Sabtu, 04 Jul 2020
radarkediri
Home > Catatan
icon featured
Catatan
MAHFUD

Social (Media) Distancing

12 April 2020, 18: 44: 56 WIB | editor : Adi Nugroho

Mahfud

Oleh : Mahfud (radarkediri)

Share this          

Kutipan di bawah judul tulisan di atas penulis sadur dari ucapan Wali Kota Bogor Bima Arya. Kebetulan saat ini sang wali kota tengah dalam proses penyembuhan karena positif terinfeksi Coronavirus Disease 2019,  yang kemudian di-akronimkan menjadi Covid-19. Sang wali kota itu pula yang kemudian membuat istilah social media distancing menjadi populer.

Mengapa sang Wali Kota Bogor itu harus men-distancing-kan social media, yang dalam bahasa kita menjadi media sosial, itu? Tak cukupkah hanya dengan social distancing? Atau physical distancing?

Semuanya tak terlepas dari kegalauan sang PDP positif tersebut. Sejak terbukti bahwa dirinya terinfeksi virus ini, sang wali kota memang harus menjalani karantina. Isolasi. Nah, salah satu yang dibutuhkan agar bisa segera survival, jadi penyintas, adalah faktor daya tahan tubuh. Imunitas.

Padahal, menurut Bima Arya, ketika membaca berbagai postingan di medsos, membuat mentalnya runtuh. Berimbas pada menurunnya daya tahan tubuh akibat kondisi psikis yang tak mendukung.

Di era milenium ini, kehadiran medsos memang keniscayaan, bagi mayoritas warga dunia. Bagi yang berusaha ‘mengucilkan’ diri dari ‘makhluk’ yang lahir dari melesatnya kemajuan internet tersebut, hampir pasti akan ‘terkucil’. Terkucil dari pergaulan. Meskipun, tak sedikit pula yang tetap memilih ‘jalan sunyi’ itu. Tak ingin, atau membatasi, bermedsos.

Ibarat pisau bermata dua, medsos bisa jadi sesuatu yang membantu tapi sekaligus momok yang menakutkan. Medsos bisa dengan cepat memberitakan sesuatu kabar, meskipun dengan akurasi yang rendah. Berita yang bahkan oleh media online masih dicari konfirmasinya bisa langsung terbang bebas di dunia maya.Tanpa kontrol. Tanpa saring. Langsung menuju sendi-sendi kehidupan kita. Menerobos ke kamar-kamar privat.

Ironisnya, kita melihat informasi yang berseliweran di social media itu sebagai satu kebenaran absolut. Tak peduli bahwa berita itu belum terkonfirmasi. Yang penting bahwa mereka mendapat sesuatu kabar baru. Menarik. Semakin baru kabar itu, semakin tergugah hasrat mereka untuk menggerakkan jari. Menekan tombol share. Meneruskan ke yang lain bahkan ketika kita belum membaca semuanya!

Kita tidak mau tahu bila kabar itu bisa menjadi stigma. Menjadi anggapan buruk banyak orang kepada subjek yang kita beritakan. Tak peduli ada orang, atau bahkan banyak orang, yang hidupnya bakal berubah dengan kabar itu.

Mau tak mau, suka atau tidak, dominasi medsos di kehidupan sudah saatnya kita distancing-kan. Kita batasi. Terlebih kala pandemi korona belum terlihat ujungnya seperti saat ini. Salah satu yang membuat situasi kian tak menentu, bagi sebagian besar, adalah tak terkontrolnya social media dalam menyampaikan pesan-pesan tak terkonfirmasi itu. Aturan-aturan dalam UU ITE terbukti belum sepenuhnya efektif meredam sisi buruk medsos. Hanya kasus-kasus tertentu yang terjaring oleh aturan yang juga banyak diperdebatkan ini. Bahkan, ancaman bagi penyebar hoax juga belum berarti banyak. Masih bejibun  pesan-pesan yang tak jelas asal-usulnya, tak jelas sumbernya, berseliweran di kamar-kamar privat kita. Menunggu untuk kita sebarkan ke rekan kita, kolega kita.

Orang-orang seperti Bima Arya kini mulai bermunculan. Sosok seperti Dahlan Iskan, sang mantan Menteri BUMN, pun menyuarakan hal yang sama. Sudahlah, hentikan dulu bermedsos. Medsos telah memberi kita ‘pengetahuan’ yang tak terbatas saat ini. Hingga sebenarnya kita tak lagi perlu mendapat pengetahuan tambahan, khususnya terkait korona. Bahkan, menurut sang mantan menteri itu, pengetahuan kita tentang korona jauh melebihi para expert. Karena mereka yang expert hanya mengonsumsi berita yang bisa mereka logika. Sedangkan kita, mengonsumsi berita apapun yang ada di medsos. Kita lalap mentah-mentah. Tanpa reserve.

Jadi, mari kita mulai mendewasakan diri. Menghentikan semua postingan yang tak berdasar hanya pada gawai kita. Tak perlu lagi kita share ke orang lain. Cukuplah kita menjadi tujuan akhir dari pesan-pesan itu. Kemudian dengan bijak jempol kita arahkan ke tombol del. Mari kita mulai dari diri kita sendiri. (penulis adalah wartawan Jawa Pos Radar Kediri) 

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia