Sabtu, 30 May 2020
radarkediri
Home > Politik
icon featured
Politik

Rumah Karantina di Desa Kwagean, Loceret Menampung Para Pemudik

DD Belum Cair, Pemdes Terpaksa Tombok

06 April 2020, 12: 24: 25 WIB | editor : Adi Nugroho

Rumah Singgah

LAWAN KORONA: Kades Kwagean, Loceret Lusi Wahyu Wigati (3 dari kanan, depan) bersama para perangkat dan warga yang menempati rumah karantina, kemarin. (Lusi Wahyu Wigati for radarkediri.id)

Share this          

Perihal pencegahan penyebaran korona, Desa Kwagean, Loceret satu langkah lebih maju. Desa di wilayah selatan Nganjuk itu sudah mengoperasionalkan rumah karantina sejak minggu lalu. Para pemudik yang dinilai rentan ditampung di sana.

SRI UTAMI, LOCERET. JP Radar Nganjuk

Gedung bercat hijau yang ada di depan Balai Desa Kwagean, Loceret, kemarin siang terlihat ramai. Ada beberapa pria yang duduk di bagian depan. Pun seorang wanita yang tak lain adalah bidan desa setempat.

Selebihnya, sejumlah pria yang memakai masker sesekali juga terlihat keluar dari gedung yang hendak difungsikan untuk pendidikan anak usia dini (PAUD) itu. “Mereka (sejumlah pria yang memakai masker, Red) itu yang kami isolasi,” ujar Kepala Desa Kwagean, Loceret Lusi Wahyu Wigati.

Sekitar pukul 14.00 kemarin, perempuan berjilbab itu memang tengah mengecek gedung yang sejak Senin (30/3) lalu difungsikan sebagai rumah karantina kasus korona tersebut. Para pemudik di Desa Kwagean diarahkan untuk tinggal di sana selama 14 hari sebelum pulang ke rumah.

Tentunya, tidak semua pemudik ditempatkan di sana. Dari total 84 orang perantau yang hingga kemarin pulang ke Kwagean, hanya sembilan orang yang menempati gedung dua lantai itu. “Kami lakukan PE (penyelidikan epidemologi, Red) untuk menentukan apakah mereka perlu dikarantina atau tidak,” lanjut perempuan yang 25 April nanti genap berusia 45 tahun itu.

Salah satu pertimbangannya adalah para pemudik yang pulang dari zona merah. Misalnya, Jakarta, Malang, Surabaya, dan beberapa daerah rawan lagi. Sebelum masuk ke dalam rumah karantina, para perantau itu dicek kesehatannya.

Demikian pula setelah mereka berada di rumah karantina. Setiap hari bidan desa mengecek kondisi kesehatan mereka secara rutin. “Kami pastikan mereka tetap sehat selama proses pemantauan 14 hari,” urainya.

Bangunan berlantai dua seluas 84 meter persegi itu memang sangat representatif. Di sana, total ada empat ruangan yang masing-masing berukuran 6x7 meter. “Sangat luas karena sedianya memang untuk kelas,” tutur ibu tujuh anak itu.

Tiap ruangan ditempati oleh perantau sesuai tanggal kedatangan. Dengan jumlah sembilan orang, satu ruangan hanya diisi oleh 2-3 orang. Mereka tidur di karpet tebal yang disiapkan oleh pemerintah desa.

Untuk urusan makanan, warga yang terpaksa pulang karena pabrik tempat bekerja mereka libur itu tak perlu khawatir. Sebab, para pemudik itu mendapat jatah makan tiga kali. Kemudian, mereka juga masih mendapat snack.

Jika masih lapar, Lusi, sapaan akrab Lusi Wahyu Wigati, juga menyediakan mi instan, kopi, teh, dan peralatan memasak. “Sabun cuci dan sabun mandi juga ada. Lengkap,” bebernya sembari menunjukkan panci, kompor, dan alat kelengkapan lain yang bisa digunakan warga di sana.

Setelah mereka selesai melewati masa pemantauan selama 14 hari, Lusi  berencana memberi uang saku dan sembako untuk keluarganya. “Bagaimanapun juga kan mereka tulang punggung keluarga. Tetapi karantina ini juga kami lakukan untuk menyelamatkan keluarganya,” beber alumnus Smada Nganjuk itu.

Dari mana asal uang untuk biaya operasional rumah karantina? Ditanya demikian, Lusi mengakui jika pemerintah desa (pemdes) harus tombok alias meminjam uang lebih dulu. Sebab, hingga kemarin dana desa (DD) belum bisa cair. “Ya menjual ayam, itik, kambing, sapi tapi punya tetangga,” candanya.

Alumnus STIE Kediri ini mengaku tak mempermasalahkan tentang keterbatasan dana itu. Apalagi, sebelumnya para perangkat desa dan tokoh masyarakat sudah kompak menyatakan dukungannya akan langkah pencegahan korona di Desa Kwagean.

Selebihnya, tinggal Lusi dan perangkat desa mencari sumber pendanaan sebelum DD cair dan bisa digunakan untuk penanganan korona. “Saya juga belum menghitung berapa total biaya (setelah seminggu rumah karantina beroperasi, Red). Nanti dulu. Yang penting warga selamat,” bebernya.

Keselamatan warga, bagi Lusi dan para perangkat desa, adalah hal yang utama. Adapun hal teknis lainnya, perempuan bersuara renyah itu memilih untuk menjadikannya sebagai prioritas kedua.

Diakui Lusi, niat baik mereka tak selalu mendapat sambutan positif. Meski ada beberapa warga yang sukarela mendaftar, ada pula warga dari zona merah yang menolak masuk rumah karantina. “Ada yang jawabannya nggak enak di hati (saat diajak masuk rumah karantina, Red),” paparnya.

Jika sudah demikian, Lusi memilih mengambil jalan lain. Bersama para perangkat, mereka melakukan pendekatan dengan menggandeng tokoh masyarakat terkait. “Kalau anggota ormas ya kami dekati ketua ormasnya agar mau,” imbuhnya memberi contoh.

Dengan cara demikian, Lusi bersyukur warga Desa Kwagean mau masuk ke rumah karantina dan bersedia diobservasi selama 14 hari. “Wabah korona ini butuh kekompakan dan kesadaran bersama. Semoga dengan cara ini kita bisa melaluinya dengan selamat,” harapnya.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia