Sabtu, 30 May 2020
radarkediri
Home > Politik
icon featured
Politik

Bertambah Satu Pasien Positif

TKHI dari Gondang Lakukan Isolasi Mandiri

06 April 2020, 11: 55: 00 WIB | editor : Adi Nugroho

Tutup

TERTUTUP: Warga Dusun Sengon, Desa Tanjungkalang, Ngronggot menutup akses masuk ke lingkungan mereka sembari meletakkan tempat cuci tangan agar daerah mereka steril. (Rekian - radarkediri.id)

Share this          

NGANJUK, JP Radar Nganjuk-Jumlah pasien positif Covid-19 di Kota Angin bertambah satu lagi. Ini setelah hasil tes swab satu anggota tim kesehatan haji Indonesia (TKHI) dinyatakan positif, kemarin sore. Total kasus positif korona menjadi lima orang.

Juru Bicara Gugus Tugas Penanggulangan Covid-19 Nganjuk dr Hendriyanto yang dikonfirmasi terkait penambahan satu kasus positif korona itu membenarkannya. “Satu lagi TKHI asal Gondang,” ujar pria yang akrab disapa Hendri itu.

Lebih jauh Hendri mengungkapkan, selama ini TKHI tersebut berstatus pasien dalam pengawasan (PDP). Meski demikian, kondisinya dinyatakan sehat. Sehingga, dia mengisolasi diri secara mandiri di rumah.

Kasus Korona

Kasus Korona (Pemkab Nganjuk for radarkediri.id)

Terkait penetapan statusnya sebagai pasien positif korona, menurut Hendri hal itu berdasar beberapa kali tes. Pada tes pertama, pria asal Gondang itu sudah menjalani rapid test dan dinyatakan positif. Meski demikian, hasil uji tersebut belum bisa dijadikan patokan.

Karenanya, dinkes kembali melakukan tes swab dan hasilnya kembali positif. “Hasil swab baru keluar sore ini. Hasilnya memang positif,” lanjut Hendri yang kemarin sore menerima hasil dari provinsi itu.

Apakah ini berarti TKHI tersebut akan langsung dirawat di RS? Meski sudah positif korona, menurut Hendri yang bersangkutan akan tetap menjalani isolasi mandiri. Sebab, tidak merasakan gejala sakit alias kondisi kesehatannya baik. “Tetap kami pantau,” terangnya.

Untuk diketahui, di Kabupaten Nganjuk total ada dua panitia penyelenggara ibadah haji (PPIH) dan enam TKHI yang mengikuti pelatihan di asrama haji Sukolilo, Surabaya pada 13-18 Maret lalu. Dari jumlah tersebut, lima di antaranya sudah dinyatakan positif korona. Adapun tiga lainnya, yang sama-sama sudah dilakukan tes swab, belum dipastikan statusnya. Sehingga, tiga TKHI lain masih berstatus PDP.

Meski baru dinyatakan positif kemarin sore, rupanya dinkes sudah melakukan pelacakan alias tracing kontak TKHI tersebut bersama dengan empat pasien positif lainnya. Setelah hasil tes menyatakan positif, dinkes dipastikan akan menelusuri lagi kontak pasien dalam pelacakan lanjutan.

Sementara itu, selain penambahan satu pasien positif, kemarin juga ada penambahan dua orang dalam pemantauan (ODP) baru. Keduanya dirawat di RSUD Nganjuk karena menderita batuk dan pilek.

Hendri menjelaskan, dua ODP baru yang saat ini menjalani perawatan di rumah sakit itu merupakan pemudik dari Malang dan Papua. “Mereka (dua ODP, Red) dari Ngronggot dan Kota Nganjuk,” ujar Hendri.

Lebih jauh Hendri menuturkan, dua ODP tersebut akan menjalani perawatan hingga sakit mereka sembuh. Dengan penetapan dua pemudik sebagai ODP baru, diakui Hendri, pemkab akan memperketat pengawasan terhadap para pemudik.

Data yang dihimpun koran ini menyebutkan, jumlah pemudik di Kabupaten Nganjuk hingga kemarin lebih dari 10 ribu orang. Mereka tergolong kelompok orang dalam risiko (ODR). “Mereka (ODR pemudik, Red) dipantau terus untuk memastikan kondisinya,” tandas Hendri sembari menyebut pemantauan untuk memastikan status mereka tetap ODR atau naik menjadi ODP jika merasakan gejala sakit.

Dengan penambahan dua ODP tersebut, total jumlah ODP di Kota Angin sebanyak 32 orang. Adapun pasien dalam pengawasan (PDP) berjumlah 16 orang.

Bagaimana dengan hasil tracing atau pelacakan terhadap kontak pasien positif korona di Nganjuk? Ditanya demikian Hendri menjelaskan, dalam pelacakan dua hari terakhir, terjadi penambahan orang tanpa gejala (OTG) yang mencapai puluhan.

Jika sebelumnya OTG berjumlah 184 orang, kemarin total OTG atau orang yang melakukan kontak dengan pasien positif korona menjadi 214 orang atau bertambah 30. “Itu hasil pelacakan dua hari terakhir,” beber pria yang juga menjabat sekretaris Dinas Kesehatan Nganjuk itu.

Seperti halnya 184 kontak lainnya, Hendri menjelaskan, sebanyak 30 orang itu langsung diminta melakukan isolasi mandiri di rumah dan dipantau oleh tim. Apakah mereka akan dilakukan rapid test? ditanya demikian, Hendri menolaknya.   

Dari ratusan kontak itu, menurut Hendri ada lebih dari 10 kontak yang dilakukan rapid test. Selebihnya, ada empat keluarga pasien yang dilakukan tes swab karena menunjukkan gejala sakit batuk. “Kami masih menunggu hasil tes swab dan rapid test,” tegasnya.

Sementara itu, upaya pencegahan korona tidak hanya dilakukan Pemkab Nganjuk. Sejumlah dusun mengambil inisiatif lockdown. Kemarin, Dusun Sengon, Desa Tanjungkalang, Ngronggot juga menutup lingkungan mereka dengan memasang pagar di ujung gang.

Siti Amanah, 55, warga setempat menuturkan, keputusan lockdown tersebut merupakan kesepakatan warga. “Dari tadi (kemarin, Red) ditutup,”terangnya.Berbeda dengan Dusun Gedong, Desa Tanjungtani, Prambon, di gerbang pintu masuk Dusun Sengon disediakan air untuk cuci tangan. Warga yang masuk ke sana diwajibkan cuci tangan. Adapun pendatang diminta untuk melapor. “Untuk mencegah korona,” urai Siti sembari mengaku tidak tahu ciri-ciri penyakit korona.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia