski terpaksa berhenti dulu berproduksi, dia tak mau menyerah begitu saja. “Sementara saya bertani jagung dulu,” ucap perempuan asal Ngancar ini.

Mengapa? “Jagungnya bisa saya jual. Klobotnya buat stok bungkus kletikan nanti kalau berproduksi lagi,” jawabnya. Pengolahan klobot sebagai bungkus kletikan itu juga bisa mempekerjakan warga sekitar. “Hadiah uang pembinaan ini juga akan saya gunakan untuk kulakan bahan baku, gula. Jadi, kalau nanti situasi sudah pulih, bahan baku sudah siap semua untuk produksi,” lanjutnya.

Istibingatin memang benar-benar terpukul dalam krisis ini. Maklum, dia mengandalkan sepenuhnya penjualan produknya di tempat-tempat wisata. Begitu tempat-tempat wisata di kabupaten ini ditutup akibat korona, otomatis dia tidak bisa jualan lagi. “Saya belum terpikir untuk masuk online. Mungkin setelah ini,” ucapnya.

Ketua Umum Kadin Kabupaten Kediri Rahmadi Yogiantoro mengatakan, semua pelaku usaha di semua level terimbas oleh krisis Covid-19 kali ini. Bukan hanya pengusaha mikro, tapi juga pengusaha besar. Di sinilah nalar entrepreneurship menemukan tantangannya. “Pengusaha tidak boleh menyerah. Harus putar otak agar bisa bertahan,” katanya di sela awarding yang menerapkan aturan physical distancing dan wajib bermasker itu.

Makanya, Yogi –panggilan akrabnya—mengapresiasi para pelaku UMKM yang punya banyak siasat agar bisa bertahan dalam krisis kali ini. “Saya sendiri melakukannya. Jangan segan untuk banting setir menyikapi keadaan. Sambil lihat peluang dari supply and demand di masyarakat,” ujar Yogi memberi tip. Usahanya di bidang energi ikut terimbas krisis korona ini. Dia pun mencoba beralih ke sektor lain.

Penyerahan hadiah dan trofi Kadin Award kemarin berlangsung sangat sederhana. Disaksikan pengurus Kadin dan para pendukung acara, ada lima pemenang yang mendapatkannya. Masing-masing adalah Winarko (sikat senar asal Bangkok, Gurah) untuk kategori UMKM kreatif difabel. Lalu, Yudi W. (kerajinan bambu asal Wanengpaten, Gampengrejo) untuk kategori UMKM ramah lingkungan dan pemanfaatan limbah. Galih Punta (keripik daun singkong) untuk kategori UMKM milenial.

Kemudian Titik Sulistyowati (batik lukis Sangkara asal Gedangsewu, Pare) untuk kategori UMKM fashion and craft. Serta, Istibingatin (kletikan nanas Bumi Ayem) untuk kategori makanan minuman khas berkearifan lokal.

Mereka terpilih setelah melalui seleksi administrasi dan lapangan secara ketat. Dari lebih 200 UMKM yang bernaung di bawah Kadin, sebanyak 80 di antaranya masuk dalam seleksi administrasi. Setelah melalui seleksi ketat, masing-masing kategori menyisakan dua finalis untuk dinilai langsung lewat kunjungan lapangan, 4 Maret lalu.

Dari situlah ditentukan pemenang masing-masing. Selain dari pengurus Kadin, tim juri terdiri dari sejumlah unsur. Yakni, Jawa Pos Radar Kediri, pembina masyarakat UMKM, Bank Jatim, dan BPJS Ketenagakerjaan. Pemenang mendapat hadiah trofi, uang pembinaan Rp 2 juta dan merchandise. “Semoga ini bisa menyemangati teman-teman UMKM untuk terus bertahan dan bangkit menghadapi krisis Covid-19 ini,” tandas Yogi.

Sebenarnya, awarding sudah direncanakan digelar 18 Maret lalu di gedung Bagawanta Bhari dengan mengundang banyak orang. Namun, dibatalkan karena krisis korona. Acara kemarin hanya mengundang lima pemenang dan perwakilan sponsor. Semua jaga jarak dan mengenakan masker.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia