Jumat, 03 Apr 2020
radarkediri
Home > Features
icon featured
Features

Widi Asri, dari Buruh Migran menjadi Perajin Bunga Sabun

Sehari Bisa Kuasai Satu Jenis Bunga

23 Maret 2020, 19: 38: 28 WIB | editor : Adi Nugroho

widi asri

INDAH: Widi Asri menata bunga sabun hasil karyanya. Keterampilannya membuat kerajinan bernilai jual itu diperoleh saat jadi buruh migran di Brunei Darussalam. (Habibah Anisa - radarkediri)

Share this          

Membuat bunga anggrek dan matahari memerlukan ketelitian yang ekstra. Karena kedua jenis tersebut memiliki banyak detail dibanding dengan bunga lainya.

HABIBAH A. MUKTIARA, Kabupaten JP Radar Kediri

Perempuan berkerudung hitam duduk di kursi ruang tamu. Jemari tangannya terlihat sibuk. Memegang benda berwarna kuning. Sesaat kemudian benda yang semula berbentuk bulatan itu berubah. Menjadi sekuntum bunga.

“Ini adalah bunga sabun,” ucap wanita bernama lengkap Widi Asri tersebut. Sembari tangannya menunjukkan bunga yang baru selesai dia buat.

Jika dilihat sekilas, bunga tersebut seperti terbuat dari clay atau malam. Namun, ketika dipegang, samar-samar tercium bau wangi dari bunga tiruan tersebut. Wangi harum itu akhirnya terkuak asalnya setelah perempuan berusia 29 tahun tersebut menjelaskan asal bahan bunga buatan itu. Bahwa bunga tersebut dari sabun batang.

“Usaha bunga sabun ini baru berjalan satu bulan,” terangnya.

Kemampuan Widi membuat hiasan bunga sabun itu ternyata diperoleh dari negeri nun jauh. Brunei Darussalam. Tepatnya ketika dia menjadi buruh migran di negerinya Sultan Hasanah Bolkiah tersebut.

Saat itu 2015. Sebagai tenaga kerja wanita (TKW) asal Indonesia dia bekerja di Safaa Enterprise. Satu toko yang khusus membuat dan menjual hiasan bunga dari sabun. Di Tanjong Bunut, salah satu area komersial di Distrik Muara.

Perempuan kelahiran 1991 ini bercerita kerajinan bunga sabun sangat populer di negara jiran tersebut. Di negara itu namanya soap flower. Kerajinan ini punya kelebihan. Selain bentuknya yang indah juga memiliki aroma harum yang bertahan lama. “Tahan hingga tiga bulan. Jika wanginya sudah hilang bisa diberi pengharum berbentuk cairan,” terangnya.

Awalnya, dia diajari membuat satu bunga. Sebenarnya, dalam sehari dia sudah mampu mempelajarinya. Namun, agar sempurna, perlu waktu seminggu belajar membuat bunga sabun tersebut.

Widi sudah mampu membuat banyak jenis bunga. Mulai mawar, carnation, orenge blossom, poppy, lily, tulip, matahari, dan anggrek. Menurutnya, dari semua bunga yang pernah ia buat, anggrek dan matahari memerlukan ketelitian yang ekstra. Karena kedua bunga tersebut memiliki banyak detail dibanding dengan bunga lainya.

Walaupun bernama bunga sabun tapi tidak semata-mata terbuat dari sabun. Juga ada campuran bahan lain. Seperti lem putih, dan pewarna. Bahan-bahan itu juga berisiko membuat iritasi pada kulit. Terasa panas hingga mengelupas.  “Namun lama-lama akhirnya terbiasa,” imbuhnya.

Setelah 4 tahun delapan bulan di negeri orang, Widi akhirnya pulang ke kampungnya, di Desa Plaosan, Kecamatan Wates. Waktunya Januari lalu. Dia pun berupaya menerapkan keterampilan yang dia dapatkan.

Awalnya, dia banyak menemui kendala. Apalagi bunga sabun belum begitu terkenal di Kediri. Butuh sebulan untuk mempersiapkan bahan-bahannya.

“Ada bahan yang tidak ada di sini. Jika di Brunei menggunakan lem Latex kalau di sini pakai lem Fox,” tutur anak kedua dari dua bersaudara itu.

Beda merek tentu beda komposisi. Bila di Brunei adonan didiamkan selama setengah hari langsung keras, tidak demikian bila menggunakan lem Fox. Butuh waktu seharian alias 12 jam agar menjadi keras.

Karena bisnisnya tergolong baru, Widi harus ekstra keras memasarkannya. Dia pun melakukan pemasaran via online. Dia pun berharap agar keterampilan bunga sabun ini bisa menjadi salah satu UMKM. Kemungkinan itu terbuka karena dia juga bersiap menjadi narasumber pelatihan di desanya.  

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia