Kamis, 04 Jun 2020
radarkediri
Home > Catatan
icon featured
Catatan
ANWAR BAHAR BASALAMAH

Kerinduan Bersorak Lagi di Stadion

29 Maret 2020, 12: 15: 19 WIB | editor : Adi Nugroho

Anwar Bahar Basalamah

Anwar Bahar Basalamah, Wartawan JP Radar Kediri (radarkediri)

Share this          

Awal Maret kasus virus korona (covid-19) muncul pertama kali di Indonesia. Sampai saat ini, jumlah pasien yang dinyatakan positif terus bertambah. Tercatat, lebih dari 800 orang terpapar virus yang bermula dari Kota Wuhan, Tiongkok itu.

Denyut kehidupan masyarakat pun terganggu sejenak. Mengingat penyebarannya yang cepat, warga tidak boleh lagi berada di tengah kerumunan. Kegiatan yang mengundang banyak massa mulai dibatasi. Mereka diminta untuk tetap berada di rumah selama pandemi masih terjadi.

Kompetisi sepak bola juga terkena imbasnya. Sejak 16 Maret lalu, PSSI dan PT Liga Indonesia Baru (LIB) memutuskan untuk menghentikan sementara kompetisi Liga 1 dan Liga 2. Kesehatan memang terlalu mahal untuk dikorbankan dibandingkan terus melanjutkan permainan si kulit bundar.

  Apalagi dalam sepak bola, ada potensi besar menghadirkan ribuan massa. Suporter yang datang ke stadion bisa memicu bom biologis penyebaran virus korona. Karenanya, keputusan untuk menghentikan liga adalah langkah yang paling tepat.

Soal itu, kita perlu belajar dari pengalaman pahit sepak bola Eropa. Pertandingan Liga Champions antara Atalanta melawan Valencia pada 20 Februari lalu, dianggap sebagai pemicu penyebaran virus di Benua Biru. Pertandingan leg pertama itu berlangsung di Stadion San Siro, Kota Milan, Italia.

Setelah laga yang dimenangkan La Dea –julukan Atalanta- itu, virus mulai menyebar di Negeri Pizza. Sejauh ini, kasus virus Korona di Italia sudah mencapai angka 80 ribu jiwa. Sementara kasus kematiannya menyentuh 8.000 jiwa.

Di Spanyol, tempat klub Valencia berasal, virus korona telah merenggut sekitar 4.000 jiwa dari 30.000 kasus yang telah terkonfirmasi. Jadi, bisa dibayangkan betapa mengerikannya ketika pertandingan-pertandingan sepak bola tetap berlangsung.

Sebelum parah, kebijakan menggelar pertandingan tanpa penonton sudah dilakukan. Tapi, tetap saja hal itu tidak mampu menghentikan laju virus yang kelewat menyebar ke mana-mana.

Padahal di olahraga paling populer sejagat itu, suporter adalah elemen paling penting. Dalam sebuah wawancara, Erling Haaland, penyerang muda Borrusia Dortmund mengaku aneh ketika suporter tidak hadir di stadion. “I need them,” kata pemain asal Norwegia itu singkat.

Di Indonesia pun sama. Kehadiran suporter selalu ditunggu dalam sepak bola. Karena itu, sejak rehat hampir sebulan ini, ada kerinduan yang amat membuncah dari keriuhan-keriuhan di stadion. Bukan tentang anarkisme yang merusak itu, tetapi sorak-sorai kemenangan dari pemain ke-12 itu.

Sekarang, kita hanya bisa menunggu keputusan kapan liga kembali bergulir. Sembari itu, semua elemen masyarakat wajib mematuhi arahan pemerintah tentang social distancing untuk menekan penyebaran virus korona. Belajar di rumah, beribadah di rumah, dan bekerja dari rumah.

Saatnya untuk melepas rasa ego dan kesombongan dalam diri. Lewat virus tersebut, Tuhan ingin menunjukkan bahwa manusia terlalu kecil untuk unjuk kekuatan. Karenanya, di saat nasib yang sama berada di wilayah pandemi korona, ada baiknya untuk mengakhiri permusuhan antar suporter.

Persikmania, Bonekmania, Aremania, Jakmania, Viking, Slemania dan beberapa kelompok suporter lain di Indonesia, perlu bersatu padu menghalau lawan yang sama: virus korona. Tanpa solidaritas, sulit rasanya untuk mengalahkan virus yang mengganggu saluran pernapasan itu.

Kita semua kini rindu datang ke stadion. Pemain, official, penonton dan elemen-elemen lain yang sebenarnya tidak bersentuhan dengan sepak bola juga memendam rasa yang sama. Yang dibutuhkan sekarang bukan lagi kepongahan dan sikap abai.

Sepak bola telah mengajarkan kita untuk mawas diri dengan serangan. Karena itulah, entah dengan formasi apa, kita perlu bersatu untuk mengalahkan virus korona. Tentu saja dengan izin Tuhan Yang Maha Kuasa, Sang Pemilik Kekuatan. (*)

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia