Sabtu, 06 Jun 2020
radarkediri
Home > Politik
icon featured
Politik

Warga Kota Kediri Positif Korona, Kampung Inggris Makin Ketat

29 Maret 2020, 13: 51: 01 WIB | editor : Adi Nugroho

covid 19 di kediri

STERIL: Anggota tim gugus tugas Percepatan Penanganan Covid-19menyemprotkan disinfekton kepada warga yang keluar masuk kawasan Jalan Flamboyan Pare. Daerah ini dalam zona merah antisipasi penyebaran Covid-19. (Didin Saputro - radarkediri)

Share this          

KOTA, JP Radar Kediri – Zona merah di peta persebaran Covid-19, akhirnya, merembet pula ke Kota Kediri. Setelah dua pasien positif korona ditemukan di Kabupaten Kediri, kemarin satu orang ditemukan di wilayah kota.

Sebelumnya, pasien yang juga merupakan pejabat di lingkup Pemkab Kediri tersebut sudah berstatus Pasien Dalam Pengawasan (PDP). Hasil tes swab positif sudah diperoleh kemarin. Dan langsung disampaikan oleh Wali Kota Abdullah Abu Bakar. 

“Ini artinya Kota Kediri masuk dalam salah satu wilayah zona merah pandemi Covid-19 di Jawa Timur,” terang Abu.

Covid 19 di Kediri

Covid 19 di Kediri (Ilustrasi: Afrizal - radarkediri)

Meskipun ada satu warganya yang positif terkena korona, Abu meminta masyarakat tenang. Meskipun tak boleh kehilangan kewaspadaan.

Wali Kota Abu juga meminta warga Kota Kediri mematuhi semua protokol pencegahan Covid-19. Protokol itu sudah diedarkan melalui sosialisasi sejak beberapa minggu lalu. Baik melalui media sosial, selebaran, hingga papan pengumuman di seluruh kelurahan. Semuanya agar pandemi Korona ini tidak meluas dan menyebar. Ia meminta warga kota mengikuti instruksi dari pemerintah.

"Kita musti saling menjaga. Tetap di rumah. Walaupun bosan, di rumah itu cara yang paling sederhana  dan cara yang paling efektif untuk memutus rantai persebaran virus korona ini," tegasnya.

Ia juga terus mengimbau kepada masyarakat agar tetap waspada dan hidup bersih. Serta menghindari adanya perkumpulan massa dengan jumlah besar.

Khusus terkait warganya yang positif korona, Abu meminta agar masyarakat jangan memvonis yang berlebihan. Sebab, korona juga penyakit seperti lainnya yang bisa sembuh.

"Pesan kami, kalau nanti pasien ini sudah sembuh, jangan ada stigma di masyarakat. Karena Covid-19 ini bukan aib. Masyarakat yang merasa pernah punya kontak erat dengan pasien juga lebih baik jujur, agar semakin mudah ditangani," paparnya.

Juru bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Kediri dr Fauzan Adima menjelaskan, pihaknya akan melakukan tracing dan penyelidikan epidemiologi terkait kasus tersebut. Baik dari keluarga maupun warga lain yang pernah kontak erat dengan pasien tersebut. "Akan dilakukan rapid test," ujarnya.

Selain melakukan rapid test, Fauzan menjelaskan petugas melakukan penyemprotan disinfektan di lokasi rumah pasien tersebut. Dia berharap para tetangga korban tidak perlu panik. Dan tetap berada di rumah saja apabila tidak ada keperluan yang sangat mendesak."Kami berharap mereka yang masuk ODP juga jujur pada sekitarnya. Lebih baik menyampaikan fakta yang sebenarnya, agar justru lebih cepat tertangani," jelasnya.

Terkait pasien, Fauzan menjelaskan bahwa pasien saat ini sudah berada di RSUD Kabupaten Kediri (RSKK) untuk penanganan selanjutnya. "Sudah sejak kemarin (27/3), di RSUD Pare," ujarnya.

Dari pemantauan di lokasi perumahan pasien positif korona, suasananya relatif sepi tadi malam. Tidak ada tanda-tanda keramaian. Sementara, sore harinya di lokasi yang sama telah dilakukan penyemprotan oleh petugas yang berpakaian pelindung diri lengkap.

Tadi malam, beberapa anggota polisi terlihat berjaga. Terlihat pula beberapa warga perumahan. Lima personel polisi ada di gerbang perumahan. Mereka melakukan pemeriksaan dan pengecekan pada setiap kendaraan yang hendak masuk maupun keluar.

Pemandangan di perumahan itu juga terkesan penuh kewaspadaan. Beberapa warga terlihat berdiam diri di rumah masing-masing. Dengan menggunakan masker.

Sementara itu, pergeseran posisi terjadi di Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Kediri. Kadinkes dr Bambang Triyono Putro yang selama ini menjadi juru bicara diganti oleh dr Ahmad Khotib. Ahmad Khotib sendiri sehari-hari adalah Kepala Puskesmas Puncu.

“Pergantian itu karena juru bicara yang lama sedang sakit,” aku Ketua GTPP Covid-19 Slamet Turmudi.

Ahmad Khotib membenarkan soal tugas barunya itu. “Iya, menggantikan sementara sebagai jubir gugus tugas,” kata Khotib saat dikonfirmasi Jawa Pos Radar Kediri.

Dari wilayah Kampung Inggris, penjagaan ketat terlihat kemarin. Tim GTPP Covid-19 bersinergi dengan Pemdes Tulungrejo, mengantisipasi keluar masuknya warga dan siswa yang belajar di Kampung Inggris.

Kepala GTPP Slamet Turmudi menyampaikan, ada sejumlah kebijakan yang diambil. Tujuannya secara intensif memantau kawasan Kecamatan Pare. “Kami memang sementara ini fokus di Kampung Inggris,” kata Slamet.

Pemilihan Kampung Inggris sebagai lokasi yang jadi perhatian ekstra karena di tempat tersebut asal PDP yang terkonfirmasi Covid-19. Sementara, Kampung Inggris merupakan wilayah yang menjadi pusat keluar masuknya siswa baik dari dalam maupun luar Kabupaten Kediri.

“Siswa yang tidak pulang dan tetap di Pare didata pihak desa,” ungkapnya.

Hal tersebut sesuai kebijakan Pemdes Tulungrejo, yang memberi arahan agar seluruh siswa yang ada di sana bisa pulang ke rumah masing-masing. Hanya saja, bagi yang belum bisa pulang maka harus datang ke balai desa untuk dilakukan pendataan.

“Kami juga mendirikan posko kesehatan di Balai Desa Tulungrejo,” tambahnya. Posko kesehatan dari Tim gugus Tugas itu sebagai upaya laporan kesehatan dari warga Tulungrejo utamanya Kampung Inggris agar lebih dekat dengan fasilitas kesehatan saat konsultasi.

Mulai kemarin penjagaan ketat di Kampung Inggris semakin ditingkatkam. “Kami awasi warga yang keluar masuk. Disemprot dengan disinfektan,” jelasnya.

Di lokasi, penyemprotan itu dilakukan di dua titik. Setiap pengguna jalan yang melintas di Jalan Flamboyan disemprot oleh tim gugus tugas yang terdiri dari gabungan BPBD, Satpol-PP, warga, dan Pemdes Tulungrejo. Hal itu setelah ditetapkannya kawasan tersebut sebagai salah satu sumber zona merah.

Sementara itu, untuk memperketat warga luar daerah yang masuk. Tim gugus tugas juga telah sepakat untuk mengimbau sementara mereka yang dari luar daerah disarankan tidak pulang dahulu. Apabila mendesak dan harus pulang harus melapor ke perangkat desa setempat.

“Pendatang  harus didata dan dilaporkan ke Puskesmas untuk dipantau perkembangan kesehatannya selama 14 hari. Apalagi kalau warga bersangkutan berasal dari daerah zona merah,” ujar Jubir GTPP Ahmad Khotib.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia