Jumat, 03 Apr 2020
radarkediri
Home > Features
icon featured
Features

Warga Perumahan Asabri di Ngablak yang Sudah 3 Kali Langganan Banjir

Rumah pun Siap Jadi Tempat Pengungsian Balita

25 Maret 2020, 10: 05: 31 WIB | editor : Adi Nugroho

ngablak banjir

TERGENANG: Perumahan di Ngablak yang juga terimbas banjir. (Samsul Abidin - radarkediri)

Share this          

Kali kesekian, Perumahan Asabri yang berada di Desa Ngablak, Kecamatan Banyakan ini kebanjiran. Karena sudah sering dialami, warga pun mulai terbiasa dan sudah tahu apa yang dilakukannya, termasuk menyiapkan tempat pengungsian.

SAMSUL ABIDIN, KABUPATEN, JP Radar Kediri

Dari depan pintu masuk perumahan, terpampang tulisan Perumahan Asabri yang mentereng. Tak banyak yang tahu, di sekeliling tanaman tebu yang menjulang tinggi tersebut ada perumahan yang ditinggali 87 jiwa.

Perumahan yang tampak begitu minimalis namun begitu elok dipandang, saat itu justru tergenang air banjir. Akibat jebolnya tanggul Kali Bendokrosok yang tak mampu menahan luapan air yang begitu deras dari lereng Gunung Wilis.

Pagi itu (23/3) sekitar pukul 10.00 WIB, suasana perumahan Asabri masih  banjir. Bahkan masih sepinggang orang dewasa. Nampak beberapa berkerumun untuk melihat banjir tersebut.

Di sisi lain, nampak beberapa anak tengah asyik berenang di tengah jalan perumahan, yang saat ini bak kolam renang dengan air keruh coklat yang penuh lumpur.

Dari kejauhan nampak sepasang suami istri, yang juga tengah asyik berjibaku dengan air dan lumpur di rumahnya. Rumah berlantai dua tersebut dihuni oleh Wiwik dan juga Imam Syafi’i. “Dari mana mas?,” ucap keduanya ramah sembari mencuci sofa yang tampak dipenuhi lumpur.

Keduanya lantas mempersilahkan masuk melihat kondisi rumahnya yang tampak begitu berantakan akibat diterjang air banjir. “Ya seperti inilah mas, ini sudah ketiga kalinya juga,” ujar Wiwik, perempuan berambut panjang tersebut.

Lantas ia bersama sang suami menceritakan, kejadian banjir yang tiba-tiba menerjang perumahan yang sudah mereka tinggali sejak 2017 lalu. Menurut keduanya, kejadian ini sudah ketiga kalinya (22/3). Sebelumnya, 29 Februari 2020 lalu sudah terjadi banjir karena penyebab yang sama, yakni tanggul jebol. Namun, sekarang ini paling parah.

“Kemarin Minggu (22/3) itu di sini nggak hanya hujan Mas, cuma gerimis, tapi sekitar jam 22.00 WIB itu dari belakang terdengar suara gemuruh air. Kayak gerojokan air mancur, gruduk gruduk gruduk. Orang-orang saat itu tenang-tenang aja mas, dipikir airnya ke sungai,” jelasnya sembari menaruh teh kemasan.

Ternyata, dugaan mereka salah. Air yang dikira bakal mengalir ke sungai, malah tiba-tiba mulai memasuki rumah para warga. Kondisi ini membuat para penghuni rumah kocar kacir menyelamatkan barang-barangnya.

Klik untuk melihat video Radar Kediri TV (RKTV) tentang Banjir Ngablak >>> 

“Air masuk dari barat Mas, langsung tinggi. Kalau gak ada (lahan) tebu, jebol kabeh mas,” sahut Imam yang tengah membersihkan kursi. Lantas perlahan masuk lewat belakang rumah masing-masing warga. Dulu,  banjir juga sempat menerjang rumah keduanya. Bahkan sampai membuat pintu-pintu rusak. Namun tak separah kali ini yang sampai 1,5 meter.

Menurut keduanya, sebelumnya sudah ada himbauan dari kepala dusun untuk segera bersiap menghadapi air bah yang menerjang. “Tanggule jebol, tanggule jebol!” ujar Imam di kursi kayunya menirukan teriakan kepala dusun. Namun, warga masih enggan untuk bersiap, begitu air tiba jadi kelabakan semua. Karena sudah mencapai pinggang orang dewasa.

“Dari semalam hanya bisa tidur sebentar,” ucapnya. Ia menambahkan beberapa warga dan anak-anak lantas diungsikan ke Balai Desa Nglabak. Dan diberi bantuan air dan susu kemasan. Namun, sampai kemarin (23/3) belum ada bantuan yang diterima, cuma dari relawan Desa Jabon diberi nasi satu kotak.

Bahkan, sebelumnya rumah Wiwik sempat menjadi tempat pengungsian sementara untuk anak-anak Balita. Ada sekitar enam balita yang diungsikan malam itu. “Kemarin malam itu ada yang mau ngungsi Mas, jalan kaki sampai pertengahan jalan perumahan. Kan itu sudah setinggi dada orang dewasa, anaknya nangis. Akhirnya dibawa ke sini naik ke atap lantai 2,” tuturnya sembari membersihkan lumpur.

Saat itu tengah malam pukul 24.00 WIB, kondisi juga tak memungkinkan akhirnya sementara waktu istirahat di lantai 2 yang tak begitu luas. “Balita semua di sini, ada yang 7 bulan, 2 tahun, 5 tahun dan anak saya masih SD semua,” terangnya.

Klik untuk melihat video Radar Kediri TV (RKTV) tentang Banjir Ngablak >>> 

Sebenarnya, warga perumahan tersebut saling mendukung satu sama lain. Masalahnya hanya banjir yang sering melanda. Bahkan beberapa kali ada hewan melata yang memasuki rumah. Warga juga mengeluhkan fasilitas yang dirasa masih kurang. Seperti pagar pembatas, musala dan taman yang tak dibangun. “Minta diperhatikan Mas, kalau setiap tahun terkena banjir seperti ini. harapannya tanggul segera diperbaiki dengan yang lebih kuat dan tahan gempuran air,” pungkasnya.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia