Jumat, 03 Apr 2020
radarkediri
Home > Features
icon featured
Features

Saat Perayaan Nyepi Terasa Beda karena Covid-19

Buat Ogoh-Ogoh pun Tak Lagi Maksimal

25 Maret 2020, 11: 03: 24 WIB | editor : Adi Nugroho

ogoh ogoh

SIAP DIBAKAR: Ogoh-ogoh yang disiapkan untuk menjadi bagian perayaan Nyepi di Desa Bangsongan, Kecamatan Kayenkidul. (Rendi Mahendra - radarkediri)

Share this          

Biasanya, sebelum perayaan Nyepi yang jatuh hari ini, ada prosesi arak-arakan ogoh-ogoh. Tapi, karena dilarang, ogoh-ogoh pun langsung dibakar. Langkah ini dilakukan demi keselamatan bersama.

RENDI MAHENDRA, KABUPATEN, JP Radar Kediri

Tak hanya umat Hindu yang membuat ogoh-ogoh, tapi di Desa Bangsongan, Kecamatan Kayenkidul, umat agama lain juga membuat ogoh-ogoh.  Misalnya Sutrisno, 50, yang beragama Islam, di halaman rumahnya yang berada di pinggir Sungai Brantas itu terdapat tiga ogoh-ogoh.

Salah satu dari tiga ogoh-ogoh tersebut berbentuk unik yakni berbentuk tikus yang dililit ular. Menyimbolkan ular yang mati karena dililit oleh ular. Ogoh-ogoh tersebut menurut Sutrisno untuk tolak bala hama tikus yang menyerang sawah di desa tersebut.

“Untuk tolak bala ini, permintaan dari warga sekitar. Agar hama tikus di sawah bisa hilang,” jelas Sutrisno yang beralamat di Dusun/Desa Bangsongan, Kayenkidul.

Sementara di desa tersebut kalangan anak muda yang beragama Islam juga ada yang ikut membuat ogoh-ogoh. Salah satunya yakni Muhammad Rifai, 19, yang bersekolah di SMA Negeri 1 Papar. Ogoh-ogoh yang dibuatnya beserta pemuda lain dititipkan di rumah Sutrisno.

“Biasanya yang mengarak tak hanya umat Hindu. Tapi anak-anak yang beragama Islam nanti juga ikut mengarak. Kan ini untuk solidaritas,” jelas Rifai.

Tapi, karena ada imbauan terkait tak boleh mengarak ogoh-ogoh, Rifai beserta pemuda lainnya mengaku kecewa. Sehingga ogoh-ogoh tersebut tak dibikin secara maksimal. “Mau dihias lebih bagus lagi kurang semangat. Karena nanti ini langsung dibakar kayaknya Mas. Ini kan tanggal 24, nah nanti malam itu kita membakarnya,” jelas Rifai.

Sementara di teras rumah Muji, 33, Dusun Maron, Desa Senden, Kecamatan Kayenkidul, juga terdapat sebuah ogoh-ogoh yang belum jadi.

Ogoh-ogoh tersebut berdiri di atas kayu penyangga. Serta sebuah Ogoh-ogoh lagi berada di halaman rumah tetangganya berjarak sekitar 10 meter dari rumahnya. Kedua Ogoh-ogoh hasil kerajinan Muji itu belum selesai.

Ogoh-ogoh yang berada di teras Muji berukuruan kecil tingginya sekitar 1 meter berwarna kuning polos. Ogoh-ogoh tersebut masih dalam proses pewarnaan. Sementara Ogoh-ogoh yang  berada di halaman rumah tetangganya berukuran besar tigginya sekitar 3 meter, dicat warna biru. Juga masih dalam proses pewarnaan.

“Jadi untuk mempercantik itu, ya, semangatnya kurang Mas. Tadi kan rencananya mau dilomba. Tapi gara-gara ada penyakit itu, tidak jadi. Terus terang, saya kecewa,” terang Muji.

Menurut Muji, karena imbauan untuk tidak mengarak ogoh-ogoh membuat semangatnya untuk menyelesaikan jadi berkurang. Imbauan untuk tak mengarak tersebut terkait dengan wabah virus corona atau Covid-19. Nyaris semua kegiatan yang berkaitan dengan kerumuman dibatalkan. Termasuk ritual mengarak ogoh-ogoh bagi yang bagi umat Hindu merupakan simbol tolak bala.

Muji membuat ogoh-ogoh tersebut sejak awal Februari. Sementara biaya untuk membuat ogoh-ogoh tersebut tergantung seberapa besar ukurannya. Semakin besar, biaya pembuatannya pun makin mahal.

“Ini saya buat sendiri seperti sirahe, wajahe, badannya ini juga. Rata-rata biaya pembuatannya kalau yang kecil itu Rp 500 ribu. Kalau yang agak besar itu biayanya Rp 1,5 juta,” jelas Muji yang letak rumahnya selemparan batu dari Pura Empu Sedah.

Tak hanya Muji yang kecewa dengan imbauan untuk tak mengarak ogoh-ogoh, Panji, 21, pun juga kecewa. Berbeda dengan ogoh-ogoh Muji yang belum selesai, ogoh-ogoh yang dibikin Panji sudah selesai. Ogoh-ogoh berukuran sekitar 1,5 meter itu tampak hidup. Dengan polesan bermacam-macam warna, serta berhiaskan pakaian.

“Pembuatannya sekitar 30 hari ini, kalau biaya Rp 1 juta ke atas. Yang membuat ini bapak, sama saya, dan kadang dibantu oleh tetangga,” jelas Panji.

Menurut Panji, biasanya jika tak ada imbauan untuk tidak mengarak, umat Hindu di Dusun Maron tersebut mengarak ogoh-ogoh hingga keluar desa. “Biasanya pas malam Nyepi itu, kita arak sampai keluar desa Mas. Setelah itu dibakar di Sungai Tangkis, untuk menolak bala itu,” jelas Panji.

Namun menurut Panji, akan ada rapat antara pemerintah desa (pemdes), dan tokoh Hindu akan mengadakan musyawarah. “Nanti malam masih ada rapat lagi . Belum tahu nanti gimana, tapi harapannya bisa diarak, kalau tidak boleh keluar desa, di dalam desa saja. “Kalau tidak diarak ya eman-eman, karena biayanya itu kan mahal, biayanya ini urunan sama umat,” pungkas Panji.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia