Sabtu, 06 Jun 2020
radarkediri
Home > Politik
icon featured
Politik

Rujuk PDP ke Madiun

Ruang Isolasi di RSUD Nganjuk Penuh

30 Maret 2020, 13: 20: 46 WIB | editor : Adi Nugroho

Korona

Pemantauan Korona (Grafis: Dedi Nurhamsyah - radarkediri.id)

Share this          

NGANJUK, JP Radar Nganjuk-RSUD Nganjuk mulai kewalahan menangani pasien dalam pengawasan (PDP). Kemarin, RS pelat merah itu merujuk satu PDP ke RSUD dr Soedono, Madiun.

Data yang dihimpun koran ini menyebutkan, pasien asal Kota Nganjuk itu awalnya sempat dirawat di RS Bhayangkara Moestadjan. Tetapi, sang pasien selanjutnya dibawa ke RSUD Nganjuk. Dari sana, pasien diputuskan untuk dirujuk ke RSUD dr Soedono, Madiun. “Dirujuk ke Madiun karena ruangan (isolasi, Red) untuk PDP sudah penuh,” ujar dr Mei Budi Prasetyo SpP, ketua Tim Penanggulangan Virus Korona RSUD Nganjuk.

Dikatakan Mei, kemarin sudah ada empat PDP yang dirawat di RSUD Nganjuk. Sehingga, ruang isolasi untuk menampung mereka tidak ada lagi. Karena pertimbangan itu pula, RSUD Nganjuk merujuk pasien ke Madiun.

Untuk diketahui, hingga kemarin total PDP di Kota Angin sebanyak 10 orang. Dua PDP baru yang statusnya ditetapkan kemarin, merupakan warga Patianrowo dan Kota Nganjuk.

Juru Bicara Gugus Tugas Penanggulangan Covid-19 Nganjuk dr Hendriyanto mengatakan, pasien yang dirujuk ke RSUD dr Soedono Madiun merupakan PDP baru asal Kota Nganjuk. “Belum ada pasien yang positif Covid-19,” terang pria yang akrab disapa Hendri itu.

Lebih jauh Hendri menjelaskan, satu PDP asal Patianrowo memiliki riwayat pernah ke Jepara, Jawa Tengah. Sang pasien yang saat ini menderita batuk dan pilek itu akan diambil spesimennya. Selanjutnya, sampel swab yang bersangkutan akan dikirim ke laboratorium di Surabaya. 

Jika pasien asal Kota Nganjuk dirujuk ke Madiun, PDP asal Patianrowo tersebut tetap dirawat di RSUD Nganjuk. Hendri menegaskan, tidak semua PDP harus dirawat di rumah sakit. Mereka yang kondisi fisiknya stabil diminta mengisolasi diri di rumah. “Harus menerapkan pola hidup bersih dan sehat,” tandas Hendri.

Dikatakan Hendri, selain PDP yang kemarin kembali bertambah, orang dalam pemantauan (ODP) juga terus naik. Jika sebelumnya hanya berjumlah 19 orang, kemarin menjadi 23 orang. “Mereka (yang dinyatakan ODP, Red) baru pulang dari luar daerah,” imbuh Hendri.

Empat ODP baru itu, tutur Hendri, baru saja bepergian dari Surabaya, Jogjakarta, Malang, dan Sidoarjo. Selama berstatus ODP, menurut Hendri warga wajib mengisolasi diri di rumah. Selanjutnya, memakai masker setiap beraktivitas.

Bagaimana dengan ODR? rupanya penambahan status ini tetap paling banyak. Jika sebelumnya ODR berjumlah 3.010, kemarin melonjak menjadi 3.810 orang.

Lonjakan sebesar 800 orang itu menurut Hendri karena banyaknya warga Nganjuk yang baru pulang dari luar daerah. “Mereka (ODR) akan dipantau selama 14 hari,” tegas Hendri sembari menyebut dari 20 kecamatan di Nganjuk hanya lima kecamatan yang belum didapati PDP dan ODP. Yaitu, Ngetos, Sawahan, Ngluyu, Lengkong, dan Jatikalen.

Sementara itu, kewaspadaan warga Nganjuk terhadap virus korona terus meningkat. Saat ini, pendataan lalu lintas warga di tingkat desa sudah dilakukan secara intens.

Seperti yang terjadi di Perumnas Candirejo, Desa Gejagan, Loceret. Pengurus RT di sana aktif mendata warga setempat yang bepergian ke luar kota. Warga diminta mengisi formulir tentang daerah yang dituju, tanggal keberangkatan, tanggal kepulangan.

Formulir juga memuat kondisi kesehatan warga. Tidak hanya itu, kendaraan yang digunakan juga didata. “Demi kebaikan bersama,” ujar Ayu, salah satu kader di Desa Gejagan.

Luqman Safii, 40, salah satu warga mengaku senang dengan pendataan yang dilakukan pihak desa. “Ini bagus. Lalu lintas warga yang ke luar daerah benar-benar dipantau. Kami jadi tenang,” urainya.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia