Rabu, 03 Jun 2020
radarkediri
Home > Politik
icon featured
Politik

Covid-19 di Kediri: Zona Merah Dijaga Ketat, 2 PDP Tunggu Hasil Swab

07 April 2020, 19: 51: 39 WIB | editor : Adi Nugroho

Waspada Covid 19 di Kediri

Waspada Covid 19 di Kediri (Ilustrasi: Afrizal - radarkediri)

Share this          

KABUPATEN, JP Radar Kediri - Langkah antisipatif terus dilakukan Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan (GTPP) Covid-19 Kabupaten Kediri. Terlebih setelah adanya 7 kasus orang terkonfirmasi positif. Dua kecamatan pun menjadi perhatian serius. Dua wilayah itu menjadi fokus penjagaan ketat.

Tak terkecuali untuk terus memantau ketat mereka yang terindikasi Covid-19. Meskipun masih berstatus orang dalam risiko (ODR) dan orang dalam pemantauan (ODP).

“Sementara ini wilayah Kecamatan Pare dan Ngadiluwih karena sudah ada kasus positif,” ungkap Ketua Tim GTPP Slamet Turmudi.

Masker untuk Korona

Masker untuk Korona (Ilustrasi: Afrizal - radarkediri)

Menurut Slamet, timnya telah menekankan pada masyarakat untuk lebih peduli terhadap kondisi di Kabupaten Kediri saat ini. Apalagi saat ini tengah dilakukan penelusuran atau tracing di dua wilayah tersebut. Utamanya pada mereka yang pernah kontak langsung dengan para korban. Dan menurutnya, kewaspadaan untuk menanggulangi penyebaran virus ini merupakan tanggung jawab bersama.

“Kami akan memantau secara ketat isolasi warga. Baik yang masuk kategori ODR dan ODP. Termasuk yang pernah kontak langsung dengan pasien positif,” jelas Slamet.

Pemantauan itu adalah upaya untuk mencegah agar orang yang sudah berisiko tetap melakukan karantina di rumah. Yakni dengan sinergitas bersama pemerintahan di tingkat paling bawah, RT dan RW, beserta petugas kesehatan dari puskesmas setempat.

Sejauh ini, mereka yang berisiko itu memang belum menunjukkan gejala berarti. Namun hal itu tentu harus tetap menjadi perhatian khusus. Mereka harus sadar pentingnya isolasi diri. Apalagi, terakhir, dari hasil tes swab ada tiga orang tanpa gejala (OTG) dinyatakan positif Covid-19.

“Kami terus lakukan sosialisasi dan imbauan serta pendekatan kepada mereka akan pentingnya karantina mandiri untuk memutus rantai penyebaran Covid-19 ini,” terangnya.

Sosialisasi itu termasuk imbauan menerapkan physical distancing secara tegas. Yang akan digalakkan oleh tim, baik dari TNI maupun Polri. Sejauh ini mereka terus memantau keadaan sekitar. Termasuk penjagaan di gang-gang masuk di kawasan zona merah. Terutama tempat-tempat yang berpotensi sebagai lokasi kerumunan.

Juru Bicara GTPP dr Ahmad Khotib menambahkan, untuk tindakan lanjutan, pihaknya telah melakukan komunikasi dengan gugus tugas di tiap kecamatan. Agar mereka melakukan monitoring dan tindakan tegas jika ada yang tidak mematuhi anjuran dari tim penanganan. Termasuk tiga orang tanpa gejala yang baru saja dipastikan positif itu. “Ketiganya juga diawasi secara intensif oleh tenaga medis RSKK,” ungkapnya.

Langkah selanjutnya, meningkatkan imbauan kepada msyarakat. Agar mematuhi segala peraturan yang disarankan pemerintah.

Terpisah, terkait kasus PDP di Kecamatan Ngasem yang kemarin dikabarkan negatif setelah pemeriksaan swab, Khotib belum bisa berkomentar lebih jauh. “Semoga hasilnya demikian, namun kami belum dapat informasi resmi dari provinsi,” tandasnya.

PDP asal salah satu desa di Kecamatan Ngasem itu sebelumnya memang bergejala merujuk korona. Bahkan sempat dirawat di fasilitas kesehatan beberapa waktu lalu.

Sementara itu, Pemerintah Desa Tulungrejo, Kecamatan Pare, kian mengintensifkan posko penanganan wabah Covid-19. Posko itu berada di Balai Desa Tulungrejo. Dan didirikan sejak 26 Maret lalu.

Menurut Kades Tulungrejo Nur Khasan, wilayah Tulungrejo sebagian besar mencakup Kampung Inggris. Dan wilayah ini menjadi perhatian karena merupakan domisili korban positif covid-19 pertama  di wilayah Kediri. Selain itu, Kampung Inggris juga merupakan tempat ribuan pelajar dari berbagai daerah bermukim dan belajar. Dikhawatirkan jika pengawasan dan pemantauan tidak dilakukan secara ketat maka dapat mengakibatkan menyebarnya wabah covid-19 

Tujuan dasar didirikannya posko  tersebut adalah untuk mengolah informasi-informasi seputar wabah Covid-19. Baik dari maupun untuk masyarakat sendiri. “Baik itu berupa penerimaan laporan atau aduan dari masyarakat, memberi imbauan dan saran, mengelola bantuan (sosial) untuk proses penanggulangan wabah sendiri,” ungkap Nur Khasan.

Sementara untuk program yang telah dijalankan di posko tersebut adalah sebatas penyuluhan hingga pendataan. Sedangkan program pengelolaan bantuan sosial masih belum dilakukan karena memang belum ada alokasi anggaran khusus untuk sektor tersebut. “Pendataan itu kita lakukan per 6 jam. Tapi memang belum sempurna. Selain warga sekitar, pendatang itu juga kami data semua,” tambah Nur Khasan.

Sementara sebagai sumber pendanaan pendirian hingga operasional posko, Kasi Pemerintahan Supriyantoro mengaku sumber dananya dari bantuan pihak ketiga. “Sejauh ini tidak ada dana dari desa yang dipakai. Sementara ini kami menunggu ADD (alokasi dana desa, Red) dari APBD. Untuk operasional kami adakan sendiri dibantu dari pihak BPBD,” ungkapnya. Rencananya, operasional posko akan dilaksanakan sampai pada 20 April.

Dari Kecamatan Ngadiluwih, daerah-daerah yang dibatasi atau ditutup aksesnya semakin bertambah. Selain di Desa Ngadiluwih yang salah satu ruas jalannya ditutup, kemarin beberapa jalan di Desa Badalpandean pun melakukan hal serupa.

Kepala Desa Ngadiluwih Djoko Hadi Iswandono mengatakan, penutupan jalan yang berada di gang Kauman, Desa Badal itu juga instruksi dari Musyawah Pimpinan Kecamatan (Muspika) Ngadiluwih. Karena sesuai prosedur penanganan Covid-19, jalan terdekat dari area isolasi harus ditutup.

“Jalan itu ditutup karena paling dekat dengan area rumah PDP positif. Jaraknya akses jalan tersebut kan tidak ada 100 meter. Prosedur Covid-19 akses jalan yang berjarak 200 meter harus ditutup,” terang lelaki paruh baya yang saat diwawancarai mengenakan masker hijau itu.

Camat Ngadiluwih Harminto punya keterangan lain. Menurut Ketua Satgas Gugus tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kecamatan Ngadiluwih ini, penutupan akses jalan gang Kauman di Desa Badal merupakan kebijakan dari desa. Seperti yang telah dilakukan di Desa Purwokerto dan Dukuh.

Ketika disingung upaya satgas dalam menangani zona merah Covid-19 di daerahnya, Harminto menjelaskan langkah utama adalah mengisolasi warga yang berdekatan dengan rumah PDP. Kemudian melakukan penutupan jalan. Selain itu Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) juga melakukan penyemprotan selama tiga hari berturut-turut di area tersebut.

“Saya berpesan supaya masyarakat tetap melakukan budaya hidup sehat. Seperti mencuci dengan sabun dan menjaga jarak,” pintanya.

Di Kota Kediri, jumlah pasien dalam pengawasan (PDP) bertambah dua orang. Sepasang suami-istri. Keduanya tengah dirawat di RS Ahmad Dahlan. Asal alamat pasien itu dari Kelurahan Pojok, Kecamatan Mojoroto.

Namun, hingga kemarin hasil swab dari pasutri itu belum keluar. Sehingga belum bisa dipastikan apakah keduanya negatif atau positif terinfeksi Covid-19.

Juru bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan (GTPP) Covid-19 Kota Kediri dr Fauzan Adima menjelaskan hasil tracing yang dilakukan oleh dinkes PDP baru itu tak berhubungan dengan kasus nomor 1 dan 2. “Nggak ada hubungan dengan kasus 1-2 Kota Kediri. (Kasus ini) termasuk cluster baru,” ujarnya.

Saat tracing, pasutri itu punya keterkaitan dengan episentrum Covid-19, DKI Jakarta. Karena sang suami bekerja di Jakarta. Sedangkan istrinya tinggal di rumah. Sang suami itu pulang dari Jakarta sejak satu minggu terakhir. Keduanya dirawat di RS Ahmad Dahlan sejak Sabtu (4/4).

“Menurut hasil tracing memang biasanya sang suami pulang dua minggu sekali,” imbuh Fauzan.

Bila nanti terbukti positif, langkah yang dilakukan adalah isolasi lingkungan rumah. “Isolasi mandiri dengan pengawasan juga,” tambahnya.

Sebelumnya, untuk kasus positif 1 dan 2, pemkot langsung mengikuti dengan isolasi mandiri di lingkungan tempat tinggal penderita. Yaitu perumahan Permata Jingga di Kelurahan Tinalan dan salah satu gang di Kelurahan Balowerti.

Wali Kota Kediri Abdullah Abu Bakar mengimbau kepada seluruh warganya agar melaporkan bila ada yang pulang kampung. Hal itu untuk berjaga-jaga. Pemkot akan melakukan tracing pada yang bersangkutan. “Meski sehat kan bisa saja orang tersebut juga carrier dan bisa menyebarkan ke orang lain,” ujar Wali Kota Abu.

Langkah awal, seperti yang sebelumnya, Pemkot Kediri akan melakukan tracing ke tetangga sekitar serta kontak erat dari PDP yang berada di Kota Kediri. Setelah itu, untuk edukasi dan sosialisasi tetap akan dilakukan. Apalagi yang sudah ada penderitanya. Untuk pasien Kediri Kota 1 dan 2 adalah berasal dari satu lingkungan kerja. Tupoksinya juga menanggulangi persebaran Covid-19 di Kabupaten Kediri.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia