Rabu, 08 Jul 2020
radarkediri
Home > Catatan
icon featured
Catatan
RAHMAT MAHMUDI

Kita Bisa Kalahkan Korona

27 Maret 2020, 16: 06: 22 WIB | editor : Adi Nugroho

Rahmat Mahmudi

Oleh : Rahmat Mahmudi (radarkediri)

Share this          

Korona tiba-tiba menjadi kosa kata yang sangat banyak disebut di dunia. Jika kita search kata korona di situs pencarian populer Google akan muncul angka 5,34 miliar results. Dan ketika kita search lagi dengan sebutan koronavirus, muncul angka results yang fantastis yakni 12,55 miliar (Google, 25/3/2020).

Apa itu korona ? Menurut situs WHO, istilah korona atau lengkapnya coronavirus (di-Indonesia-kan menjadi virus korona), adalah bagian dari keluarga besar virus yang dapat menyebabkan penyakit pada hewan atau manusia. Pada manusia, korona diketahui menyebabkan infeksi pernapasan mulai dari flu biasa hingga penyakit yang lebih parah seperti Middle East Respiratory Syndrome (MERS), dan Severe Acute Respiratory Syndrme (SARS).

Awalnya, virus korona jenis coronavirus disease 19 (disingkat Covid-19) ditemukan di Wuhan, satu distrik di Tiongkok, pada Desember 2019. Kemudian virus menular ini dengan sangat cepat (dibantu mobilitas sosial antar negara yang makin mudah) akhirnya menyebar dan menyerang lintas Negara. Bahkan lintas benua hingga menimbulkan wabah (pandemic) global. Data terbaru sekurang-kurangnya ada 196 negara yang terserang wabah korona atau pandemi Covid-19 ini, termasuk Indonesia.

Hingga tulisan ini dibuatdi seluruh dunia tercatat ada 425.964 orang terkonfirmasi positif terpapar Covid-19. Dan 18.957 orang di antaranya meninggal. Dari laporan WHO (24/3/2020) Italia tercatat menjadi negara dengan korban tewas akibat Covid-19 terbanyak (6.077 korban). Di Tiongkok (tempat bermulanya wabah ini) Covid-19 menewaskan 3.283 jiwa. Berikutnya di Spanyol (2.182), Iran (1.812), Perancis (860), AS (471), Inggris (335), dan Belanda (213). Indonesia hingga 25/3/2020 tercatat 790 orang terpapar Covid-19 dan 55 orang di antaranya meninggal.

Begitu banyaknya korban akibat Covid-19 ini membuat korona menjadi “momok” yang sangat ditakuti. Timbul pertanyaan-pertanyaan kritis : mengapa banyak sekali korban? Apa karena virusnya yang ganas/mematikan dan belum ada vaksin penangkalnya? Atau karena kurang efektifnya upaya-upaya untuk mengatasi penyebarannya? Mengapa di satu negara terjadi begitu banyak korban, sedangkan negara lainnya tidak? Apakah ini berhubungan dengan efektivitas kebijakan yang diambil oleh suatu negara?

Jika melihat angka korban Covid-19 di atas kita mungkin menyimpulkan betapa ganasnya virus korona ini. Namun dalam kasus Indonesia, ternyata Covid-19 masih “kalah ganas” dibanding DBD (Demam Berdarah Dengue).

Data Kementerian Kesehatan RI (11/3/2020) tercatat ada 17.620 kasus DBD, dan 106 orang di antaranya tewas. Bandingkan dengan korban tewas Covid-19 yang “hanya” 55 orang (24/3/2019). Terhadap Covid-19, AS dan China mengklaim telah berhasil menemukan obat/vaksin untuk menyembuhkannya. Sedangkan DBD hingga saat ini belum ada obatnya, seperti kata Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik Kementerian Kesehatan RI, Siti Nadia Tarmizi (liputan6.com, 11/3/2020).  Jadi, pandemi ini bukanlah semata faktor keganasan Covid-19. Kalau begitu apa ?

Jika bukan karena faktor keganasan Covid-19, maka asumsinya dimungkinkan karena faktor inefektivitas upaya pencegahan penyebaran virusnya. Benarkah? Mencermati pencegahan penyebaran virus, maka perlu dipahami karakter penyebaran virusnya dan media/perantara penyebarannya. Tentang hal ini Siti Nadia Tarmizi menguraikan : "DBD dan Covid-19 penyebabnya sama-sama virus. Nah, kalau demam berdarah perlu nyamuk (Aedes aegypti) untuk perantaranya, sedangkan korona bisa menular dari manusia ke manusia." Maka pencegahan penyebaran Covid-19 pada dasarnya harus dilakukan dengan cara mencegah terjadinya kontak fisik antara orang yang  sehat dengan penderita Covid-19. 

Karena itu dipilihlah opsi-opsi metode untuk mencegah kontak fisik antara penderita dan bukan penderita guna mencegah penularan dan penyebaran Covid-19. Mulai dari menjaga jarak aman antarwarga (physical distancing), menjaga jarak dan mengurangi keterlibatan dalam kegiatan yang melibatkan orang banyak (social distancing), hingga meniadakan sama sekali kontak atau interaksi antarmanusia (lockdown). Masing-masing metode memiliki konsekuensi, output, dan impact yang berbeda dalam pencegahan penyebaran Covid-19. Karena itu dalam penerapannya, pilihan metode yang digunakan bergantung karakter, budaya, situasi dan urgensi masing-masing negara.

Untuk mengatasi pandemi korona ini, Tiongkok dan Itatiamenggunakan metode lockdown, meski secara teknis penerapannya berbeda (Dahlan Iskan, 2020). Begitu juga Inggris, Spanyol, Perancis, Irlandia dan 10 negara lainnya. Sedangkan mayoritas negara lainnya memilih tidak menggunakan lockdown melainkan cukup memakai metode social distancing, dengan model penerapan yang berbeda-beda, mulai dari larangan berkumpul, mengurangi penggunaan angkutan umum, atau membatasi tempat hiburan umum. Indonesia yang telah menetapkan status bencana nasional bagi Covid-19 ini pada awalnya memilih menggunakan metode social distancing, namun kemudian berubah ke physical distancing.

Presiden Jokowi mengaku sudah mempelajari matang-matang opsi (metode) yang harus diambil dalam upaya pencegahan penyebaran virus korona di Indonesia. Hasilnya, physical distancing atau menjaga jarak aman antarwarga menjadi opsi yang paling tepat untuk diambil. "Di negara kita yang paling pas adalah physical distancing, menjaga jarak aman," kata Jokowi dalam rapat terbatas lewat video conference dengan para gubernur seluruh Indonesia dari Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (24/3/2020).

Kebijakan pemerintah itu kemudian ditindaklanjuti dengan keputusan-keputusan teknis dalam rangka pembatasan aktivitas sosial dan pengambilan jarak aman antarwarga. Anak sekolah diliburkan, diganti dengan belajar online di rumah. Masyarakat diimbau untuk bekerja di rumah dan membatasi kegiatan di luar rumah. Kegiatan yang mengumpulkan orang banyak pun dibatasi, bahkan dilarang (meski terbatas) MUI dan ditindaklanjuti oleh beberapa kepala daerah, termasuk Wali Kota Kediri (25/3/2020) bahkan melarang diselenggarakannya salat Jumat berjamaah di masjid tertentu untuk sementara waktu. Tempat-tempat hiburan pun ditutup sementara atau dibatasi aktivitasnya.

Meski keputusan-keputusan itu agak kontroversial, memancing debatable, dan tidak serta merta diindahkan oleh warga (karena dianggap merugikan), namun secara umum mayoritas warga mematuhinya. Akan tetapi, pemerintah mesti juga harus memikirkan bagaimana kebijakan-kebijakan pembatasan kegiatan diluar rumah itu tidak merugikan warga. Bagaimana agar warga yang pekerjaan sehari-harinya memang harus keluar rumah seperti bertani, berdagang, karyawan, ojek (online dan non-online), dan sebagainya tetap bisa menjalankan aktivitas ekonominya itu. Kecuali negara mampu memberikan kompensasi atas kerugian yang dialami akibat mematuhi kebijakan pembatasan aktivitas ini.

Empati pemerintah terhadap pengorbanan warga diharapkan dapat membangkitkan partisipasi masyarakat dalam memerangi pandemi ini. Dengan partisipasi masyarakat,  dimulai dari individu warga dan keluarganya, serta didukung sinergi semua pihak, kita akan mampu mengalahkan korona. Dengan begitu kita bisa berharap pandemi korona di Indonesia ini akan segera berakhir dan kehidupan kita pun kembali normal seperti sedia kala. Semoga.  (Penulis adalah Dosen Uniska Kediri, Alumnus Pascasarjana MAP-UGM, Direktur Pusat Studi Administrasi Publik, Aktivis Ormas Kediri, dan Mantan Ketua Lakpesdam NU Kab. Kediri).

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia