Jumat, 03 Apr 2020
radarkediri
Home > Politik
icon featured
Politik

TBC di Kediri: Jangan Sampai Jadi Resisten Obat

25 Maret 2020, 14: 15: 59 WIB | editor : Adi Nugroho

Waspada TBC

Waspada TBC (radarkediri)

Share this          

KABUPATEN, JP Radar Kediri - Tuberkulosis atau lebih dikenal TBC/TB memang menjadi salah satu penyakit menular yang paling berbahaya di dunia. Apalagi jika sampai resisten obat (RO) maka bakal lebih lama penanganannya.

Di Kabupaten Kediri, dari data Dinas Kesehatan (Dinkes), pada 2019 total ada 1874 penderita TB yang sudah selesai pengobatan. Mereka telah menjalani pengobatan selama 6 bulan. Total angka itu belum termasuk 21 penderita dalam kategori TB RO. Sebab, mereka yang sudah masuk kategori itu bakal lebih lama pengobatannya.

Dari keterangan Plt Kepala Dinkes Kabupaten Kediri Bambang Triono Putro, untuk penderita TB RO ada evaluasi tersendiri. “Hal ini karena waktu pengobatan yang berbeda. Bisa 9 sampai 24 bulan, itu tergantung kondisinya,” jelas Bambang.

Memang, kasus TB RO itu akibat kuman mycobacterium tuberculosis sudah resisten. Ditambah dengan pengobatan tidak intens, termasuk tidak minum secara teratur, atau cara minum obat yang salah.

Sehingga, kasus TB RO ini dikategorikan jenis penyakit TBC yang pasiennya sudah kebal terhadap suatu jenis obat. Langkah yang bisa diambil memang harus mengonsumsi obat lain dengan reaksi atau efek samping yang lebih berat. Bahkan penanganannya juga lebih lama dibandingkan TB biasa. “Diharapkan pasien TB bisa mematuhi jadwal minum obat secara teratur,” terangnya.

Dari keterangan Bambang, 1.874 kasus TB di Kabupaten Kediri ini baru mencapai target 68,1 persen. Dari target awal 2.753 kasus yang harus ditemukan. Kemudian untuk yang sudah selesai pengobatan atau sudah sembuh untuk pasien 2018 mencapai 92,5 persen. Sehingga tak lebih dari 10 persen mereka yang berhenti pengobatan atau ada yang meninggal dunia.

Dari kasus yang terjadi selama ini, ternyata masih banyak mereka yang mengidap penyakit TB tidak berani melaporkan penyakitnya ke petugas kesehatan. Padahal risiko kematian akibat penyakit yang disebabkan oleh mycobacterium tuberculosis tersebut sangatlah tinggi.

Sementara upaya yang dilakukan dinkes tentunya mencari sebanyak mungkin orang yang diduga suspect TB. “Yakni dengan investigasi kontak, jadi setiap kita menemukan satu penderita TB, maka kita akan cari orang di sekitarnya yang mempunyai gejala TB,” jelas Bambang.

Kemudian, selain investigasi kontak di puskesmas, dinkes juga bekerja sama dengan dokter praktik mandiri agar yang ditemukan di dokter tersebut bisa terlaporkan ke dinkes. “Tujuannya agar bisa mencari suspect investigasi kontak dari pasien yang dilaporkan tadi,” tambahnya.

Selain itu. dinkes  juga menggandeng LSM kesehatan untuk membantu mencari suspect TB di masyarakat.

Memang untuk penyakit TB ini tidak bisa dihitung kumulatif. Artinya jumlah penderita tahun kemarin bisa saja berkurang untuk tahun ini. Karena penyakit TB bisa disembuhkan dalam waktu beberapa bulan pengobatan. Hal ini berbeda dengan penderita HIV-AIDS yang jika sudah terserang tidak bisa disembuhkan. Hanya bisa diperlambat perkembangan virus yang menyerang saja.

Mereka yang bisa sembuh, Bambang menegaskan bahwa tidak lepas dari kedisiplinan ketika melakukan pengobatan. Si penderita selalu mengindahkan apa yang dianjurkan petugas dalam melakoni metode penyembuhan yang disarankan. Termasuk dalam hal mengonsumsi obat yang diberikan dokter.

Dalam upaya pengendalian penyakit menular, fenomena menurunnya angka kesembuhan ini perlu mendapat perhatian besar karena akan memengaruhi besarnya penularan penyakit TB. Hal inilah yang menjadi pekerjaan rumah bagi semua kalangan baik masyarakat dan pemerintah untuk bersinergi memerangi penyakit menular tersebut.

Sementara sesuai tema hari TB tahun ini, Bambang menyampaikan bahwa sedini mungkin harus bisa menangani kasus tersebut. “Saatnya anak Indonesia bebas TB untuk Indonesia unggul’ merupakan tema tahun ini. “Jadi ini memang anak rentan terinfeksi TB apalagi orangtuanya terinfeksi, maka anak sedini mungkin dilakukan pencegahannya,” jelasnya.

Memang untuk TB ini salah satu cara memutus rantai penularan, apabila ada masyarakat yang gejala batuk berdahak 1 – 2 minggu segera datang ke faskes terdekat. “Tidak hanya puskesmas saja, tapi klinik swasta bisa mendukung dalam pencegahan penyakit ini,” tambahnya.

Terlebih saat ini untuk pengobatan TB gratis dan ditanggung pemerintah. Terkait kesehatan pasien, peningkatan gizi masyarakat terutama yang menderita TB sangatlah penting. Termasuk kebersihan lingkungan, adanya ventilasi di rumah agar pencahayaan bisa masuk, bisa mendukung berkurangnya bakteri penyebab TB. “Etika batuk juga harus disampaikan, tidak di sembarang tempat, menutup hidung dan mulut dengan tisu atau lengan,” pungkasnya.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia