Selasa, 07 Jul 2020
radarkediri
Home > Catatan
icon featured
Catatan
IQBAL SYAHRONI

KPM 442 : Luka

05 April 2020, 16: 36: 33 WIB | editor : Adi Nugroho

Iqbal Syahroni

Oleh : Iqbal Syahroni (radarkediri)

Share this          

Aspal di depan rumah terlihat basah. Masih basah, karena satu mobil water canon lewat dan menyemprotkan disinfektan di sepanjang jalan. Mobil yang terparkir, pot tanaman, dan trotoar juga terkena imbasnya. Sejumlah mobil dengan menyalakan sirine berjalan bergantian. Bersamaan dengan suara imbauan yang keluar dari megaphone. Mengingatkan warga agar tetap berada di rumah. Dan keluar hanya ketika keadaan genting saja. Seperti mencari makan atau bekerja bagi yang tidak bisa mengerjakan tugas mereka di rumah.

Terhitung sudah dua minggu lebih imbauan terus digalakkan. Tetap di rumah, hidup bersih, makan makanan yang sehat, dan jangan keluar rumah untuk hal yang sia-sia. Pemkot, tenaga medis, petugas keamanan memiliki tugas masing-masing, yang masih satu tujuan. Untuk mencegah persebaran barang kecil tak terlihat ini ke lebih banyak orang.

Terlambat? Memang sudah mau dikata apa lagi. Dari pusat hingga ke pelosok daerah sudah berupaya meski terlambat. Masih bisa diatasi, sebisa mungkin. Bantu sebisa mungkin. Apapun bentuknya. Dunia sedang tidak baik baik saja, jangan kelewat serius, atau kelewat bercanda terus.

Seperti dulu waktu masih usia bocah. Mungkin banyak yang mengalaminya, atau mungkin ada, namun belum merasa. Bisa juga, tidak merasa, namun, membaca situasi, baik dari teman mereka, hingga ke keluarga.

Seperti saat beberapa tahun yang lalu. Masih ingat, saat itu kami masih kelas 11 SMA. Sekitar tahun 2011. Kelas kami hobi bermain futsal, dan kejadiannya saat itu, sedang memperebutkan bola. Saya terjatuh dalam berlari mengejar bola, akan ada luka yang membekas di kaki. Kita tidak akan merasa sakit ketika pikiran kita adalah untuk mengejar bola yang masih ada di depan mata. Terpeleset, terseok-seok, namun tidak pernah menyerah. Yang kupikir adalah harus membawa bola ini ke arah lawan. Entah akan kudistribusikan ke temanku yang mengejar dari utara, atau kutendang sendiri ke arah gawang. Toh garis pertahanan lawan masih jauh dari jangkauan.

Tidak terasa sakit di lutut. Kusepakkan bola itu ke arah gawang. Meski temanku ada yang berteriak minta diberikan umpan. Semesta sedang mendukung. Bola itu melesat ke arah kanan bawah gawang. Masuk. Menjadi gol. Meski kami masih tertinggal. Bukan pertandingan resmi, sih.

Sesaat setelah menendang bola berwarna oranye itu, lutut kananku tiba-tiba panas. Kulihat ada luka baru, warnanya merah, karena gesekan kulit dengan lantai. Setelah fokusku berubah dari pertandingan ke lutut, rasa sakitnya mulai terasa. Masih bisa aku lanjutkan pertandingannya. Meski harus beristirahat di pinggir lapangan di Dandangan, sembari digantikan oleh teman sekelasku. Siang itu kelas kami menang, atau begitulah, kata wasit yang memimpin pertandingan futsal tidak resmi itu.

Setelah saling bersalaman, rasa sakit di lututku semakin menjadi. Terakumulasi, dari tabrakan antarkaki, dan tingkat letih bermain 60 menit di lapangan futsal tersebut. Salah satu temanku bilang, biar saja, beri air nanti juga akan hilang seiring berjalannya waktu.

Akupun mengamini. Karena memang selama kecil, luka-luka seperti itu memang akan cepat hilang, apabila kita membersihkannya dengan baik, diberi perawatan secukupnya, dan tidak membesar-besarkannya.

Semakin hari, seiring berjalannya waktu, luka di setiap manusia akan bertambah. Baik yang disengaja, ataupun yang tidak terduga. Siapa saja, kapan saja, bisa terluka. Selalu pikirku bahwa waktu akan menyembuhkan segalanya. Namun, semakin ku membaca, dan belajar dari banyak hal, pikiranku berubah. Baik dari pelajaran semasa SMA, hingga ilmu dan pengetahuan diwaktu mahasiswa. Waktu tidak menyembuhkan segalanya.

Seperti luka lecet yang aku dapat kala itu. Aku biarkan saja, dengan harapan waktu akan menyembuhkan. Tapi nyatanya, ku berpikir sebaliknya. Luka itu akan tetap ada di lutut kananku. Dan rasa sakit itu muncul ketika beraktivitas. Seperti berlari lagi, mengayuh sepeda, dan melakukan hal-hal lain, yang menggerakkan sendi di lutut.

Aku semakin terbiasa. Rasa sakit itu masih ada, namun aku terbiasa beraktivitas dengannya. Semakin lama, bekasnya menghilang, namun sembari menulis catatan ini, rasa sakit itu masih terbayang, sedikit terasa, namun aku sudah terbiasa. Waktu tidak menyembuhkan segalanya, waktu yang membuat kita terbiasa hidup bersama luka. Entah kita akan memburuk seiring berjalannya waktu, atau kita membaik, dan terbiasa dengan luka. Waktu membuat kita berkembang dan berevolusi dari yang tidak terbiasa, menjadi biasa saja. Obati yang sedang sakit. Apresiasi yang membuatnya jadi baik. Jangan biarkan waktu, dan orang yang tidak peduli menghardik. Yakin bumi akan sembuh, jangan hanya berpikir "alah sak karep wis embuh". Djajati. (penulis adalah wartawan Jawa Pos Radar Kediri)

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia