Sabtu, 06 Jun 2020
radarkediri
Home > Ekonomi
icon featured
Ekonomi

Pasar di Kediri Semakin Sepi, Ini Sebabnya

05 April 2020, 20: 06: 34 WIB | editor : Adi Nugroho

pasar pamenang pare

TAWAR: Seorang pedagang di Pasar Pamenang melayani beberapa pembeli. (Rendi Mahendra - radarkediri)

Share this          

KEDIRI - Covid-19 berdampak bagi sektor perekonomian. Transaksi di pasar tradisional lesu karena pembeli jarang yang datang.

Plt Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) Kabupaten Kediri Tutik Purwaningsih mengatkan bahwa selama ini pihaknya belum ada kebijakan penutupan pasar tradisional. “Sementara masih buka dengan protap pencegahan Covid-19,” kata Tutik.

Protap tersebut yakni dengan cara menjaga jarak dan kebersihan selama berada di dalam pasar. Ia sekali lagi menegaskan tidak ada kebijakan pembatasan terkait proses jual beli di pasar. Selama ini hanya dalam bentuk sosialisasi dan edukasi bagi pedagang akan bahaya penularan Covid-19 ini dari kontak langsung.

jalan flamboyan pare

SEPI: Warga melintas di Jalan Flamboyan Pare. (Rendi Mahendra - radarkediri)

Terkait kondisi menurunnya aktivitas di pasar tradisional, Tutik menyebut bahwa hal itu merupakan hasil kesadaran dari masyarakat. Mereka semakin paham atas bahayanya penyebaran Covid-19 melalui kerumunan.

“Karena itu masyarakat sepertinya dengan sendirinya juga akan membatasi ke pasar,” ungkapnya.

Penegasan sosialisasi dan imbauan itu tentu demi kebaikan bersama. Kewaspadaan masyarakat dan kepedulian bersama dalam pencegahan ini menjadi langkah efektif dalam memerangi penyakit tersebut. Hal ini juga atas pertimbangan stabilitas ekonomi bagi pedagang kecil di Kabupaten Kediri.

“Dengan kondisi lebih sepi,  semoga justru membuat teman-teman yang ke pasar aman dari penyebaran virus ini,” harapnya.

Tutik menyatakan bahwa ke depan, jika situasi sudah kondusif dan aman dari Covid-19, maka pihaknya akan bekerja keras lagi untuk membuat pasar tradisional bisa ramai kembali. Yang terpenting, menurutnya saat ini adalah kesadaran diri sendiri.

Lebih lanjut, menurut perempuan yang juga menjabat sebagai Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Kabupaten Kediri ini, penutupan seluruh pasar tradisional memang menjadi pertimbangan matang. Satu sisi tidak ingin ekonomi masyarakat kacau karena tutupnya pasar. Di sisi lain tidak ingin pasar menjadi sumber penularan.

Klik di Sini dan Saksikan Liputan Radar Kediri TV (RKTV) tentang Dampak Korona di Kediri >>>

“Masyarakat harus lebih bijak ketika berbelanja di pasar. Tetap mengedepankan protokol kesehatan. Juga menjaga jarak serta kebersihan dengan mencuci tangan secara rutin,” pungkasnya.

Sepinya pasar bisa dilihat di Pasar Pamenang Pare. Sekitar pukul 13.30 WIB sudah banyak yang tutup. Padahal biasanya masih buka hingga pukul 15.30.

Siang itu, satu-satunya pedagang daging yang masih berdagang adalah  Romli, 58, asal Desa Plosogerang, Kecamatan/Kabupaten Jombang. “Pedagang dagingnya sudah pulang semua tinggal saya. Lha mau gimana pembelinya sepi,” ungkap Romli,  kemarin  (4/4).

Menurut Romli , dia memilih bertahan untuk berjualan karena rumahnya jauh. Sementara hingga pukul 13.30 WIB tersebut, jualan Romlimasih tersisa banyak. “Kalau tidak ada penyakit korona, biasanya pembelinya  ramai. Kebanyakan yang beli daging sapi itu kan orang yang punya hajat. Sekarang orang berkumpul tidak boleh,” jelas Romli.

Sementara saat korona mulai mulai ramai di Indonesia, beberapa penjual  rempah-rempah justru bertambah ramai. Menurut Minarsih, 40, Desa Pulosari, Kecamatan Pare, hal tersebut karena pembeli percaya jamu bisa mencegah korona. “Pas awal-awal penyakit korona, banyak yang beli rempah-rempah. Kebanyakan yang mereka cari itu jahe,” terang Minarsih.

Namun kemarin, menurut Minarsih, pembeli yang mencari rempah-rempah sudah berkurang. Tak seperti awal mulai menyebar di Indonesia.  “Sekarang ini, pembelinya sudah mulai sepi. Ini karena banyak orang yang tak keluar rumah. Selain itu, harga rempah-rempah itu naik karena korona itu,” terang Minarsih.

Klik di Sini dan Saksikan Liputan Radar Kediri TV (RKTV) tentang Dampak Korona di Kediri >>>

Kondisi yang sama juga terjadi di Pasar Induk Pare. Menurut Sony Nurdianto, koordinator petugas pungut Pasar Induk Pare, jumlah pengunjung di pasar tersebut turun hingga 25 persen.

“Berkurang sekitar dua puluh persen hingga dua puluh lima persen. Biasanya sehari jika hari normal sekitar seribu sampai seribu lima ratus pengunjung. Terutama pengunjung dari luar kota yang berkurang, yang berjualan juga mulai berkurang,” ungkap Sony.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia