Jumat, 03 Apr 2020
radarkediri
Home > Politik
icon featured
Politik

Update Covid-19 di Kediri: Wali Kota Keluarkan SE, Pemkab Libatkan RT

25 Maret 2020, 10: 39: 45 WIB | editor : Adi Nugroho

wali kota kediri korona

STERILISASI: Wali Kota Kediri Abdullah Abu Bakar melakukan penyemprotan disinfektan di masjid Pondok Lirboyo, kemarin. Dandim Dwi Agung dan Kapolresta Miko Indrayana juga ikut serta dalam kegiatan tersebut. (Iqbal Syahroni - radarkediri)

Share this          

KABUPATEN, JP Radar Kediri - Perkembangan kasus Covid-19 di Kabupaten Kediri hingga kemarin menunjukkan peningkatan. Setelah adanya pasien yang dinyatakan positif terjangkit korona, kemarin ada dua orang berstatus pasien dalam pengawasan (PDP) yang sedang dirawat di Rumah Sakit Umum Kabupaten Kediri (RSKK) di Pare.

Meski telah ada yang dinyatakan positif dan sedang dirawat di RSKK Pare, Plt Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kediri Bambang Triono Putro menegaskan untuk Kabupaten Kediri statusnya masih tetap, belum meningkat. “Status tetap siaga darurat karena yang positif warga Blitar,” kata Bambang.

Untuk pasien yang dinyatakan positif itu, menurut Bambang, kondisinya semakin membaik. Termasuk untuk satu pasien dalam pengawasan (PDP) lain yang juga berasal dari Kabupaten Blitar di RSKK juga dalam keadaan baik.

Covid 19 Kediri

Covid 19 Kediri (Ilustrasi: Afrizal - radarkediri)

Dari data terbaru hingga tadi malam pukul 20.00 WIB, PDP di Kabupaten Kediri dari yang sebelumnya tercatat 2 orang sekarang ada 4 orang. Tambahan dua orang itu kini sedang dirawat di RSKK Pare. Sementara dua orang lain sudah dinyatakan sembuh dan dipulangkan.

Sesuai keterangan pada informasi Covid-19 Pemerintah Kabupaten Kediri, PDP yang dirawat memang dilihat sesuai kriteria. Yakni orang telah mengalami infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Yaitu demam lebih dari atau sama dengan 38 celcius. Atau memiliki riwayat demam disertai salah satu gejala atau tanda penyakit pernapasan seperti batuk, sesak napas, sakit tenggorokan, pilek, dan pneumonia ringan hingga berat.

Selain PDP, untuk Orang Dalam Risiko (ODR) dan Orang Dalam Pemantauan (ODP) juga mengalami peningkatan. OPD di Kabupaten Kediri hingga tadi malam adalah 32 orang. Meningkat 13 orang dibanding satu hari sebelumnya yang hanya 19 orang. Sementara untuk kasus ODR meningkat lebih dari 200 orang. Dengan total 763 orang dinyatakan dalam risiko. Rinciannya, 594 dalam proses pemantauan dan 169 orang telah selesai pemantauan.
Untuk ODR memang orang tanpa gejala seperti demam, batuk, dan pilek. Namun memiliki riwayat perjalanan dari daerah terjangkit Covid-19. Di Kabupaten Kediri penerapan deteksi dini itu melalui pengawasan dari ketua RT masing-masing wilayah. Ini setelah Gubernur Jawa Timur menetapkan kondisi darurat virus korona.

Seperti yang disampaikan Bupati Kediri Haryanti, deteksi dini diperlukan meskipun kondisi warga asli Kabupaten Kediri saat ini tidak ada pasien positif korona. Deteksi dini penyebaran korona dengan bantuan ketua RT. Para ketua RT tersebut yang akan melakukan pendataan terhadap warganya. Mulai dari warga yang mungkin baru saja bepergian ke kota atau wilayah yang dinyatakan zona merah.

Menurut Haryanti, hal ini langkah pencegahan dan deteksi dini bagi warga mulai dari tataran paling bawah di masyarakat. “Melalui Ketua RT agar melakukan pendataan dan pelaporan secara bertahap mengenai warganya, apakah baru saja bepergian dari kota termasuk zona merah corona,” jelas Haryanti

Setelah ada laporan dari RT, pihak medis dari puskesmas akan melakukan penilaian. Serta tindakan medis yang diperlukan sesuai dengan laporan. Apakah itu pemeriksaan kesehatan, sosialisasi kesehatan, hingga perawatan medis jika diperlukan.

Di Kota Kediri, upaya melawan persebaran virus korona juga kian digalakkan. Selain terus melakukan antisipasi dengan penyemprotan disinfektan di fasilitas umum dan tempat ibadah, wali kota juga mengeluarkan surat edaran (SE). Isinya, menunda untuk sementara semua kegiatan keagamaan di tempat ibadah.

“Sudah saya keluarkan surat, untuk pertemuan dengan melibatkan massa banyak, seperti pengajian, lebih baik distop dulu,” terang Wali Kota Abdullah Abu Bakar, di sela-sela kegiatan penyemprotan tempat ibadah kemarin.

Surat edaran tersebut bernomor 443.2/095/419.012/2020, tentang Penundaan Sementara Kegiatan Keagamaan di Tempat Ibadah. Surat edaran itu bertanggal 23 Maret 2020. Batas waktunya belum ditentukan. Melihat perkembangan kasus Covid-19.

Klik di sini untuk saksikan video Covid 19 di Radar Kediri TV (RKTV) >>>

Selain mengeluarkan SE, kemarin Abu bersama dengan jajaran Forum Komunikasi Pemerintah Daerah (Forkompimda) Kota Kediri juga melakukan penyemprotan rumah ibadah. Kegiatan ini merupakan kelanjutan dari upaya pemkot menyemprotkan disinfektan di fasilitas-fasilitas umum yang dilakukan sebelumnya.

“Mulai pasar, terminal, stasiun, kantor, dan kali ini tempat ibadah,” terang Abu.

Yang disemprot juga menyeluruh. Setiap sudut ruangan gereja dan masjid. Tak terkecuali  ruang imam dan khotib, tempat duduk, lantai dalam dan luar, kacam serta dinding rumah ibadah. Jendela, pintu, dan pegangan tangga pun tak luput dari penyemprotan.

Selain melakukan penyemprotan, tim juga memberi sosialisasi dan edukasi pada pengurus rumah ibadah tersebut. Terutama bagaimana cara membuat disinfektan sendiri. Agar mereka bisa melakukannya secara rutin.  “Nantinya tetap kita lakukan sosialisasi dan edukasi untuk terus melakukan penyemprotan secara rutin,” tegasnya.

Ikut dalam penyemprotan kemarin adalah Kapolres Kediri Kota AKBP Miko Indrayana dan Komandan Kodim 08/09 Kediri Letkol Kav Dwi Agung Sutrisno. Juga Ketua Satgas Covid-19 dr Fauzan Adima serta Sekda Budwi Sunu. Tempat yang jadi sasaran mulai dari Gereja Getsemani di Jalan Hasanudin hingga masjid di area Pondok Pesantren Lirboyo.

Pengurus Pondok Pesantren Lirboyo KH Abdul Muid Shohib menjelaskan bahwa semua kegiatan pondok dibatalkan. Mereka juga mempercepat libur para santri. “Semestinya pertengahan bulan, kami ubah ke awal April,” terang Gus Muid, sapaan KH Abdul Muid Shohib.

Klik di sini untuk saksikan video Covid 19 di Radar Kediri TV (RKTV) >>>

Di dalam pondok mereka juga mengikuti anjuran pemerintah seperti physical distancing, pola hidup sehat dengan olahraga, dan tentunya, berdoa. Selain itu santri tak boleh keluar ke mana-man. Setiap pintu masuk selalu dijaga. Orang yang hendak masuk ke area pondok juga diseleksi. Kalau keadaan terpaksa mereka menerapkan protokol pengamanan. Yaitu cuci tangan dan sterilisasi kendaraan.

Selain itu, pemkot juga membagi-bagikan sabun cuci tangan ke elemen masyarakat. Terutama yang tak bisa bekerja di rumah. Seperti tukang  tambal ban, tukang becak, pedagang asongan, dan warung-warung. Total ada 420 botol sabun cuci tangan yang dibagikan oleh relawan.

“Selain kami bagikan juga kami edukasi bahwa agar terus menjaga kesehatan dan kebersihan diri,” terang Kabid Trantibum Satpol PP Nur Khamid.

Korona Kabupaten Kediri dalam Angka

Jumlah ODR                  763

- Proses Pemantauan     594
- Selesai Pemantauan     169

Jumlah ODP                  32

- Proses Pemantauan     29
- Sehat                           3

Jumlah PDP                            4

- Masih Dirawat             2
- Pulang dan Sehat                  2

Sumber: www.covid19.kedirikab.go.id

Data hingga Selasa (24/3) pukul 20.00 WIB

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia